cadar

Dear Sobatku Muslimah Bercadar, Kalian Tuh Wanita Penyabar dan Layak Dihormati

Baru-baru ini setelah wanita bercadar kembali menjadi sorotan lantaran kasus teror yang terjadi di Makassar pada hari Minggu lalu. Saya ingin mengabarkan, bahwa;


Tsaqafah.id – Sudah cukup lama saya berinteraksi dengan para muslimah yang mengenakan cadar (niqab), salah satunya adalah teman dekat saya. Kami saling mengenal dan menjadi dekat sejak bekerja di instansi yang sama. Awalnya saya berpikir ia adalah orang yang agak tertutup, namun rupanya terkaan itu salah besar.

Rupanya, meski mengenakan niqab, ia tetaplah perempuan yang supel dengan rasa keingintahuannya yang begitu besar. Ia sangatlah baik dan begitu mom-able, kadang ia menjadi sosok kakak yang penuh perhatian meski usianya lebih muda dari saya. Justru, selama ini saya yang lebih banyak belajar darinya.

Dengan suaranya yang begitu merdu, ia juga seorang ‘martir’ dalam dunia per-MTQ dan MHQ, sudah beberapa kali ia menorehkan prestasi dan deretan juara di bidang tersebut. Kini sebagai seorang pengajar, tentulah ia sudah cukup berpengalaman. Apalagi sejak remaja ia sudah dipercaya menjadi pengajar di pesantren-pesantren di kampung halamannya.

Baca juga: Berkeinginan Menghafal Al-Qur’an Bagaimana Sebaiknya?

Sewaktu bekerja bersama, ia juga satu-satunya pengajar favorit para santri. Meski bercadar pemikirannya sangat demokratis dan jauh dari kata ketertutupan.

Suatu ketika seorang santri mendatangi ruangan kami untuk mengadu tentang keberatannya jika diajar oleh seorang ustaz, maunya hanya diajar oleh pengajar perempuan. Namun karena kelas yang diambilnya hanya ada pengajar laki-laki tentulah permohonan itu tidak dapat dikabulkan. “Coba ditata lagi niatnya, ananda mau belajar kan,” ungkap teman saya yang bercadar itu. Ia melanjutkan bahwa di kelas, santri . . . . . . juga belajarnya bareng-bareng tidak sendirian, biasanya santri putra dan putri juga dibatasi satir yang tidak begitu lebar.

Waktu itu saya cukup dibuat kaget dengan argumennya, saya tidak menyangka dengan pola pikirnya yang amat demokratis sebagai seorang wanita bercadar yang sepengetahuan saya lebih ketat dalam menjaga interaksi sosialnya. Begitu berbeda dari apa yang kita dengar dan kita lihat dari pemberitaan di televisi tentang wanita bercadar.

Baca juga: Survei INFID dan Gusdurian: Anak Muda Makin Toleran tapi Juga Gamang

Baru-baru ini setelah wanita bercadar kembali menjadi sorotan lantaran kasus teror yang terjadi di Makassar pada hari Minggu lalu. Saya ingin mengabarkan, bahwa;

Berapa banyak keluarga, sahabat, dan kawan yang bercadar sangat jauh dari tindakan-tindakan brutal apalagi sampai ‘ngebom’. Mereka hidup dan berinteraksi seperti kita semua, tetap berjualan di pasar, tetap buka mebel, sekolah, dan tidak sedikit juga yang mengajar ngaji dan menjadi guru. Sungguh, sama seperti kita, kehidupan mereka normal-normal saja.

Untuk teman-temanku muslimah bercadar, kalian pastilah wanita-wanita penyabar dengan segala stereotype masyarakat yang melekat. Sungguh di negara yang demokratis ini, keputusan mengenakan pakaian sebagai penutup aurat, selayaknya dihormati sebagai pilihan individu.

Seorang tidak mempunyai andil besar pada orang lain untuk mengatur cara berpakaian seperti ini dan itu, terlepas dari tuntutan pendidikan atau pekerjaan. Setiap orang berhak mengenakan apapun sesuai dengan nilai-nilai yang mereka yakini dengan penuh kesadaran.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Bisakah Kita Melerai Kekerasan dari Islam?

Next Article

Sepilihan Puisi Fas Rori: Duka Kopi

Related Posts