The Post-Bali World
Menaja NU sebagai Pengetahuan (4)
R20: Sebuah Radiasi Paradigma Baru
Evolusi Diskursus Barat-Timur
Diskursus Akademik Klasik
Selama ini, perdebatan mengenai Barat (Oksidentalisme) dan Timur (Orientalisme) hanya terjebak dalam telaah akademis yang kaku. Konstruksi pengetahuan ini seringkali gagal meruntuhkan penghalang psikologis dan politis antara kedua arus utama tersebut, sehingga dialog yang terjadi cenderung bersifat permukaan.
Paradigma Duo-Unitas
Hasan Hanafi menawarkan jalan tengah dengan konsep duo-unitas. Ia menolak batasan dikotomis antara Barat dan Timur, memandang keduanya sebagai kesatupaduan yang saling terhubung, sebuah upaya untuk melampaui polarisasi yang selama ini membelenggu pemikiran intelektual dunia.
Definisi Teologis dan Politis
Di sisi lain, terdapat pandangan yang lebih tajam seperti Sayyid Quthb yang melihat Barat sebagai antitesis teologis bagi Islam. Sementara Edward W. Said menyoroti bagaimana Barat mendefinisikan dirinya dengan cara mengonstruksi 'Timur' sebagai 'yang lain', menciptakan ketimpangan relasi kuasa yang nyata.
Perspektif Intelektual
Hasan Hanafi
Hanafi mencoba mendobrak sekat dikotomis dengan menawarkan paradigma yang lebih inklusif dan integratif bagi kedua wilayah tersebut.
Edward W. Said
Kutipan ini merujuk pada mekanisme kekuasaan dalam mendefinisikan identitas melalui konstruksi 'Orientalisme' yang bersifat hegemonik.
" Namun, ada yang menarik dari langkah Gus Yahya. Di saat dunia masih sibuk mengutip Foucault, Huntington, atau Snouck Hurgronje untuk membedah relasi Barat-Timur, agenda R20 justru bergerak melampaui kerangka-kerangka tersebut. Indonesia, sebagai bangsa Timur yang memegang teguh tradisi, menunjukkan bahwa kesadaran akan keterbutuhan terhadap Barat tidak harus berarti tunduk pada konstruksi pengetahuan yang selama ini mendikte kita. "
Melampaui Konstruksi Barat
Refleksi Diri
Apakah kita sudah siap melepaskan ketergantungan pada konstruksi pengetahuan Barat dalam memandang peradaban kita sendiri?