Ringkasan Eudaimonia hingga Kawruh Jiwa: Benang Merah Makna Kebahagiaan
Artikel ini mengulas hakikat kebahagiaan (as-sa'adah) sebagai proses penyempurnaan diri, bukan sekadar kepuasan materi. Dengan memadukan konsep Eudaimonia dari filsafat Yunani dan Kawruh Jiwa dari kearifan Nusantara, pembaca diajak memahami bahwa kebahagiaan sejati bermula dari kemampuan mengenali hakikat diri, mengelola akal, serta menyelaraskan hati dengan tujuan hidup yang lebih bermakna.
Kebahagiaan (as-sa’adah) sebagai tujuan akhir kehidupan manusia. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang datang secara kebetulan, melainkan hasil dari proses panjang dalam menyempurnakan diri.
Apa yang terlintas ketika mendengar kata bahagia? Sebagian orang mungkin membayangkan rumah yang nyaman, pekerjaan yang mapan, atau tabungan yang terus bertambah. Sebagian lainnya merasa bahagia ketika dapat berkumpul bersama keluarga, menikmati secangkir kopi, atau sekadar memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam memaknai kebahagiaan.
Meski demikian, muncul satu pertanyaan yang menarik untuk direnungkan. Jika ukuran kebahagiaan setiap orang berbeda, adakah hakikat kebahagiaan yang sesungguhnya? Pertanyaan ini telah lama menjadi perhatian para filsuf sejak zaman Yunani Kuno, kemudian berkembang dalam tradisi filsafat Islam hingga kearifan lokal Nusantara. Menariknya, mereka memiliki satu benang merah yang sama, yakni kebahagiaan bermula dari kemampuan manusia mengenal dirinya sendiri.
Mengenal diri bukan hanya mengetahui apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan pribadi. Lebih dari itu, mengenal diri berarti memahami hakikat keberadaan manusia, tujuan hidup yang ingin dicapai, serta kemampuan mengelola akal, hati, dan keinginan. Tanpa pemahaman tersebut, manusia akan mudah mencari kebahagiaan di tempat yang keliru, yaitu hanya pada hal-hal yang berada di luar dirinya.
Baca juga: Syukur Sebagai Solusi Bahagia
Pandangan tersebut tampak dalam pemikiran Plato. Ia membagi jiwa manusia menjadi tiga bagian, yaitu akal (reason), semangat (spirit), dan nafsu (appetite). Ketiganya memiliki fungsi yang berbeda, tetapi harus bekerja secara selaras. Akal bertugas membimbing manusia menuju kebenaran, semangat melahirkan keberanian, sedangkan nafsu berkaitan dengan berbagai keinginan dan kebutuhan.
Menurut Plato, persoalan muncul ketika nafsu justru mengambil alih kendali kehidupan. Manusia menjadi mudah tergoda oleh kesenangan sesaat, sulit membedakan kebutuhan dengan keinginan, bahkan rela mengorbankan nilai moral demi memenuhi hasratnya.
Keadaan seperti ini mungkin menghadirkan rasa senang, tetapi bukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Bagi Plato, kebahagiaan (eudaimonia) adalah keadaan ketika jiwa berada dalam harmoni. Akal menjadi pemimpin yang mengendalikan semangat dan nafsu sehingga manusia mampu hidup sesuai kebajikan.
Jika Plato menitikberatkan pada harmoni jiwa, Al-Farabi memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi untuk berkembang menuju kesempurnaan. Ia menyebut kebahagiaan (as-sa’adah) sebagai tujuan akhir kehidupan manusia. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang datang secara kebetulan, melainkan hasil dari proses panjang dalam menyempurnakan diri.
Bagi Al-Farabi, mengenal diri berarti menyadari bahwa manusia dianugerahi akal sebagai kemampuan paling istimewa. Akal tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga untuk mencari ilmu, memahami kebenaran, serta membentuk akhlak yang baik. Potensi tersebut harus terus dilatih melalui pendidikan, pembelajaran, dan pembiasaan berbuat baik agar berkembang secara maksimal.
Menariknya, Al-Farabi tidak memandang penyempurnaan diri sebagai proses yang dilakukan sendirian. Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk belajar, bekerja sama, dan membangun kehidupan yang adil. Karena itu, kebahagiaan tidak hanya lahir dari keberhasilan pribadi, tetapi juga dari kemampuan memberi manfaat bagi masyarakat. Kesempurnaan diri dan kehidupan sosial yang baik menjadi dua hal yang saling melengkapi.
