8 Syarat dan Tata Cara Istinja (Cebok) Menggunakan Batu

Seperti yang kita ketahui, istinja’ setelah buang air besar dan buang air kecil adalah wajib.

Tsaqafah.id – Sejak pembukaan pada tanggal 1 Ramadhan kemarin, kegiatan belajar mengajar Nyantri Kilat resmi dimulai. Diampu oleh Ustadz M. Faried Nabil, M.H, kelas perdana #NyantriKilat diisi dengan pembahasan kitab fiqh Safinatun Naja karya ulama Salim bin Sumair al-Hadhrami.

Setelah memberi muqodimah dan sedikit menjelaskan materi akidah yang ada di awal kitab, Ustadz Faried Nabil mulai membahas fasal-fasal thoharoh. Berikut sedikit rangkumannya:

Pembahasan thoharoh dalam kitab Safinatun Naja diawali dengan fasal istinja’. Seperti yang kita ketahui, istinja’ setelah buang air besar dan buang air kecil adalah wajib. Meski istinja’ menggunakan air lebih utama, diperbolehkan juga istinja’ menggunakan batu dengan 8 syarat.

Syarat yang pertama; Istinja’ menggunakan batu diperbolehkan dengan syarat minimal menggunakan 3 buah batu atau satu batu dengan 3 sisi yang berbeda.

Baca Juga: Aktivitas-Aktivitas Sunnah Ketika Berpuasa

Ustadz Faried Nabil menjelaskan bahwa batu yang dimaksud bukan hanya batu secara harfiyyah. Maksudnya benda-benda yang bisa dianggap sebagai batu juga boleh digunakan untuk bersuci. Yaitu benda-benda yang suci, padat, bisa mengeringkan najis, dan bukan merupakan barang yang dimuliakan, seperti tisu. Sedangkan barang yang tidak memenuhi syarat seperti buku atau makanan.  

Syarat yang kedua adalah benda tersebut bisa membersihkan tempat keluar . . . . . . najis. Sekiranya sudah tidak ada lagi bekas najis kecuali bekas-bekas yang memang hanya bisa dibersihkan dengan menggunakan air.

Syarat yang ketiga; Diperbolehkan beristinja’ menggunakan batu hanya sebelum najis dari buang air besar atau buang air kecil mengering. Bekas najis yang sudah mengering tidak bisa dihilangkan dengan batu, maka harus beristinja’ dengan air.

Keempat; Beristinja’ dengan batu diperbolehkan jika najis tidak berpindah dari tempat pertama najis tersebut keluar.

Baca Juga: Pengajian Gus Baha: Tidurnya Orang Puasa Apa Termasuk Ibadah?

Syarat yang kelima adalah tidak ada najis lain yang muncul. Maksudnya, tidak ada najis selain dari buang air besar atau buang air kecil yang muncul. Baik najis yang muncul tersebut najis kering maupun najis basah.

Syarat yang keenam disebutkan di kitab Safinatun Naja dalam kalimat “an laa yujaawiza shofhatahu wa hasyafatahu”. Yang dimaksud shofhah dan hasyafah dalam syarat ini adalah qubul dan dubur. Artinya, najis yang keluar tidak boleh mengenai bagian tubuh selain qubul dan dubur.

Yang ketujuh yaitu tidak terkena air baik sebelum atau setelah beristinja’ menggunakan batu. 

Syarat yang kedepalan, atau yang terakhir, adalah batu yang digunakan untuk beristinja’ merupakan batu yang suci.     

*Artikel ini diterbitkan atas kerjasama dengan Program #NyantriKilat

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Apabila Kita Terjun Kedalam Mimbar Virtual Agama

Next Article

Tips Mencuci Pakaian Secara Syar'i

Related Posts