Sampai Di Tahap Mana Kita Meneladani Akhlak Nabi Muhammad Saw?

Tsaqafah.id – Hari ini, kita sudah berada di bulan Rabiul Awal, bulan kelahiran Nabi Muhammad Saw.  Tepat di tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah Rasulullah Saw dilahirkan.

Banyak peristiwa penting terjadi bertepatan dengan hari kelahiran Rasulullah, salah satunya adalah bala tentara Raja Habasyah yang hendak menghancurkan Makkah al Mukarramah. Namun, seperti yang dikisahkan Syaikh Umar Abdul Jabbar dalam kitab Sirah Nurul Yaqin, Allah Swt membinasakan tentara tersebut demi menghormati kelahiran Nabi Saw.

Sebagai muslim, Rasulullah Saw adalah suri teladan di kehidupan dunia agar selamat dan kelak bisa menjadi bekal menuju kehidupan yang kekal di alam akhirat.

Di bulan Rabiul Awal atau disebut bulan Maulid, kita sering jumpai berbagai eskpresi peringatan kelahiran baginda Nabi Muhammad Saw. Salah satunya, peringatan ‘Muludan,’ membaca shalawat barzanji selama sebulan penuh.

Mengenang kelahiran Nabi Saw adalah momentum untuk mengingat pribadi kita yang berusaha mencontoh pribadi Rasul, salah satunya dengan meneladani akhlak Beliau Saw.

Disebutkan di berbagai literatur keIslaman, Rasulullah Saw dikenal sebagai pribadi yang memiliki keutamaan sifat, seperti dapat dipercaya (amanah), menyampaikan dengan benar (tabligh), jujur (sidiq), cerdas (fatanah), ramah, damai, bijaksana, suka menolong, membela yang lemah, mengasihi anak yatim, selalu memaafkan, dan sosok arif yang bersahaja.

Kesempurnaan akhlak Nabi Saw banyak disebutkan oleh para sahabat, Ummul Mukminin Aisyah Ra bahkan sampai menyebutkan bahwa Nabi Saw adalah al-Qur’an yang hidup di tengah masyarakat.

Baca Juga: Apa yang Harus Dikerjakan Santri Milenial di Masa Kini?

Dalam al-Qur’an, Allah Swt menyebut keutamaan-keutamaan akhlak Rasulullah Muhammad Saw dalam Q.S Al-Ahzab ayat 21 ;

لَقَدْكَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌحَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُواْاللهَ وَالْيَوْمَ الْأَخِرَوَذَ كَرَاللهَ كَثِيرًا (الأحزاب :)21

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswah hasanah (suri tauladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat . . . . . . dan dia banyak menyebut Allah.” (Q.S Al-Ahzab: 21)

Dalam kitab Ihya Ulumuddin, sufi mashur Imam Al-Ghazali mengutip sabda Rasulullah, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Diantara akhlak terpuji Nabi Saw adalah memperlakukan sahabat dengan baik, menghormati yang lemah, berkata lembut, memberi makan orang miskin, menyebarkan salam, menjenguk orang muslim yang sakit (baik yang berakhlak terpuji ataupun tidak), mengantarkan jenazah orang muslim, memperlakukan tetangga dengan baik (muslim ataupun non muslim), memberi pada yang membutuhkan, menghadiri jamuan dan mendoakannya, senang mendamaikan, pemurah, mulia, toleransi, menahan amarah, dan mudah memaafkan.

Bagi umat muslim sangat penting sekali mengedepankan akhlak mulia (akhlak alkarimah) dalam segala hal karena itulah kunci keberhasilan. Rasulullah Saw juga bersabda, “Tidak ada seauatu yang lebih mulia berat timbangannya (kelak di akhirat) daripada akhlak yang mulia.”

Begitu mulianya pribadi dan akhlak Nabi Saw, sebagai umatnya sudah selayaknya sifat-sifat Beliau Saw kita jadikan contoh. Sampai sifat dan perbuatan kita yang berkebalikan dari Nabi Saw harus ditinggalkan, seperti sifat kikir, sombong, suka berbohong, ingkar janji, menindas  yang lemah, korupsi, membenci orang lain, anti toleransi, dan masih banyak lagi.

Mencontoh akhlak Nabi Saw dengan baik tentu tidaklah mudah sehingga yang perlu kita lakukan adalah melatihnya terus-menerus, sedikit demi sedikit. Jika memang belum bisa memaafkan semua kesalahan teman kita, maka mencoba untuk memaafkan satu orang per hari menjadi lebih baik daripada tidak sama sekali bukan, dan jika belum sanggup bersedekah rutin satu juta rupiah setiap bulan, memberi makan orang yang kelaparan di sekitar kita menjadi lebih baik tentunya.

Dengan selalu mengedepankan akhlak yang baik (akhlak alkarimah) di manapun dan kapanpun, maka akan dengan mudah kita menjalani kehidupan sehari-hari karena sesungguhnya ajaran yang dibawa Rasulullah Muhammad Saw tidak untuk mempersulit umatnya. Semoga kita dapat mencontoh akhlak Nabi Saw setiap harinya.

Total
2
Shares
1 comment
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Menjadi Muslim yang Gembira dan Tak Mudah Curiga

Next Article

Melulu Bicara Azab, Da'i Tersohor itu Dakwah atau Di’ayah Sih?

Related Posts