Baca juga: Inilah Beberapa Indikator Kebahagiaan Pernikahan Menurut Quraish Shihab
Pandangan Al-Farabi terasa relevan dengan kehidupan saat ini. Banyak orang berlomba mengembangkan diri, tetapi terkadang melupakan nilai kebersamaan. Padahal, kecerdasan tidak hanya diukur dari kemampuan akademik atau prestasi pribadi, melainkan juga dari kemampuan hidup berdampingan, menghargai orang lain, dan berkontribusi bagi lingkungan. Kebahagiaan menjadi lebih utuh ketika manusia tumbuh bersama sesamanya.
Berbeda dengan dua tokoh sebelumnya, Al-Ghazali membawa pembahasan mengenai pengenalan diri ke ranah spiritual. Menurutnya, manusia terdiri atas jasad dan ruh. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali lebih sibuk memenuhi kebutuhan jasad seperti mencari harta, mengejar jabatan, atau memperoleh pengakuan. Namun, kebutuhan ruh justru sering diabaikan.
Al-Ghazali menekankan pentingnya muhasabah atau introspeksi diri. Melalui proses tersebut, manusia belajar mengenali penyakit hati seperti riya, sombong, hasad, dan cinta dunia yang berlebihan. Mengenal diri bukan berarti menghakimi diri sendiri, melainkan menyadari kelemahan yang dimiliki agar dapat terus memperbaiki akhlak dan mendekatkan diri kepada Allah. Dari sinilah ketenangan batin perlahan tumbuh.
Baca juga: Mengenal Konsep Kepribadian Menurut Imam Al-Ghazali
Pandangan yang tidak kalah menarik datang dari Ki Ageng Suryomentaram melalui konsep Kawruh Jiwa. Menurutnya, penderitaan manusia sering kali bukan berasal dari keadaan hidup, melainkan dari keinginan yang tidak pernah selesai. Setelah satu keinginan terpenuhi, muncul keinginan baru yang kembali menuntut untuk dipenuhi. Akibatnya, manusia terus merasa kurang meskipun telah memiliki banyak hal.
Karena itu, Ki Ageng Suryomentaram mengajak manusia mengenali berbagai rasa yang muncul dalam dirinya, seperti rasa ingin memiliki, iri hati, takut kehilangan, bangga, maupun kecewa. Rasa-rasa tersebut tidak perlu ditekan atau dihilangkan, tetapi dipahami. Ketika seseorang mampu mengenali gerak batinnya tanpa diperbudak olehnya, ia akan lebih tenang dalam menghadapi perubahan hidup dan tidak mudah kehilangan arah.
Jika dicermati, keempat tokoh tersebut memang menggunakan pendekatan yang berbeda. Plato berbicara mengenai harmoni jiwa, Al-Farabi menekankan pengembangan akal dan kehidupan sosial, Al-Ghazali mengarahkan manusia pada penyucian hati, sedangkan Ki Ageng Suryomentaram mengajak manusia memahami gerak rasa. Namun, semuanya bertemu pada satu kesimpulan yang sama: kebahagiaan tidak dapat dipisahkan dari proses mengenal diri sendiri.
Pesan tersebut terasa semakin penting pada masa sekarang. Media sosial sering membuat manusia mengukur kebahagiaan berdasarkan pencapaian orang lain. Kita mudah membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan yang tampak sempurna di layar gawai. Akibatnya, muncul rasa kurang, iri, dan cemas karena merasa selalu tertinggal. Padahal, yang hilang bukanlah kesempatan untuk bahagia, melainkan kemampuan untuk memahami diri sendiri.
Mungkin inilah alasan mengapa sebabnya para filsuf tidak memulai pembahasan tentang kebahagiaan dari harta, jabatan, atau popularitas. Mereka justru mengajak manusia menoleh ke dalam dirinya sendiri. Sebab, selama seseorang belum mengenal siapa dirinya, segala pencarian kebahagiaan di luar diri hanya akan menjadi perjalanan yang panjang tanpa benar-benar menemukan tujuan.
Baca juga: Menyambut Bahagia, Abu Lahab Dapat Diskon




