Kenapa Manusia Menderita, Jika Tuhan Mahakuasa?

Judul : Jika Tuhan Mahakuasa, Kenapa Manusia Menderita?: Memahami Akidah Islam bersama Al-Ghazali Penulis: Ulil Abshar Abdalla Penerbit: Buku Mojok Tahun: 2020 Ketebalan: viii + 186 halaman.

Tsaqafah.id – Pandemi korona yang tak kunjung selesai ini, menorehkan tinta sejarah dunia yang membuat semua orang bingung-belingsatan. Bagaimana tidak, virus yang sulit dideteksi dengan mata telanjang ini membuat berita kematian manusia kian hari kian membengkak, pengemis semakin merayapi tubuh kota, dan debat kusir semakin intens guna memecahkan problem kesejahteraan manusia. Ini salah Tuhan apa manusia?

Hal ini memaksakan kepada semua orang untuk melakukan “re-kalibrasi”, mengatur ulang cara hidup mereka secara drastis. Berbagai akademisi, ilmuwan, dan agamawan memberikan sumbangsih terbaiknya di saat-saat genting seperti ini. Salah satunya Ulil Abshar Abdalla. Menantu dari ulama kharismatik KH Mustafa Bisri (Gus Mus) ini menelurkan karyanya yang berudul Jika Tuhan Mahakuasa, Kenapa Manusia Menderita?: Memahami Akidah Islam bersama Al-Ghazali di saat swaisolasi pandemi menggejala.

Sebuah tulisan yang awalnya dimuat secara episodik-perhari di website mojok.co ini akhirnya bisa dinikmati secara lebih luas untuk orang-orang Indonesia. Jika mengamati judul yang dipilih, seluruh kolom Ulil yang berjumlah 30 dengan tebal 183 halaman itu tidaklah membahas panjang lebar terhadap pertanyaan teodisinya; “Jika Tuhan Mahakuasa, kenapa manusia menderita?”

Pertanyaan yang masuk dalam ranah filsafat ketuhanan itu, merupakan pertanyaan abadi dari zaman ke zaman, dan tak pernah menemukan jawaban yang memuaskan. Pada akhirnya Ulil menjawab, pertanyaan di atas, begitu juga dengan pertanyaan sejenisnya merupakan bagian dari “misteri agung” yang tak akan tuntas dijawab sampai kapanpun.

Baca Juga: Kisah Pertemuan Dua Wali Allah

Hal ini juga ditegaskan oleh Fahruddin Faiz, bahwa berbagai argumentasi tentang kebenaran Tuhan terhadap problem kejahatan, baik atas kontrol manusia maupun di luar kontrol manusia, semuanya cacat logis. Khususnya paham monoteistik. Hal itu membuktikan bahwa akal manusia itu terbatas. Seolah-olah Tuhan memang mendesain akal manusia tidak mampu menggambarkan Tuhan secara sempurna.

Al-Ghazali, Leibniz dan Tabataba’i

Jawaban atas pertanyaan “Kenapa manusia menderita, jika Tuhan Mahakuasa?” bisa kita temukan dari pernyataan Al-Ghazali yang mengutip perkataan Abu Thalib al-Makki (w. 998) dalam Qut al-Qulub;

Andai saja Tuhan menciptakan seluruh manusia di bumi ini dalam keadaan yang paling sempurna, menjadikan mereka sebagai orang-orang dengan kecerdasan maksimal, lalu memberi tahu mereka tentang rahasia segala hal, dan kemudian meminta mereka untuk mencipta-ulang dunia ini, maka yang akan muncul kurang lebih sama dengan dunia sekarang ini ada. Tak kurang, tak lebih” (h. 22).

Dengan maksud lain, dunia yang kita tempati ini adalah yang paling sempurna, dengan segala kekurangannya dan kecacatannya. Umat Muslim yang beriman selalu menaruh husnuzon pada Tuhan, bahwa di balik segala penderitaan, pasti ada hikmah besar yang menanti (lihat QS. Al-Syarh [94]: 5-8).

