Syed Hossein Nasr, Orang Tersingkir dan Arus Balik Filsafat Islam

Islam tidak hanya terdiri dari al-Qur’an dan hadis tapi melampaui itu, seperti pohon perkasa, pertumbuhannya mengikuti setiap pengalaman hidup manusia, seni, filsafat, sains, dan lain-lain

Tsaqafah.id – Syed  Hossein Nasr (1933) merupakan ilmuwan yang hidup dalam status “setengah tahanan”. Status ini lekat sebab dia bersedia bekerja sama dengan Syah Reza Pahlevi di Teheran—yang digulingkan oleh ‘Revolusi Islam Iran’. Dengan Syah, Syed mendirikan dan kemudian pada tahun 1974 mengepalai Akademi Filsafat Kerajaan Iran (Anjoman-e Shahanshahi-ye Falsafah-ye Iran). Dari kontribusi itu, Syed menerima gelar kebangsawanan dari Sang Raja Diraja.

Sebagai ‘orang tersingkir’, Nasr harus meninggalkan Iran dan menetap di salah satu kampus di Amerika Serikat. Mutasi yang nyatanya tidak membuat reputasi dan integritasnya terkubur, kata Abdurrahman Wahid. Masih menurut Gus Dur dalam kata pengantar di buku Islam dalam Cita dan Fakta;—yang diterjemahkan bersama adiknya; Hasyim Wahid—selama sang ilmuwan tidak menjual pengetahuan yang dimilikinya untuk melenyapkan, mengaburkan atau menutupi kebenaran, selama itu pula integritas ilmiahnya tidak terganggu sama sekali.

Peran dan posisi strategis yang pernah dilaluinya menarik kita untuk mengenal lebih dekat rihlah keilmuan Saintis Islam tersebut.

Perjalanan keilmuan Nasr tergolong unik. Sebagaimana tokoh yang lahir di kawasan Timur Tengah, benih keilmuan Nasr tertanam dari lingkungan masa kecilnya di Iran yang agamis-tradisionalis. Di bawah bimbingan orang tuanya sendiri, Nasr menuntaskan pelajaran al-Qur’an, hadis, tasawuf, fikih, sastra Arab dan sastra Persia.

Naik ke tingkat universitas, Nasr banting setir. Dia tertantang mendalami ilmu eksakta. Pilihan minat keilmuan baru itu mengantarnya memperoleh gelar sarjana sains (Bachelor of Science/BS) dalam bidang fisika pada 1954. Belum selesai, dia menjelajah lagi, menjalani ritus rihlah intelektualnya hingga memperoleh gelar Master of Science/MS dengan konsentrasi geologi dan geofisika pada 1956 dari Universitas Harvard. 

Puncak mekar keilmuannya terjadi ketika di tengah-tengah masa studinya, Nasr menghadiri kuliah Profesor Giorgio de Santillana di tahun kedua kuliah di Institut Teknologi Massachusset (MIT), Boston, Amerika Serikat. Dari Profesor Giorgio, Nasr banyak belajar sejarah sains yang menyingkap cakrawala baru pemikiran.

Dari kuliah Giorgio itu, Nase menganggapnya seperti sebuah ‘panggilan’ yang disebutkan dalam The Remembrance of Things Past-nya Marcel Proust. Panggilan yang mengajak Nasr untuk kembali menyelami ajaran spiritualisme. Giorgio, seorang filsuf Italia beragama Katolik itu mengajarkan betapa pentingnya metafisika tradisional dan filsafat mistis. Pada masa itu, kedua keilmuan tersebut arusnya masih landai alias belum terlalu banyak digeluti ilmuan, alih-alih sekularisasi Barat membuat kedua keilmuan tersebut terabaikan.  

Baca Juga: Kenapa Manusia Menderita, Jika Tuhan Mahakuasa?

Selain Giorgio, pikiran Nasr untuk kembali menyelami spiritualisme juga dipengaruhi oleh penelaah Filsafat Islam dari Perancis bernama Henry Corbin. Corbin sempat menjadi guru penting di lingkaran intelektual beken di Teheran. Dari Corbin, Nasr menemukan titik temu Filsafat Islam.

Sifat Agama dan Filsafat

Apabila ditelusuri lebih jauh, Islam mempunyai tradisi berfilsafat yang kuat. Namun ketika kita kembali menilik sejarah Islam, fase dari filsafat Islam post-Ibn Rushdian, aturan dan fungsi falsafah tampak seperti sesuatu yang berbeda . . . . . . dari apa yang dimaksud sampai sekarang, demikian kritik Nasr.

