Keutamaan Buruh Menurut Gus Baha’

Tsaqafah.id – Dalam perjalanan ke Jeddah, K.H. Bahauddin Nur Salim atau yang biasa disapa Gus Baha’ mendapati seseorang tengah membersihkan kamar mandi di bandara. Kamar mandi di bandara memang disiapkan selalu dalam keadaan tahir. Setiap ada yang buang air kecil atau besar akan lekas dibersihkan.

Melihat pemandangan tersebut menangislah Gus Baha’. “Andaikan aku ditakdirkan dalam keadaan seperti itu, apa tetap ridho terhadap Engkau?” ucap beliau.

Gus Baha’ membuat perumpaan seperti ini: ada orang yang ditakdirkan memiliki uang untuk umroh atau haji. Kira-kira untuk haji dia menghabiskan uang 30-60 juta. Apabila orang ini ditakdirkan kehilangan uang 60 juta akan mudah untuk melupakannya. Apalagi bagi mereka yang masih menyisakan harta lainnya.

Sementara apabila seseorang ditakdirkan menjadi orang yang bisa makan dengan hanya bekerja sebagai buruh, menjadi tukang bersih-bersih toilet mall atau bandara, maka ridho kepada Allah adalah hal yang sulit.

Apabila kedua orang ini dipertemukan dengan Allah kemudian Allah bertanya, “Kamu ridho uangmu yang 60 juta hilang?” “Ridho Ya Allah, memang uang itu saya gunakan untuk haji.” Ridho seperti ini gampang apalagi di rumahnya ada sisa harta lainnya.

Kondisi berbeda apabila Allah bertanya kepada buruh tadi, “Kamu ridho, seumur hidupmu Aku takdirkan susah, makan saja dari kerja bersih-bersih?” Ketika dijawab, “Saya ridho Ya Allah,” maka orang íni akan masuk surga terlebih dahulu daripada orang yang sudah berhaji atau wali sekalipun. Mengapa demikian? Karena ia berada dalam keadaan berat dan masih bisa ridho kepada Allah.

Baca Juga: Membaca Redaksi Adzan “Hayya alal Jihad” Melalui Kacamata Fikih

Orang yang makan menunggu pemberian orang lain lebih berat daripada orang yang kehilangan uang Rp.20.000 dari total Rp.100.000, karena ia masih memilki Rp.80.000 sisanya. Begitu dalam pandangan Gus Baha’.

Islam mengagumi ubudiyah, tetapi tidak perlu kita mengagung-agungkan bentuk ubudiyahnya. “Haji karena alim, jangan didewakan hajinya,” pesan Gus Baha’. Tugas orang alim adalah menyebarkan bentuk ibadah.

Menurut Gus Baha’, setan bisa dilemahkan dengan hal-hal seperti ini . . . . . . karena setan tidak memiliki cela untuk menggoda manusia. Seperti contoh orang susah yang masih bisa ridho dan bangga menjadi hamba Allah, orang kaya yang ridho juga akan bangga kepada Allah, caleg yang gagal juga bangga karena ridho akan kegagalannya. Karena inti dari perlawanan setan adalah ridho pada qada qadarnya Allah.

Nabi pernah berkata bahwa yang termasuk ke dalam orang-orang yang awal masuk ke surga adalah abdun mamlukun; budak yang dimiiliki. Memiliki dirinya sendiri saja dia tidak mampu, apalagi memiliki yang lainnya. Tidak mudah hidup ditakdirkan jadi buruh. Apa yang dimiliki setiap hari bukan miliknya, “Seperti apa tersiksanya psikologi buruh,” ucap Gus Baha’.

Dalam kasta ilmu hakikat kata budak atau abdun digunakan untuk melawan setan. Inna ibadi laisalaka alaihim sulton, orang yang berhasil jadi hambah-Ku (kata Allah) itu tidak akan bisa setan menguasai.

Baca Juga: Gus Baha: Keistimewaan Bahasa dan Sanad al-Qur’an

Nabi Muhammad dalam Al Qur’an semuanya diistilahkan dengan kata abdun, seperti dalam ayat subhanalladzi asyro biabdihi dan aroaitalladzi yanha abdan idza sholla. Semua bahasa Al Qur’an tentang Nabi Muhammad itu dengan kata abdun.

Menjadi Nabi Daud atau Nabi Sulaiman dengan keadaan kaya dan banyak selir itu lebih mudah daripada menjadi Nabi Muhammad. Rasulullah sejak kecil untuk makan saja harus jadi buruh mengembala kambing dan berdagang. Oleh karena itu Nabi Muhammad merupkan khotamunnabiyyin.

Saat kecil, Nabi Muhammad sudah ditinggal wafat kedua orang tuanya. Ikut bersama kakeknya kemudian diasuh oleh pamannya. Sejak kecil Nabi sudah harus bekerja, ikut saudara kandung saja sakit apalagi ikut dengan paman. Dalam falsafah orang Jawa, “Sesakit-sakitnya orang adalah orang yang tidak ikut orang tuanya sendiri.”

Bekerja menjadi buruh atau budak adalah hal yang berat. Tetapi merupakan pekerjaan yang mulia. Seperti yang dikatakan Gus Baha’ di atas, pekerja buruh yang bekerja dengan keras tetapi hatinya tetap iman dan ridho terhadap ketetapan Allah, akan memperoleh tiket ke surga terlebih dulu dibandingkan dengan orang ahli ibadah atau wali sekalipun.

Total
4
Shares
Previous Article

Membaca Redaksi Azan “Hayya alal Jihad” Melalui Kacamata Fikih

Next Article

Kisah Hidup Syaikh Mulla Romdlon Al-Buthi

Related Posts