Skip to content
Kolom
Beranda/Kolom/Mengetuk Pintu Langit Bersama Seyyed Hossein Nasr: Saat Modernitas Menemui Jalan Buntu (1)

Mengetuk Pintu Langit Bersama Seyyed Hossein Nasr: Saat Modernitas Menemui Jalan Buntu (1)

1 Kali Dibaca
Bagikan:
Mengetuk Pintu Langit Bersama Seyyed Hossein Nasr: Saat Modernitas Menemui Jalan Buntu (1)

Ringkasan Mengetuk Pintu Langit Bersama Seyyed Hossein Nasr: Saat Modernitas Menemui Jalan Buntu (1)

Artikel ini mengulas pemikiran Seyyed Hossein Nasr dalam Ideals and Realities of Islam mengenai krisis epistemologis yang dialami umat Islam. Nasr berargumen bahwa modernitas telah mengikis kepercayaan diri peradaban Islam. Umat perlu melampaui ritual lahiriah dan kembali menghidupi prinsip Tawhid sebagai inti terdalam untuk menjawab kebuntuan modernitas saat ini.

Bagi Nasr, keduanya gagal menyentuh apa yang ia sebut sebagai essence, esensi terdalam dari sebuah tradisi agama yang hidup dan bernapas. Islam tidak bisa dipahami hanya dari permukaan ritualnya, sama seperti sebuah pohon tidak bisa dikenal hanya dari kulit luarnya.

Beberapa dekade silam, di salah satu lorong kota kuno Fez, Maroko, berlangsung percakapan singkat yang menyimpan pertanyaan besar. Seorang sarjana tradisional yang dihormati sosok yang menguasai sekaligus dimensi hukum Islam yang lahiriah dan kedalaman esoterik ketuhanan ditanya tentang kondisi kebudayaan Islam di tengah deru modernitas.

Jawabannya pendek namun menggetarkan: “Pesawat terbang telah menundukkan pikiran kita.” Kalimat itu bukan pernyataan permusuhan terhadap teknologi. Ia adalah metafora yang cermat tentang bagaimana modernitas Barat, diam-diam dan tanpa pedang, berhasil merebut kepercayaan diri sebuah peradaban dari dalam.

Seyyed Hossein Nasr mengabadikan roh percakapan semacam itu sebagai pembuka bagi argumen besarnya dalam Ideals and Realities of Islam. Bagi Nasr, krisis terdalam yang dihadapi dunia Islam hari ini bukan persoalan politik atau ketertinggalan ekonomi semata. Ia adalah krisis epistemologis krisis cara memahami diri sendiri. Peradaban yang seluruh tatanan hidupnya dibangun di atas prinsip Kesatuan Ilahi (tawhid) tidak cukup hanya mempertahankan ekspresi luarnya; ia harus mampu membaca dan menghidupi dirinya dari dalam, dari inti yang paling esensial.

Buku ini lahir dari serangkaian kuliah umum yang disampaikan Nasr pada tahun akademik 1964–1965, ketika ia menjabat sebagai pemegang pertama Aga Khan Chair of Islamic Studies di American University of Beirut. Beirut masa itu adalah titik persilangan dua dunia: Islam dan Barat, tradisi dan sekularisme, wahyu dan rasionalisme modern. Di persimpangan inilah Nasr merumuskan tujuan yang ambisius namun jernih menghadirkan Islam kepada pembaca modern dalam bahasa yang segar dan bisa dipahami, tanpa mengorbankan kedalaman sudut pandang tradisional yang menjadi jiwanya.

Baca juga: Syed Hossein Nasr, Orang Tersingkir dan Arus Balik Filsafat Islam

Tantangan itu tidak kecil. Pada masa itu, sebagian besar buku tentang Islam dalam bahasa Eropa ditulis oleh para orientalis yang melihat Islam dari luar, dengan lensa historisisme sekular yang mampu mendeteksi fenomena sosiologis tetapi buta terhadap realitas transenden.

Di sisi lain, karya para ulama tradisional meski secara substansi kuat ditulis dalam gaya bahasa yang ditujukan untuk komunitas yang sejak awal tidak memiliki keraguan tentang kebenaran agamanya. Nasr memilih posisi jembatan: mengadaptasi garis argumen agar dapat dipahami oleh kaum Muslim berpendidikan Barat dan oleh pembaca Barat yang tulus mencari pemahaman, tanpa mengorbankan satu tetes pun kemurnian ortodoksi Islam.

