arrow_back BACA ARTIKEL ASLI
Peradaban R20 Dialog Agama

The Post-Bali World

Menaja NU sebagai Pengetahuan (4)

Explore south
Storyteller

R20: Sebuah Radiasi Paradigma Baru

Forum R20 yang dihelat pada 2-3 November 2022 bukan sekadar pertemuan seremonial. Inisiatif Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf bersama Liga Muslim Dunia ini menciptakan ruang dialog yang melampaui batas-batas imajiner antara Barat dan Timur. Di tengah dunia yang terfragmentasi pasca pandemi dan krisis ekonomi, R20 menawarkan kerangka paradigma di mana nilai-nilai moral dan spiritual agama tidak lagi dipandang sebagai masalah, melainkan sebagai sumber solusi bagi peradaban global yang sedang mencari arah baru.

Evolusi Diskursus Barat-Timur

warning

Diskursus Akademik Klasik

Selama ini, perdebatan mengenai Barat (Oksidentalisme) dan Timur (Orientalisme) hanya terjebak dalam telaah akademis yang kaku. Konstruksi pengetahuan ini seringkali gagal meruntuhkan penghalang psikologis dan politis antara kedua arus utama tersebut, sehingga dialog yang terjadi cenderung bersifat permukaan.

call_split

Paradigma Duo-Unitas

Hasan Hanafi menawarkan jalan tengah dengan konsep duo-unitas. Ia menolak batasan dikotomis antara Barat dan Timur, memandang keduanya sebagai kesatupaduan yang saling terhubung, sebuah upaya untuk melampaui polarisasi yang selama ini membelenggu pemikiran intelektual dunia.

lightbulb

Definisi Teologis dan Politis

Di sisi lain, terdapat pandangan yang lebih tajam seperti Sayyid Quthb yang melihat Barat sebagai antitesis teologis bagi Islam. Sementara Edward W. Said menyoroti bagaimana Barat mendefinisikan dirinya dengan cara mengonstruksi 'Timur' sebagai 'yang lain', menciptakan ketimpangan relasi kuasa yang nyata.

Perspektif Intelektual

wb_incandescent

Hasan Hanafi

"Tidak ada batasan antara Barat dan Timur, keduanya duo-unitas yaitu kesatupaduan dan keterhubungan."

Hanafi mencoba mendobrak sekat dikotomis dengan menawarkan paradigma yang lebih inklusif dan integratif bagi kedua wilayah tersebut.

— Hasan Hanafi (1986)
explore

Edward W. Said

"Orang-orang Eropa yang mendefinisikan dirinya sebagai Barat, sedangkan orang lain sebagai Timur."

Kutipan ini merujuk pada mekanisme kekuasaan dalam mendefinisikan identitas melalui konstruksi 'Orientalisme' yang bersifat hegemonik.

— Edward W. Said (1979)

" Namun, ada yang menarik dari langkah Gus Yahya. Di saat dunia masih sibuk mengutip Foucault, Huntington, atau Snouck Hurgronje untuk membedah relasi Barat-Timur, agenda R20 justru bergerak melampaui kerangka-kerangka tersebut. Indonesia, sebagai bangsa Timur yang memegang teguh tradisi, menunjukkan bahwa kesadaran akan keterbutuhan terhadap Barat tidak harus berarti tunduk pada konstruksi pengetahuan yang selama ini mendikte kita. "

Storyteller

Melampaui Konstruksi Barat

Gus Yahya mengambil langkah berani dengan tidak mengacu pada pemikir-pemikir besar Barat dalam menginisiasi R20. Ini adalah bentuk kemandirian epistemologis. Sebagai bangsa yang memegang erat prinsip tradisi, Indonesia membuktikan bahwa kita mampu merumuskan model dialog sendiri. R20 bukan sekadar mengadopsi teori Barat, melainkan menawarkan cara pandang baru yang lebih otentik, di mana posisi Timur bukan lagi sebagai objek yang didefinisikan, melainkan sebagai subjek yang menawarkan solusi bagi kemanusiaan global.
psychology

Refleksi Diri

Apakah kita sudah siap melepaskan ketergantungan pada konstruksi pengetahuan Barat dalam memandang peradaban kita sendiri?