Argumentasi di atas juga dikemukakan oleh seorang pencetus nama “theodicy”, yaitu Gottfried Wilhelm (von) Leibniz (1646-1716). Setelah menjabarkan panjang lebar tentang kontradiksi sifat Tuhan, ia menegaskan;

“It is thus one must think of the creation of the best of all possible universes, all the more since God not only decrees . . . . . . to create a universe, but decrees also to create the best of all. For God decrees nothing without knowledge, and he makes no separate decrees, which would be nothing but antecedent acts of will: and these we have sufficiently explained, distinguishing them from genuine decrees” (Theodicy: Essays on the Goodness of God, the Freedom of Man and the Origin of Evil, 2007, h. 253).

Dari Ghazali dan Leibniz yang sama-sama menegaskan bahwa laisa fi-l-imkan abda’u mimma kan; tak ada dunia yang lebih sempurna ketimbang dunia yang ada sekarang ini, kita juga bisa temukan jawaban serupa dalam tafsirnya Tabataba’i, Al-Mizan (1997), ketika membahas ayat-ayat tentang problem of evil. Hal ini bisa ditelaah dalam Q.S. al-Ruum [30] ayat 41. Di mana kerusakan yang terjadi di muka bumi ini secara gamblang disebabkan oleh tangan manusia sendiri.

Menurut Tabataba’i, secara lafdziyyah ayat tersebut tidak terikat oleh ruang dan waktu. Kerusakan yang terjadi, baik di darat maupun di laut; seperti halnya terjadinya bencana alam dan krisis kemanusiaan, termasuk penyakit menular (al-amradh al-sariyah – korona), bahkan seluruh dualitasnya; laki-perempuan, baik-jahat, derita-bahagia yang ada di muka bumi, akan terus terjadi sepanjang zaman.

Tabataba’i juga menghubungkan ayat tersebut dengan Q.S. al-Syu’ara [42] ayat 30, yang semakin menandaskan bahwa perbuatan jahat manusialah akibat adanya kerusakan di bumi. Sehingga manusia perlu sadar diri dan segera kembali kepada jalan yang benar (la’allahum yarji’un).

Baca Juga: Melulu Bicara Azab, Da’i Tersohor itu Dakwah atau Di’ayah Sih?

Dari Ghazali, Leibniz dan Tabataba’i, kita bisa belajar bahwa problem kejahatan yang ada di dunia ini, sepenuhnya adalah kesalahan manusia. Dengan begitu, bisa dikatakan bahwa pandemi korona ini merupakan ulah dari manusia. Tetapi bisa sadar dirikah manusia dan segera kembali kepada jalan yang benar?

A. Setyo Wibowo dalam artikelnya, “Covid-19: Meditasi Heidegerrian” (2020) memberikan pertanyaan yang kurang lebih sama, “Benarkah pandemi akan menjadikan manusia lebih ekologis, atau pemerintahan seluruh dunia lebih sigap untuk berubah?” Jawabnya, “selama paradigma modernitas dan teknologi tidak ditinggalkan, selama representasi atas dunia masih rasional, harapan-harapan seperti itu nyaris tak terpahami.”

Lalu, apakah Tuhan hanya diam saja sebagaimana kisah Aksionov dalam God Sees the Truth, but Waits karya Leo Tolstoy, yang tak berdosa, lalu tersiksa dalam penjara hingga ajal menjemputnya?

Pada akhirnya kita bertemu pertanyaan-pertanyaan skeptis lainnya. Dari sini manusia memilih lajur pilihannya. Ada yang tetap berpegang teguh pada agama yang dianutnya, serta konsep Tuhan yang diyakininya. Ada juga yang membantah keberadaan Tuhan, serta menolak menganut agama tertentu.

Menurut Ulil, akan terus ada mereka yang menentang Tuhan dan agama, begitu juga dengan mereka yang membela agama dan keberadaan Tuhan. Masing-masing tidak akan bisa memusnahkan yang lain (h. 179-183). Ulil lebih memilih untuk berpegang teguh terhadap agamanya, Islam. Ia juga mengajak kepada umat Muslim – yang mayoritas dianut oleh penduduk Indonesia – untuk ikut mendorong menciptakan peradaban baru. Peradaban yang di satu sisi lebih peduli kepada alam dan suara perempuan (h. 129), dan di sisi lain menjunjung tinggi persaudaraan kemanusiaan dan menggalakkan dialog lintas-kepercayaan (h. 142).

Total
8
Shares
Previous Article

Pesan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani: Mengapa Kita Harus Selalu Berdoa ?

Next Article

Bagaimana Sebaiknya Kita Mengikuti Pembelajaran Daring?

Related Posts