Pertanyaan Seputar Agama

Sudut Agama yang Selalu Dipertanyakan

Agama merupakan isu seksi dan teraktual di Indonesia. Mulai dari ketegangan relasi lintas agama dan kepercayaan – baik internal maupun eksternal. Teka-teki para selebriti yang nggak jelas agamanya apa, yang tiba-tiba rela berpindah agama gara-gara si doi. Hingga fenomena banci yang eksistensinya mengapung dalam pusaran fatwa.

Bahkan untuk bisa mendapat pekerjaan saja, jika melihat beberapa lowongan pekerjaan, tidak sedikit nyempil syarat mutlak; beragama Islam dan rajin beribadah salat lima waktu.

Agama, adalah syarat untuk bisa hidup aman, nyaman, sentosa, dan berdikari. Di Indonesia hal itu seolah-olah sudah menjadi suratan takdir kutukan. Mau tidak mau harus beragama, atau paling tidak mau belajar tentang agama. Khususnya agama yang sudah diakui oleh negara; Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghuchu. Keenam agama ini – yang meski diambil dari budaya impor – sudah mengakar kuat seperti milik sendiri, “tekmu-tekku.”

Sementara agama lokal– yang masih berjuang–belum diakui sebagai agama sah, yang patut ditempel dalam kolom KTP.

Itu yang mengaku beragama, bagaimana dengan mereka yang mentah-mentah menolak untuk tidak beragama? Seperti halnya para penghayat kepercayaan lokal dan agama Yahudi yang berada di pojok Sulawesi Utara dan Surabaya. Muslim yang berpindah agama Kristen (murtad) diteror ‘halal darah’nya. Apalagi yang agnostik (tidak percaya agama) atau ateistik (tidak percaya Tuhan)?

Meski, sebenarnya tidak ada masalah jika kita secara sembunyi-sembunyi mau pindah agama, atau bahkan ateis sekalipun, persoalan agama seolah tetap membuntuti hingga ajal menjemput. Tidak sedikit yang bercerita, bahwa ketika manusia sudah bau-bau tanah, keinginannya untuk mendekat kepada Tuhan semakin mengkristal.

Sebut saja misalnya kisah Sigmund Freud (1856-1939). Karya mutakhirnya Moses and Monotheism (1939), menjadi bualan pengamatnya bahwa Freud taubat menjadi ateis.

Tidak seperti karya-karya sebelumnya, yang bernuansa erotis dengan pendekatan psikoanalisis, Mark Edmunson berpendapat meskipun Freud tetap pada ateismenya, karya terakhir sebelum kematiannya di usia 80, mengubah kepribadiannya lebih relijius dengan iman Yahudi.

Sejalan dengan kisah Profesor Jeffrey Radisson dalam film God’s not Dead (2014). Ia awalnya mendeklarasikan dirinya sebagai ateis, bahwa Tuhan sudah mati (adagium ala Nietzscean). Namun, di akhir masa sekarat akibat tertabrak mobil, seketika juga ia kembali kepada kredo awal; percaya pada Yesus Kristus.

Fenomena semacam ini barangkali sering kita temui sehari-hari. Mereka yang umurnya sudah berkepala 4 atau 5 ke atas semakin mempeng beribadah. Entah karena doktrin salvation theory, yang setelah manusia mati akan diadili oleh Tuhan. Atau memang begitulah kodrat manusia yang semakin tua semakin relijius.

Tiga Pertanyaan

Yang jelas, tanpa agama dan/ Tuhan manusia seperti tak punya apa-apa. Barangkali ada benarnya apa kata Karen Armstrong, bahwa manusia itu makhluk spiritual (homo religius).

Tak ketinggalan, fenomena virus corona yang meluluh-lantahkan kehidupan manusia akhir-akhir ini. Semuanya berbagi kegelisahannya sekaligus kegabutannya yang tidak boleh sembarangan kemana-mana.

Di Indonesia, sebagai negara berkembang dan masih kental akan mistik serta religiusitasnya, tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menunggu antivirus buatan Luar Negeri sembari berkicau sana-sini. Mulai dari penggunaan masker yang semakin didisplinkan, berita kematian yang semakin membengkak, work from home, doa akbar bersama di lapangan, pocong-pocongan, hingga terdengar suara di sudut kolong-kolong jembatan; “mana keadilan Tuhan, bangsat!”

Untuk yang terakhir ini, Ulil Abshar Abdalla menelurkan karyanya untuk menjawab rengekan semacam itu. Judulnya, Jika Tuhan Mahakuasa, Mengapa Manusia Menderita? (2020). Dengan merujuk pada pendapat Al-Ghazali, Ulil menegaskan bahwa tak ada dunia yang lebih sempurna ketimbang yang sudah ada sekarang ini (laisa fi-l-imkan abda’u mimma kan).

Kejahatan akan tetap ada, begitu pun dengan penderitaan, penyakit, bencana, kesakitan, dan sejenisnya, begitu juga sebaliknya. Tambahnya, ia tidak setuju manakala seseorang yang mengajukan protes sekaligus pertanyaan terebut dibarengi dengan “hardikan”.

Saya tidak tahu maksud Ulil mengatakan “hardikan” itu seperti apa. Apakah manusia akan memarahi, memukul, atau membunuh Tuhan ala Nietzschean? Atau mengatakan, “Betapa bodohnya Tuhan yang kamu sembah itu” sambil memukul wajah manusia di depannya? Atau putus asa lalu bunuh diri?

Tentu ketiga pertanyaan tersebut terlihat konyol, karena memperdebatkan sesuatu yang tidak berwujud dan tidak terbatas (Tan Kinaya Ngapa). Tapi ya begitu itu manusia sebagai makhluk spiritual, galau luar biasa kalau Tuhan, Si Pencipta makhluk di seluruh jagat raya ini ketika kekuasaan-Nya dipertanyakan.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article
Kisah Wali Allah

Kisah Pertemuan Dua Wali Allah

Next Article
Buku Generasi Milenial

Menaksir Rupa Identitas Generasi Muslim Milenial

Related Posts