Kisah Hidup Syaikh Mulla Romdlon Al-Buthi

Tsaqafah.id – Tumbuh dalam lingkungan orang-orang Kurdi, menjadikan Syaikh Romdlon kecil belajar dengan metode pembelajaran yang berlaku di kalangan masyarakat Kurdi.

Sebagai masyarakat Ajam (non-Arab), orang-orang Kurdi sangat memperhatikan terhadap pelajaran ilmu alat yang di dalamnya mencakup ilmu shorof, nahwu, balaghoh, manthiq, dll. Maka bagi siapa saja yang hendak belajar, mau tidak mau pertama-tama ia akan bertemu dengan pelajaran “tashrif” yang merupakan pelajaran dasar dalam ilmu shorof, kemudiam setelah itu baru mempelajari permasalahan lain dalam ilmu ini. Setelah selesai dalam belajar shorof, baru kemudian ia akan mulai belajar nahwu, dari tingkat dasar sampai tingkat lanjut.

Adapaun dalam mempelajari ilmu agama, perhatian mereka tertuju pada Ilmu Tauhid, dan kitab yang menjadi standar kelulusan adalah kitab ” Al Aqoid al Nasafiyyah”. Kemudian ada tafsir, dengan kitab tafsir karangan  Al Qodhi Al-Baidlowi sebagai rujukan utama. Kemudian ilmu fikih, yang dalam hal ini, pendapat Ibnu Hajar Al-Haitamiy-lah yang dianggap sebagai qoul mu’tamad, dan kitabnya yang berjudul ” Tuhfah al Muhtaj Ila Syarh al Minhaj” adalah kitab yang menjadi standar pembelajaran. Adapun dalam bidang Ushul Fikih, kitab yang menjadi rujukan bagi mereka adalah syarah-nya Imam Al Mahalli pada kitab “Jam’ al Jawami‘” karangan Imam Al Subki. Sedangkan fan ilmu lain, seperti ilmu mustholah hadist, sirah (Biografi), tasawwuf daniIlmu-ilmu Qur’an tidak mendapat perhatian khusus di kalangan mereka.

Faktor yang menjadikan orang-orang Kurdi memberikan perhatian yang sangat lebih kepada ilmu alat adalah kenyataan bahwa mereka adalah orang Ajam (non-Arab), sehingga dalam menghadapi ini, mereka beranggapan bahwa yang paling dasar yang harus dipelajari adalah ilmu tentang “tashrif” yang dianggap sebagai “pembuka bagi yang ingin berbicara bahasa Arab”. Sedangkan balaghoh merupakan ilmu tingkat tinggi dalam proses belajar ilmu alat. Adapun manthiq dan ilmu logika yang lain, mereka mempelajarinya karena ilmu ini dibutuhkan untuk memahami kitab-kitab yang mereka sukai yang didalamnya banyak terdapat “demonstrasi-demonatrasi logis” yang hanya bisa dipahami jika menguasai ilmu manthiq dan logika.

Menjadi sebuah keniscayaan bagi Mulla Romdlon kecil untuk mengikuti alur pembalajaran seperti ini, yang sudah berlaku di masyarakatnya. Keadaan ini menjadikan Mulla Romdlon kecil sangat perhatian kepada ilmu alat, dan dalam ilmu agama beliau cukup belajar satu kitab dari masing-masing fan.

Namun ketertarikan itu berubah setelah ia selesai mempelajari ilmu-ilmu alat tersebut dari sumber-sumbernya. Disaat kawan-kawan seangkatannya sibuk dalam belajar hal-hal detail dalam ilmu agama, dan mereka saling bersaing dalam memecahkan pelajaran-pelajaran yang sulit dan “njlimet”, Mulla Romdlon kecil justru sibuk nderes Al-Qur’an dan belajar bagaimana membacanya dengan benar, alih-alih menghafalkan kitab-kitab matan yang menjadi kegiatan teman-teman seangkatannya. Bahkan beliau tertarik untuk menghafalkan Al-Qur’an dan sudah mulai menghafalkannya . . . . . . sejak usia belia. Mulla Romdlon kecil hanya belajar fikih tentang hukum yang ia butuhkan saja. Di samping ketertarikannya pada Al-Qur’an, ia juga tertarik pada ilmu tasawwuf, dan kitab Ihya’ Ulumiddin karya Imam Al Ghozali adalah kitab dalam fan ini yang ia pelajari dan baca secara intens. Seperti halnya ia juga intens dalam mempelajari sejarah tentang Rasulullah SAW.

Baca juga:

Kebiasaan-kebiasaan Mulla Romdlon kecil untuk membaca Alquran dan belajar mengenai tasawwuf serta sejarah kehidupan Nabi menjadikan ia remaja yang gemar beribadah baik berupa ibadah wajib maupun sunnah.

Beliau pernah bercerita pada putranya, yaitu Syaikh Said Romdlon, bahwa pada saat masih remaja, di saat teman-temannya lebih sibuk dalam muthola’ah sehingga terkesan abai dalam ibadah sunnah,  ia justru mempunyai harapan besar yang tidak lumrah bagi remaja seusianya, yaitu bagaimana bisa menyisihkan waktu agar bisa melaksanakan sholat qiyamullail. Sampai pada saat harapan itu terwujud iapun sangat gembira atas keberhasilannya itu.

Karena kebiasaan dan ketertarikannya yang tidak sesuai dengan teman-teman seangkatannya itu, Mulla Romdlon kecil menjadi bahan ledekan diantara teman-temannya. Ia dianggap terlalu membebani diri dan bahkan ada yang menganggap bahwa ketertarikannya pada ibadah adalah akibat dari kekurangmampuannya dalam belajar dan tidak mampu bersaing dengan teman-temannya dalam memecahkan masalah-masalah yang ada pada kitab.

Syaikh Said Romdlon bercerita bahwa ayahnya pernah berkata “Sebenarnya aku menghabiskan waktuku untuk membaca Al-Qur’an, membaca wirid, melaksanakan ibadah-ibadah sunnah itu lebih sering daripada waktu yang aku gunakan untuk kewajiban-kewajibanku yang lain. Padahal teman-temanku lebih sibuk menghafal kitab-kitab matan, mempersiapkan pelajaran, dan men-takror pelajaran. Dan akibat dari itu akupun tertinggal dari kawan-kawanku dalam hal kemampuan ilmiah dan hafalan tentang masalah-masalah hukum. Dan aku yakin memang seperti itulah keadaanku, sampai pada suatu saat ada seorang guru yang menguji kemampuan ilmiah kita dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada satu persatu dari kita. Sampai pada saat giliranku, saat guru itu memberikan pertanyaan-pertanyaan kepadaku, Allah mengilhamkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu kepadaku dan akupun mampu menjawab pertanyaan itu dengan benar. Setelah itu, guru itu melihatku sambil berkata : “Sebenarnya kamu bukanlah murid yang pintar, akan tetapi Allah SWT berkata kepadamu :” Jadilah pintar” maka kamupun menjadi pintar”.

Dalam mengomentari cerita tersebut, Syaikh Said Romdlon berkata bahwa ayahnya meNceritakan itu kepada beliau agar beliau ingat makna dari ayat واتقوا الله ويعلمكم الله.

Disarikan dari buku yang ditulis oleh Syaikh Said Romdlon Al Buthi yang berjudul “Hadza Walidi”

Total
2
Shares
1 comment

Comments are closed.

Previous Article

Keutamaan Buruh Menurut Gus Baha’

Next Article

Kepemimpinan dan Tiga Pesan Rasulullah bagi Pemimpin

Related Posts