Melulu Bicara Azab, Da’i Tersohor itu Dakwah atau Di’ayah Sih?

Tsaqafah.id – Syahdan, ada seorang dai tersohor sedang lincak-lincak menudingkan jari telunjuknya ke arah atas masjid dan sesekali ke muka jamaah.

Di setiap majlisnya—kalau tidak sepakat dengan istilah kajian—dai tersohor itu ceplas-ceplos. Memberi keterangan perkara demi perkara, hingga menjawab masalah aktual yang ditanyakan pengikutnya.

Tentu saja, dai tersohor itu menjawab dengan enteng dan gesit.

Setiap majlis yang digelar di dalam masjid itu, dengan gaya bicara atraktif, dari mulut dai tersohor itu pernah terlontar kalimat begini, “Demi Allah, apabila saya salah, saya memfitnah, melancarkan propaganda, maka saya akan diazab saat ini juga, di hari Jum’at ini.” Sembari tangan kirinya memegang microphone, sedang tangan kanannya mengangkat al-Qur’an tepat di atas kepalanya.

Tak berhenti di situ, dai tersohor itu melanjutkan dengan ancaman dan hardikan. “Tapi, sebaliknya,” dia mengambil nafas dan terlihat canggung namun tetap meneruskan, “Jika saya benar maka mereka (yang menuduh dan memfitnah) yang akan diazab. Rezim ini memang munafik!”

Parade hardikan itu lantas dipungkasi dengan pengakuan, “Saya waras lo! Nggak mabuk.”

Selain itu, dia pernah berseloroh soal Covid-19, yang menurutnya merupakan hukuman dari Allah bagi Cina sebab telah menyengsarakan Muslim Uighur.

Meski begitu, menariknya, para pengikutnya khidmah, enteng manggut-manggut, mengiyakan. Begitu seterusnya.

Kalau diteroka, kata-kata itu tidak hanya problematis secara kebahasaan. Ia juga merupakan bagian dari narasi propaganda (di’ayah) kebencian. Ungkapan demikian, berpotensi memicu ledakan ketersinggungan dan membahayakan kesetaraan.

Pengikutnya ratusan. Bahkan jika dikalkulasi dengan jumlah penonton di layar virtual, jumlahnya bisa mencapai ribuan. Begitu pula ketika dai tersohor itu melantunkan sebuah dalil al-Qur’an, yang sialnya selalu ditafsiri dengan serampangan.  Misalnya ketika menafsiri Surah al-Fathir: 28 yang digebyah-uyah dengan menyebut “Binatang juga ulama!”

Menggemaskan sekali perilaku dai-dai masa kini, dalam bahasa guyonan pesantren mereka barangkali cocok ditamsilkan begini, “Dia tampil saja sudah salah, apalagi dawuh-dawuh.”

Tafsir gebyah-uyah itu ternyata di banyak sisi sejalan dengan kebiasaannya dalam memilih diksi bahasa, yang sedikit banyak menegaskan kembali persepsi tentang agamawan sebagai polisi moral—yang berpandangan biner dan doyan menghakimi.

Baca Juga: Sampai di Tahap Mana Kita Meneladani Akhlak Nabi Muhammad Saw?

Saya tidak sedang mengomentari logika berpikirnya yang kacau—ambil contoh ketika dai tersohor itu menafsiri ayat yang jatuhnya malah keblasut—akan  tetapi saya akan lebih menyorot pada metode dakwahnya.

Saya menyebutnya dai tersohor karena beberapa tulisan yang tersiar di portal keislaman sering mengoreksi gagasan hingga rujukan yang digunakannya. Tapi saya tidak sedang menjamah . . . . . . area itu, terlampau jauh bagi saya.

Disamping Sugik Nur dalam taraf tertentu bukan ustaz yang otoritatif. Dan karena itu, kabar baiknya, kemunculan dai-dai seperti Sugik Nur dan sejenisnya ini bermuatan positif, yaitu bagaimana kemunculannya mendorong kultur dakwah Islam yang korektif dan selektif.

Dakwah Korektif

Soal setrategi umum penyebaran agama Islam di Indonesia, kita terbiasa berkaca pada Walisongo dalam rangka membudayakan doktrin ahlussunnah tradisional dengan mengawinkan akar budaya Jawa dengan ajaran Islam. Keberhasilan dakwah Walisongo terutama bertumpu pada metode pendekatan yang menekankan pada pendekatan budaya daripada pendekatan ideologis yang sangat berbau politik.

Secara teoritis, dakwah Islami dituntut untuk bisa meletakkan Islam pada posisi pendamai dan pemberi makna terhadap kontradiksi atau konflik dalam kehidupan manusia. Seperti disebutkan oleh Syaikh Ali Mahfudh dalam kitab “Hidayah al Mursyidin” yang mendefiniskan dakwah sebagai usaha “mendorong (memotivasi) berbuat baik, mengikuti petunjuk Allah, menyuruh orang mengerjakan kebajikan, melarang mengerjakan kejelekan, agar dia bahagia di dunia dan akhirat.”

Dakwah kemudian dinilai efektif oleh KH Sahal Mahfudh apabila bertanggung jawab dalam menumbuhkan kesadaran, merumuskan keseimbangan, implementasi dan manajemen konflik, peningkatan kualitas keberagamaan, dan mendorong perubahan sosial.

Lantas, berpijak pada dua pendapat tersebut, sudah sesuaikah nilai dakwah yang dilakukan Sugik Nur?

Barangkali, sudah bisa disimpulkan, jika Sugik Nur itu tidak sedang berdakwah, melainkan melatensidi’ayah (propaganda). Kesimpulan ini berangkat dari sempitnya penafsiran yang berimbas pada sikap meringankan persoalan diskriminatif dan ekslusi sosial. Atau dalam bahasa Cees Hemelink sikap yang dilancarkan oleh Sugik Nur itu disebut dengan “spiral eskalasi konflik”, hal itu bermula dari situasi panik yang dirasakan secara kolektif dan membuat orang menjadi rentan terhadap manipulasi.

Pemikir Mesir Husain Fawzi al-Najjar, menyebutkan jika concern utama Nabi Muhammad ketika menyebarkan Islam adalah lebih tertuju pada upaya untuk mempersatukan para pemeluk Islam (al-wihda al-ijtima) daripada membangun sebuah negara atau sistem pemerintahan apalagi melancarkan di’ayah (propaganda) mengazab rezim seperti yang dilakukan oleh Sugik Nur.

Padahal dalam di’ayah , hal yang dipropagandakan belum tentu sesuatu yang baik. Propaganda lebih dekat dengan hal negatif, seperti hasutan, fitnah, hate speech dan sebagainya. Misal hasutan, melalui propaganda juga membuat orang-orang rasional mau bertindak jahat terhadap orang lain. Pelebaran sayap terhadap di’ayah begitu riskan sebab mengandung unsur paksaan. Dan Sugik Nur melampaui itu semua. 

Pada akhirnya, yang dilakukan oleh Sugik Nur itu jelas mencederai kultur dakwah di Indonesia. Wallahu A’lam.

Total
1
Shares
1 comment
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Sampai Di Tahap Mana Kita Meneladani Akhlak Nabi Muhammad Saw?

Next Article

Peringatan Maulid Nabi, Sarana Berukhuwah dengan Cinta

Related Posts