Tercabutnya Ilmu Melalui Wafatnya Para Ulama

tercabutnya sebuah keilmuan bukan melalui hilangnya ilmu itu sendiri, melainkan hilangnya keilmuan melalui wafatnya para ulama-ulama yang meneduhkan.

Tsaqafah.id – Takdir memang sesuatu yang tabu untuk diperkirakan. Kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput. Kematian tidak mengenal usia, baik muda maupun tua. Tidak mengenal jabatan, baik orang kaya maupun orang miskin. Dan tidak pernah mengenal waktu kapan hal tersebut akan terjadi, yang pasti kematian merupakan hal yang tidak bisa kita hindari. Sebagaimana dalam al-Qur`an disebutkan bahwa :

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Setiap yang berjiwa akan merasakan kematian. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Q.S. Al-Imran : 185)

Ketika wafatnya Rasulullah SAW pada abad ke-11 H, meninggalkan kesedihan yang sangat mendalam di kalangan sahabat maupun ahlu bait-nya, bahkan sahabat Umar bin Khatab tidak percaya dan mengancam akan membunuh orang-orang yang mengatakan kewafatannya Rasulullah SAW. Hal tersebut menandakan bahwa wafatnya seseorang yang berpengaruh seperti  kehilangan dambaan hatinya, merasakan kerinduan yang mendalam akan sosoknya.

Sebagaimana disebutkan banyak riwayat bahwa wafatnya Rasulullah SAW merupakan salah satu diantara tanda-tanda hari kiamat, Begitupun wafatnya para ulama, yang mana menandakan dicabutnya sebuah keilmuan yang ia miliki. Sebagaimana dalam sebuah hadis riwayat Bukhari :

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا قَالَ الْفِرَبْرِيُّ حَدَّثَنَا عَبَّاسٌ قَالَ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ هِشَامٍ نَحْوَهُ

Baca Juga: Kisah Hidup Syaikh Mulla Romdlon Al-Buthi

Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Abu Uwais berkata, telah menceritakan kepadaku Malik dari Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus mencabutnya dari hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga bila sudah tidak tersisa ulama maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan”. Berkata Al Firabri Telah menceritakan kepada kami ‘Abbas berkata, Telah menceritakan kepada kami Qutaibah Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Hisyam seperti ini juga. (H.R. Bukhari 98)

Dalam hadis tersebut menggambarkan bahwa tercabutnya sebuah keilmuan bukan melalui hilangnya ilmu itu sendiri, melainkan hilangnya keilmuan melalui wafatnya para ulama-ulama yang meneduhkan. Lalu muncullah para pemimpin yang tidak memiliki sanad yang jelas atau sesat, sehingga umatnya saling menyalahkan satu sama lain, saling mengkafirkan, saling membenci, saling menganggap kebenaran sendiri pada kelompoknya, sehingga keributan di mana-mana, perang sesama muslim, dan dunia semakin kacau.

Akhir-akhir ini banyak sekali para ulama yang meninggalkan kita, seperti sosok KH Raden Najib Abdul Qodir pengasuh Pondok Pesantren Almunawwir Krapyak yang belum lama meninggalkan kita, betapa beratnya kita sebagai santri beliau ditinggal olehnya, sebagaimana yang dipaparkan oleh KH Mustofa Bisri “ beliau adalah hamilul Qur`an yang tidak pernah memandang langit dan selalu menunduk” lisan dan perilaku nya selalu selaras dengan al-Qur`an. Ketawadluannya yang selalu ndingkluk (menunduk) bukan hanya sekedar adat, tapi merupakan sebuah tarbiyah mahal yang mana selalu lakukan saat beliau bertemu dengan siapapun, baik dengan santri-santrinya maupun dengan masyarakat lainnya.

Keistiqomahan beliau mengabdi terhadap al-Qur`an tidak mengenal waktu. Ketika beliau mengajar al-Qur`an baik pagi, siang, sore maupun malam, bahkan ketika beliau sehabis pulang dari luar kota dan sesampainya di ndalem (rumah), beliau masih menyempatkan untuk menerima setoran al-Qur`an hingga tengah malam, kadang hingga menjelang pagi.

Baca Juga: Menyikapi Bencana Alam Secara Bijak

Bagi santri, hal yang paling istimewa adalah dapat memandang wajah Romo Yai, senyumnya yang meneduhkan hati, hingga disalimi ketika setorannya sudah usai, seakan-akan hal tersebut merupakan sebuah kenikmatan yang hakiki. Beliau Romo Yai bukan hanya ahlul Qur`an saja, namun juga sebagai guru al-Qur`an yang mengajarkan bacaan yang fasih serta akhlaqul Qur`an yang diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kasih sayang beliau kepada santrinya tiada batas, beliau tidak pernah membeda-bedakan santrinya, semua santri pasti pernah merasakan kasih sayang beliau.

Ada sebuah kisah dari sopir Romo Yai sebut saja kang Bandi, ketika kang Bandi sowan untuk mondok di krapyak, Romo Yai menerimanya dengan penuh kasih sayang, hingga tiba saatnya kang Bandi ingin menjalani pernikahan, dari mahar, cincin, dan baju pernikahannya semua yang membelikan adalah Romo Yai langsung, dan hingga tiba pada acara pernikahannya, bukan hanya sebagai yang mengakadkan saja, namun Romo Yai beserta Ibu Nyai menjadi pendamping di pernikahannya.

Akhlak beliau seperti halnya al-Qur`an, dan kita sebagai santrinya sangat merasa kehilangan sosok beliau, kita pasti merindukan moment-moment bersama Romo Yai, ketika setoran al-Qur`an, ketika berjama`ah, ketika mengaji Talaqqi, ketika mendengarkan mauidzah hasanah, ketika berdo’a bersama beliau, dan hal-hal tersebut tidak akan pernah kami lupakan sepanjang hayat kami. ROMO YAI NAJIB ABDULQODIR

Total
2
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Menyikapi Bencana Alam Secara Bijak

Next Article

Gemuruh Headline Islam

Related Posts