Pengajian Gus Baha: Bertemu Pemuda Ahli Zina yang Hendak Masuk Islam, Bagaimana Reaksi Nabi?

Sahabat Nabi saw melarang masuk pemuda tersebut karena omongannya yang dianggap nyeleneh. Bagaimana bisa orang sudah masuk Islam tapi tetap menginginkan berzina.

Tsaqafah.id – Menyikapi beberapa pendakwah yang sering mengkaitkan neraka dengan orang kafir, kita sepertinya layak mengetahui beberapa cerita yang membuktikan bahwa Nabi saw tidak demikian.

Seorang sangat perlu mengkaji bagaimana asal-usul Nabi saw dalam meluruskan pikiran orang kafir pada masa itu. “Tidak begitu. Dakwah Nabi saw dulu tidak begitu. Bukan sedikit-sedikit mengancam neraka.” Ujar Gus Baha.

Dalam menyadarkan orang kafir, salah satu logika yang dibangun adalah penyadaran pemahaman “Tuhan kok ada banyak”. Orang kafir dulu berfirkir demikian, urusan banyak, maka Tuhan pun harus banyak. Pemikiran seperti yang diluruskan oleh Nabi saw..

KH. Bahaudin Nur Salim memberi contoh sebuah cerita mengenai masuknya pemuda ke dalam Islam setelah melewati proses dialog dengan Nabi saw.

Pernah ada seorang pemuda ingin masuk Islam. Ia mengajukan syarat masih boleh melakukan zina ketika sudah masuk Islam, karena dia merupakan oang yang maniak perempuan.

Pemuda ini tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya tanpa perempuan. Ia memiliki wajah yang tampan sehingga banyak perempuan ingin berzina dengannya.

Baca Juga: Pengajian Gus Baha: Tingginya Derajat Mencari Ilmu

Suatu hari Nabi saw mendengar ada kegaduan di emper masjid. Bertanyalah Nabi saw kepada salah satu sahabat.

“Itu kenapa kok ada gaduh?”

“Itu ada sahabat yang menghalangi seorang pemuda yang mau menghadap Anda Yaa Rasulullah.  Ia hendak masuk Islam, tapi ia mengajukan syarat boleh berzina.” Jawab sahabat.

Sahabat Nabi saw melarang masuk pemuda tersebut karena omongannya yang dianggap nyeleneh. Bagaimana bisa orang sudah masuk Islam tapi tetap menginginkan berzina.

Kemudian Nabi saw berkata, “Tidak apa-apa biarkan ia masuk!”

Sahabat membiarkan pemuda tersebut masuk menemu Nabi saw. Setelah masuk dan bertemu Nabi saw. Pemuda ini mengutarakan keinginannya untuk memeluk Islam.

Baca Juga: Mukjizat dalam al-Qur’an (1): Kemenangan Kerajaan Romawi atas Persia

Pemuda . . . . . . itu ditanya Nabi saw, “Apa betul kamu pemuda yang hendak masuk Islam tapi minta izin boleh berzina?”

“Betul Yaa Rasulullah, saya ini maniak perempuan, saya cocok dengan Islam yang rasional, tetapi yang tidak cocok satu, yaitu aturan tidak boleh main perempuan. Kalau Anda membebaskan saya bermain perempuan, saya akan masuk Islam, kalau tidak ya nanti dulu.” Jawab pemuda tersebut.

Lantas apa yang dikatakan Nabi saw? Apa Nabi saw langsung mengancam dengan ayat-ayat neraka?

Nabi saw kembali  bertanya, “Apa engkau senang apabila ibumu dibawa laki-laki lain?”

“Siapapun yang berani membawa ibuku akan saya bunuh.”

“Apa benar akan kau bunuh orang yang membawa ibumu?”

“Benar Ya Rasulullah, akan saya bunuh.”

“Apa Engkau senang apabila anak perempuanmu dibawa laki-laki lain?”

“Siapapun yang berani membawa anak perempuanku akan saya bunuh.”

Semua ditanyakan oleh Nabi saw mulai dari ibunya, anak perempuannya, bibinya dan semua perempuan terdekatnya disebut oleh Nabi saw.

Baca Juga: Macapat dan Pesan Religiusitas

Akhirnya pemuda tersebut berkata, “ Ya Rasulullah saya masuk Islam tanpa ada syarat diperbolehkan berzina, betapa buruknya zina menyakiti banyak orang.”

Rasulullah berhasil menyadarkan pemuda tersebut dengan menjelaskan bahaya berzina baik bagi diri sendiri maupun perempuan, termasuk perempuan-perempuan yang ada ada lingkungan terdekat.

Cerita ini mengandung beberapa hikmah, diantaranya nabi begitu menghormati perempuan dengan melindunginya dari lelaki pezina.

Nabi saw berdakwah dengan santun, tidak serta merta mengancam umatnya dengan neraka. Meskipun yang ditemuinya adalah pemuda yang jelas maniak zina.

Rasulullah membangkitkan rasa kemanusiaan, yakni dengan memberikan contoh bagaimana apabila  perempuan-perempuan terdekat dari pemuda tersebut menjadi korban zina? Apa ia rela?

Ternyata pemuda tersebut masih bisa merasakan sayang kepada keluarganya dengan tidak rela apabila perempuan dalam keluarganya menjadi korban zina laki-laki lain. Hal ini justru yang membangkitkan rasa kemanusiaannya dan menerima Islam tanpa syarat.

Total
295
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Inilah yang Perlu Kamu Persiapkan Sebelum Menikah

Next Article

Mukjizat dalam Al-Qur'an (2): Terungkapnya Persekongkolan Kaum Quraisy untuk Membunuh Nabi Saw

Related Posts