Dalam upaya membangun mazhab tradisionalisme, Nasr menyatakan seharusnya umat Islam menemukan kembali diri mereka secara intelektual dan spiritual. Sains Islam yang berdiri atas riwayah dan dirayah semestinya sudah dielaborasi lewat beberapa kursus pendewasaan. Keresahan tersebut dirangsang oleh hegemoni filsafat yang bertolak kepada Barat. Dalam Islamic Life and Thought, 1981, Nasr dengan keras menyerang sekularisme karena menyangkal kebenaran abadi berkedok perubahan manifestasi. Kritik keras Nasr dibarengi dengan menunjukkan jika syari’ah merupakan tatanan kekal yang tidak tunduk pada zaman yang berubah.

Disaat jati diri Muslim sebagai orang Timur yang taat beragama mengalami senjakala, redup, Nasr bekerja keras mencari nyala api dari filsuf Islam yang sempat ditenggelamkan oleh umat Islam sendiri. Sampai Nasr menemukan tiga raksasa filsuf Islam, yaitu; Abu Ali Sina (Avicenna) (980-1037), Shihab al-Din Yahya ibn Habash ibn Amirak al-Suhrawardi, belakangan dipanggil dengan ”al-Maqtul” (1153-1191) dan Abu Bakr Muhammad Ibn al-‘Arabi al-Hatimi al-Ta’I (1165-1198). Ketiga tokoh ini terdokumentasikan secara konkret dalam sebuah buku berjudul The Three Muslim Sages yang disusun Nasr pada tahun 1976.

Baca Juga: Sudut Agama yang Selalu Dipertanyakan

Salah satu pendukung Nasr, yakni Annemarie Schimmel sepakat dengan gagasan Nasr tentang sifat sebuah agama, bahwa Islam tidak hanya terdiri dari al-Qur’an dan hadis tapi melampaui itu, seperti pohon perkasa, pertumbuhannya mengikuti setiap pengalaman hidup manusia, seni, filsafat, sains, dan lain-lain. Sifat agama tersebut berakar dari filsafat perennial yang menganggap ada kebijaksanaan abadi yang bersifat primordial dan universal serta menjadi titik temu bagi agama besar.

Di sini, falsafah memainkan peran penting dalam menyambung Muslim berintegrasi dengan ilmu pra-Islam sebagai cara pandang. Bagi Nasr, Filsafat Islam tidak seperti yang jamak dijelaskan dalam subjek ini; sebagai sesuatu yang diimpor dari Yunani dan berakhir dengan Ibnu Rushd. Lebih dari itu, Nasr justru memunculkan gagasan Filsafat Peripatetik yang melanjutkan peradaban Iran (al-hikmat al-ilahiyyah/theosophia) dan mencapai puncaknya dengan cara tertata lewat kerja-kerja dari Mulla Sadra yang memberi pencerahan perihal harmonisasi antara filsafat, Scienta Sacra/gnosis/’irfan dan wahyu. Gagasan Mulla Sadra ini kemudian menjadi pijakan utama Nasr dalam membangun tradisi filsafat bagi kalangan Islam.

Menurut Nasr, filsafat peripatetik, bagaimanapun, telah mencapai kebuntuan, seperti yang terlihat dalam serangan-serangan terhadap Imam al-Ghazali dan bantahan yang jauh lebih tidak berpengaruh dari Ibn Rushd. Kelompok intelektual baru muncul menengahi kejadian ini, Ibnu ‘Arabi dan Suhrawardi.

Hari ini, filsafat Islam tetap menjadi tradisi intelektual yang hidup, sebab harmoni antara logika dan kehidupan spiritual. Filsafat Islam harus dipanggil kembali untuk memainkan aturan seperti yang terjadi di awal sejarah Islam. Sekarang Nasr mewakafkan dirinya sebagai ilmuwan Muslim pada Universitas di Amerika. Dia banyak menulis buku dan memberi khotbah ilmiah di seminar ataupun majelis ilmu di Amerika Serikat dan Timur Tengah.

Total
1
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Mengapa Kita Bershalawat?

Next Article

Jejak Kecil Rumah Tembakau, Representasi Agama dan Seni di Desa Tembakau

Related Posts