Skip to content
Kolom
Beranda/Kolom/Menaja NU sebagai Pengetahuan (4): The Post-Bali World

Menaja NU sebagai Pengetahuan (4): The Post-Bali World

17 Kali Dibaca
Bagikan:
Menaja NU sebagai Pengetahuan (4): The Post-Bali World

Tsaqafah.idSebagaimana Konferensi Asia-Afrika yang oleh beberapa Reformis dari dua wilayah itu disebut menandai suatu era baru: The Post-Bandung World. Maka tidak berlebihan kalau R20 juga menandai suatu era pergeseran peradaban baru: The Post-Bali World.

R20 sudah pungkas dihelat 2-3 November 2022, meninggalkan radiasi kerangka paradigma peradaban baru yang tak usang dipercakapkan. 

Sebagaimana Konferensi Asia-Afrika yang oleh beberapa Reformis dari dua wilayah itu disebut menandai suatu era baru: The Post-Bandung World. Maka tidak berlebihan kalau R20 juga menandai suatu era pergeseran peradaban baru: The Post-Bali World.

Sebagai agenda global yang diinisiasi oleh Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf yang berkolaborasi dengan Liga Muslim Dunia (Rabithah Alam Islami) ini, The Post-Bali World mempertemukan para pemuka agama dunia untuk merancang model dialog yang menjadikan agama sebagai bagian dari solusi peradaban global.

Narasi awal yang disinggung dalam forum yang bertajuk “Revealing and Nurturing Religion as a Source of Global Solutions: an International Movement for Shared Moral and Spiritual Values” ini, tentu, beradu argumentasi ihwal batas imajiner antara Barat-Timur yang belakangan menguat pasca Covid-19 dan ekonomi global. 

Baca juga Menaja NU sebagai Pengetahuan (1): Mencari Belerang Merah

Meski dalam diskursus akademik mempercakapkan Barat (Oksidentalisme) dan Timur (Orientalisme) dalam konstruksi pengetahuan bukanlah barang baru. Namun, diskursus itu sebatas telaah saja, dengan begitu, sulit menghilangkan penghalang dari dua arus utama tersebut.

Sudah banyak bermunculan intelektual yang secara gamblang menjelaskan relasi, distorsi, kontinuitas dan diskontinuitas di antara keduanya dalam paradigma; Barat sebagai teman dan Barat sebagai lawan. 

Sebut saja Hasan Hanafi (1986) yang memilih middle-paradigm, dimana tidak ada batasan antara Barat dan Timur, keduanya duo-unitas yaitu kesatupaduan dan keterhubungan.

Kemudian Edward W Said (1979) dalam magnum-opus-nya “Orientalisme”, ia menguraikan keberadaan persesuaian antara Barat  dan Timur. Penyesuaian tersebut dimaknai sebagai gerakan bersama, yaitu orang-orang Eropa yang mendefinisikan dirinya sebagai Barat, sedangkan orang lain sebagai Timur. 

Baca juga Menaja Nahdlatul Ulama sebagai Pengetahuan (2): Krapyak 1989

Lain daripada itu, Sayyid Quthb di Mesir yang menuduh Barat sebagai Fir’aun yang melawan kebenaran Musa, Jahiliah yang anti Islam, Kafir Mekkah yang menentang Nabi Muhammad, dan lain-lain.

Pada akhirnya, senarai percakapan itu mengerucut pada simpulan bahwa Barat menjadi hijab Islam. Pendapat dua awal adalah corak pandang pengetahuan, sedangkan yang terakhir lebih dekat kepada definisi teologis.  

Percakapan ini tidak baru sebab yang tergelar sifatnya sebatas pada langkah melebarkan sayap-sayap kekuatan keilmuan akademis yang kerangka dasarnya diambil dari serpihan pemikiran Michel Foucault, Edward W. Said, Samuel P. Huntington, Clifford Geertz, sampai Snouck Hurgronje, dan masih banyak lagi.

Tapi pengalaman kita sebagai bangsa Indonesia, bangsa Timur, yang memegang erat prinsip tradisi, kesadaran akan keterbutuhan terhadap Barat mutlak tidak bisa digugat. Menariknya, Gus Yahya mengerjakan agenda ini dengan tidak mengacu pada pemikir-pemikir tersebut. 

Baca juga Menaja Nahdlatul Ulama sebagai Pengetahuan (3): Gus Dur adalah Dunia yang Serba Mungkin

Gus Yahya dengan bangga mengisahkan genealogi berdirinya Indonesia sebagai negara-bangsa, dimana banyak tokoh dari ideologi besar dunia dan agama-agama besar dunia sanggup berbagi nilai-nilai bersama sebagai etika sosial pergaulan antar bangsa.

Barat, langsung maupun tidak langsung, dewasa ini, telah mendominasi kita dalam soal ilmu pengetahuan, informasi, teknologi, bahkan ideologi. Barat acapkali menjadi kiblat segala yang wujud dalam negara-bangsa secara global. 

Tapi, kiblat itu kemudian menjadi fenomena traumatik akibat kolonialisme. Asumsi ini shahih, jika bersandar pada diktum yang dilontarkan oleh Michel Foucault, “Knowledge is Power” pengetahuan adalah kekuasaan. Pengetahuan menjadi modal subjek mempengaruhi objek.

Padahal, Barat sendiri, setelah penghancuran beberapa nilai tradisi mengakibatkan ketidak-terjangkauan pengetahuan secara komprehensif. Mereka kehilangan lema tradisi sebab penghancuran tersebut. 

Baca juga Antara GOAT, Piala Dunia dan Muktamar NU ke-35

Alhasil, Barat dalam hal tradisi ia mencontoh Timur. Bahkan, sangat mungkin Barat akan mengemis tradisi dari Timur. Ini semacam neo-kolonialisme. Tapi, tidak berarti ini adalah sebuah pencurian atau penistaan peradaban. jika memang niat awalnya mutlak untuk peradaban yang berkemajuan. 

Namun, batasan-batasan antara Barat dan Timur itu hakikatnya bersifat “imajiner”, bayangan dan angan-angan semata. Batasan itu hanya terbentuk dalam pikiran manusia. Tidak ada batasan yang memisahkan antara Barat dan Timur secara nyata. Sekedar imajiner, batasan itu hantu, tak nyata, tak terlihat, bahkan sampai tidak ada sama sekali.

Pada akhirnya, keterikatan antara Barat dan Timur bersifat mutualis-simbiosis, saling keterbutuhan dan saling keterpengaruhan. Sekali lagi, demi kemajuan keilmuan serta peradaban baru.

Dukung Kanal Suara Muslim Muda

Suka dengan konten kami? Dukung terus Tsaqafah.id untuk memproduksi konten literasi Muslim yang mencerahkan.

Mulai Berdonasi
Bagikan Artikel Ini