Lebih dari setengah abad setelah terbitnya, relevansi buku ini justru semakin terasa mendesak. Nasr mencatat dalam pengantar edisi revisi bukunya bahwa meningkatnya perhatian dunia terhadap Islam diiringi oleh meningkatnya distorsi tentang Islam. Peristiwa-peristiwa politik menyebabkan fenomena yang sangat berbeda karakter kemudian disatukan di bawah satu label, sehingga batas antara ajaran normatif Islam dan dinamika politik masyarakat Muslim menjadi kabur. Jutaan orang akhirnya mengenal Islam bukan melalui al-Quran atau warisan pemikiran Ibn Sina dan al-Ghazali, melainkan melalui potongan siaran berita yang diambil dari konteks yang sangat sempit.

Para sejarawan besar peradaban Islam telah mengingatkan tentang bahaya simplifikasi semacam ini. Marshall G. S. Hodgson dalam The Venture of Islam (1974) menegaskan bahwa Islam adalah peradaban yang berkembang selama lebih dari empat belas abad, melintasi ratusan bahasa, etnis, dan sistem budaya yang berbeda.

Wael Hallaq dalam berbagai karyanya berulang kali mengingatkan bahwa memahami Islam secara serius menuntut pembacaan terhadap sumber-sumber normatifnya, bukan sekadar pengamatan terhadap perilaku sebagian penganutnya. Memahami sebuah agama dari penganutnya yang lalai, kata Nasr, ibarat menilai sebuah simfoni dari permainan seorang pemula yang baru belajar.

Baca juga: Mengenal Abu Mansur Al-Hallaj: Sufi yang Mengembara

Nasr juga menolak dua kutub yang sama-sama berbahaya. Yang pertama adalah apologetika naif membela Islam semata karena sentimen identitas, tanpa kesediaan memeriksa substansinya secara kritis. Yang kedua adalah reduksionisme historis mereduksi Islam menjadi produk sejarah tanpa dimensi transenden. Bagi Nasr, keduanya gagal menyentuh apa yang ia sebut sebagai essence, esensi terdalam dari sebuah tradisi agama yang hidup dan bernapas. Islam tidak bisa dipahami hanya dari permukaan ritualnya, sama seperti sebuah pohon tidak bisa dikenal hanya dari kulit luarnya.

Yang menjadikan Ideals and Realities of Islam istimewa adalah keberaniannya menggeser pertanyaan. Di tengah dunia yang sibuk bertanya “Apa yang dilakukan sebagian Muslim?”, Nasr mengajak pembaca berhenti dan merumuskan pertanyaan yang lebih mendasar: “Apa yang sesungguhnya diajarkan Islam?” Keduanya bukan pertanyaan yang sama, dan memperlakukan keduanya seolah-olah sama adalah sumber dari banyak kesalahpahaman yang telah berlangsung berabad-abad baik dari dalam maupun dari luar dunia Islam.

Untuk memahami mengapa buku ini mampu menawarkan jawaban yang begitu jernih, kita perlu mengenal lebih dekat pria yang menulisnya. Seyyed Hossein Nasr bukan akademisi yang membahas agama dari jarak aman. Ia pernah merasakan sendiri ketegangan antara dua dunia yang tampaknya tidak bisa didamaikan sains modern dan tradisi spiritual Islam. Perjalanan intelektualnya, dari laboratorium fisika di Massachusetts hingga majelis ilmu di Tehran, adalah kunci untuk memahami mengapa ia mampu berbicara tentang Islam dengan cara yang sekaligus bertenaga secara intelektual dan bernyawa secara spiritual. Perjalanan itulah yang akan kita telusuri dalam bagian berikutnya.

Baca juga: Intelektual Islam Modern

Pertanyaan Seputar Topik Ini

Apa maksud Seyyed Hossein Nasr dengan krisis epistemologis dalam Islam?
Krisis epistemologis merujuk pada hilangnya cara pandang yang benar dalam memahami diri sendiri dan agama, di mana umat Islam terjebak pada aspek lahiriah dan kehilangan koneksi dengan esensi spiritual (Tawhid).
Apa arti metafora pesawat terbang menurut Seyyed Hossein Nasr?
Metafora tersebut menggambarkan bagaimana modernitas Barat telah menundukkan pikiran dan kepercayaan diri umat Islam secara halus, sehingga peradaban Islam kehilangan jati diri dan kemandirian berpikir.
Mengapa Nasr menekankan pentingnya esensi dalam beragama?
Bagi Nasr, agama bukan sekadar ritual permukaan. Tanpa memahami esensi terdalam, umat Islam akan kesulitan menghadapi tantangan modernitas yang terus mengikis nilai-nilai tradisional.

Dukung Kanal Suara Muslim Muda

Suka dengan konten kami? Dukung terus Tsaqafah.id untuk memproduksi konten literasi Muslim yang mencerahkan.

Mulai Berdonasi
Bagikan Artikel Ini