Inilah Beberapa Indikator Kebahagiaan Pernikahan Menurut Quraish Shihab

Abi Quraish Shihab dalam bukunya ‘Perempuan’ (2018) mencatat beberapa indikator untuk mengetahui apakah pernikahan yang dijalani sudah penuh dengan kebahagiaan atau belum.

Tsaqafah.id Pernikahan adalah salah satu sunah yang dibawa Rasulullah Saw dan merupakan ibadah dalam Islam yang bertujuan untuk menjaga keselamatan dan peradaban umat manusia. Dengan pernikahan, manusia akan terjaga keturunannya serta terhindar dari berbagai penyakit. Ulama Mazhab Syafi’i mendefinisikan pernikahan sebagai akad yang mengandung kebolehan melakukan hubungan suami istri dengan lafaz nikah atau kawin dan hal-hal yang satu makna dengan itu. 

Islam juga menyebut pernikahan sebagai mitsaqon gholidzhon atau perjanjian kokoh sebagai amanah dari Allah Swt. Ibadah pernikahan selayaknya harus disertai dengan niat yang baik. Namun tidak sedikit orang yang menikah juga didasari dengan berbagai niat yang bermacam-macam. Ada yang niatnya hanya untuk dapat berhubungan suami istri saja, mencari kekayaan, kekuasaan, dll. Hal ini juga dapat menjadi sebab jalannya kehidupan rumah tangga, menjadi bahagia atau justru penuh derita dan ketidakbahagiaan.

Baca juga: Memahami Tafsir Cinta Menurut Syekh Mutawalli As-Sya’rawi

Rumah tangga yang dibangun di atas pernikahan dan hubungan yang baik antara suami dan istri akan menumbuhkan kebahagian dan kebaikan-kebaikan lain. Anak-anak mereka dapat tumbuh dengan baik, keluarganya penuh kebahagiaan dan disenangi banyak orang, itulah di antara sakinah, mawaddah, dan rahmah yang harus diusahakan dalam pernikahan. Abi Quraish Shihab dalam bukunya ‘Perempuan’ (2018) mencatat beberapa indikator untuk . . . . . . mengetahui apakah pernikahan yang dijalani sudah penuh dengan kebahagiaan atau belum;

1. Bila keikhlasan dan kesetiaan merupakan inti yang merekatkan hubungan Anda berdua.

2. Bila satu-satunya tujuan tertinggi Anda adalah hidup langgeng bersamanya di bawah naungan Ilahi.

3. Bila Anda ingin keikutsertaannya bersama Anda dalam segala kesenangan dan ingin pula memikul segala kepedihan yang dideritanya.

4. Bila Anda ingin memberinya serta menerima darinya segala perhatian dan pemeliharaan.

5. Bila dari hari ke hari kenangan-kenangan indah dalam hidup Anda jauh lebih banyak dan besar daripada kenangan buruk.

6. Bila pada saat Anda tidur sepembaringan dengannya, Anda merasakan ketenangan sebelum kegembiraan, damai sebelum kesenangan, dan kebahagiaan sebelum kelezatan.

7. Bila isi hati Anda terdalam berucap: “Aku ingin hidup dengan manusia ini sampai akhir hidupku, bahkan setelah kematianku,” ini karena Anda merasa bahwa Anda tidak mampu, bahkan tidak ingin mengenal manusia lain sebagai teman hidup kecuali dia semata, tanpa diganti dengan apa dan siapapun.

Itulah beberapa indikator yang dicatat Abi Quraish Shihab, sejatinya sebuah hubungan yang baik didasari oleh kecintaan pada Penciptanya. Begitulah dalam pernikahan selayaknya suami dan istri saling bekerjasama demi menggapai ridho Allah Swt. Selalu mengusahakan sakinah, mawaddah, dan rahmah, sehingga menumbuhkan kebahagiaan bagi siapa saja, suami dan istri, anak-anak keturunannya, juga bagi lingkungannya sekitar (maslahah).

Wallahu a’lam

Total
1
Shares
Previous Article

Mengenal Gagasan Nahwu Baru Syauqi Dhaif

Next Article

Perempuan Dalam Balutan Negeri Padang Pasir

Related Posts