Kebangkitan Ulama Perempuan untuk Indonesia Tanpa Kekerasan
Sebuah gerakan kolektif dari Masjid Cut Nyak Dien untuk memutus rantai kekerasan domestik hingga struktural.
Puncak Peringatan Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan
Efektivitas Peran Ulama Perempuan
Signifikan Penekanan Potensi Kekerasan
Berdasarkan penelitian Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) tahun 2025, keterlibatan aktif ulama perempuan di lingkungan pesantren terbukti mampu menekan potensi terjadinya kekerasan seksual secara signifikan. Data ini menjadi landasan kuat bagi KUPI untuk terus mendorong masifikasi peran ulama perempuan sebagai subjek penting dalam membangun peradaban yang aman dan berkeadilan bagi seluruh santri di Indonesia.
"Data PPIM 2025 menjadi rujukan utama dalam argumen KUPI mengenai pentingnya kehadiran ulama perempuan di institusi pendidikan Islam."
Poin Utama Risalah Cut Nyak Dien
Peneguhan Peran Ulama Perempuan
Menolak reduksi peran perempuan sebagai objek kebijakan dan menuntut pengakuan setara atas kapasitas ulama perempuan dalam sejarah pergerakan Indonesia, dari era pra-kemerdekaan hingga reformasi.
Kecaman Kekerasan Struktural
Menegaskan bahwa segala bentuk kekerasan terhadap aktivis demokrasi dan hak asasi manusia bertentangan dengan konstitusi, agama, serta amanat amar ma'ruf nahi munkar.
Penghapusan Kekerasan Seksual di Pesantren
Mendorong pesantren untuk memiliki SOP Penghapusan Kekerasan Seksual sebagai langkah konkret menjadikan pesantren sebagai ruang yang aman dan suci dari penistaan agama.
Pesantren sebagai Ruang Aman
" Perjuangan KUPI adalah cerminan dari keberanian untuk bersuara di tengah situasi bangsa yang sedang tidak baik-baik saja. Dengan Risalah Cut Nyak Dien, mereka tidak hanya berbicara tentang teori, tetapi tentang aksi nyata untuk memutus rantai kekerasan yang telah lama membungkam banyak pihak. "
Refleksi Diri
Bagaimana peran ulama perempuan di lingkungan sekitar Anda dalam menciptakan ruang aman dari kekerasan?