Apa yang Harus Dikerjakan Santri Milenial di Masa Kini?

Tsaqafah.id – Sebentar lagi kita akan memperingati Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober. Peringatan yang lumrah diisi dengan perayaan, alangkah baiknya juga diisi dengan muhasabah. Sebagai santri saya mengajak teman-teman santri untuk kembali merenung dan menatap lingkungan kita saat ini.

Bahwa memasuki revolusi industri 4.0 dunia menjadi semakin kompleks dengan segala kesibukannya. Peran teknologi semakin nyata membentuk perilaku manusia. Internet menjadi bagian dari kehidupan keseharian. Meminjam istilah ‘internet of things’ kini semua alat teknologi telah saling tersambung satu sama lain. Sehingga pekerjaan dapat dikerjakan secara lebih efisien. Seperti pengembangan artificial intelligence untuk memantau kebutuhan kita. Sehingga jangan ‘kaget’ jika sedang asik berselancar di dunia maya lalu muncul iklan fashion yang rupanya juga sedang kamu cari. 

Fenomena tersebut menggambarkan bahwa dunia semakin menuntut akses kecepatan, terutama kecepatan informasi. Peristiwa di tempat A langsung bisa diketahui di tempat B dalam hanya hitungan detik. Sama cepatnya dengan mencari informasi ilmiah seperti akademik dan ilmu agama.

Seorang tak perlu kuliah jurnalisme untuk menjadi jurnalis. Eksis membahas politik juga tak perlu kuliah ilmu politik. Bahkan untuk dikatakan ustadz juga tak harus nyantri berlama-lama di pondok pesantren atau di institusi Islam. Ya, itu semua berkat teknologi internet sehingga informasi apapun dapat dipelajari sendiri secara mandiri dan masif.

Ototritas yang Kabur

Tom Nichols dalam bukunya ‘The Death of Expertise’ (2017) mengungkap fenomena yang mendesak para ahli. Mereka, dikatakan Nichols, umumnya mulai kehilangan otoritasnya akibat peredaran informasi yang sangat banyak dan begitu cepat. Internet membutakan orang karena sebagian besar manusia semakin malas membaca, mencari dan mengkonfirmasi informasi yang didapat. Hal ini menjadi celah banyaknya berita bohong (fake news) untuk turut menyerang dan semakin memperkeruh keadaan.

Dalam keilmuan keagamaan fenomena ini banyak digunakan untuk menyerang otoritas ulama, ustadz atau da’i. Beberapa orang hanya belajar dari internet tentang ilmu agama kemudian merasa sudah cukup ilmu sehingga berani berceramah.

Tentu saja hal itu sangat berbahaya. Karena tanpa keilmuan yang cukup dan matang penceramah justru dapat menyesatkan. Atau membawa pada pemahaman yang keliru pada para jamaahnya dalam memahami agama. Hal ini menjadi tantangan bagi pegiat pesantren dan santri pada khususnya.

Selama ini pesantren memang tak hanya menjadi lembaga keagamaan dan tempat ber-tafaqquh fiddin. Pesantren terbukti menjadi kekuatan utama dalam mengusir dan menghapus praktik kolonialisme, yang mengantarkan pada kemerdekaan bangsa. Sekarang pesantren kembali dihadapkan pada peran seperti itu lagi, tetapi dengan bentuk yang berbeda.

Baca Juga: Menyikapi Mode Jilbab Anak dan Nafas Islam yang Segar

Jika dahulu bentuk penindasan dan penjajahan begitu terlihat nyata, kini kolonialisme gaya baru, jika boleh dikatakan telah berubah bentuk menjadi informasi yang begitu banyak dan tidak terbendung. Seperti dikatakan Nichols bahwa informasi yang begitu banyak akan membuat manusia semakin bingung dan menjadikan ia lebih menyukai informasi yang ingin didengarnya saja sehingga menimbulkan sikap apatis dan tertutupnya sikap open minded. Maka penyebaran informasi yang benar amat penting untuk membendung bahaya-bahaya tersebut.

Namun seperti yang saya ingat, seorang guru pernah mengatakan bahwa sebelum kita berbicara atau menyampaikan suatu ilmu, kita dituntut untuk mengetahui ilmunya. Hingga penyampaian ilmu tidak bisa dilakukan setengah-setengah tetapi menyeluruh dan utuh. Hal seperti itulah yang terkadang membuat santri yang sudah mondok bertahun-tahun pun kadang belum berani untuk tampil sebagai pendakwah, apalagi dunia pesantren juga telah menumbuhkan budaya yang kental dengan nafas tawadhu . Tetapi hal seperti itu tidak berlaku untuk semua santri, banyak juga santri yang menjadi pendakwah setelah selesai mondok.

Pribadi yang Lentur

Sehingga yang perlu digaris bawahi sekarang adalah bukan perkara santri yang harus jadi pendakwah, namun substansi dari dakwah itu sendiri. Dalam pelajaran pesantren kita mengenal beberapa bentuk dakwah yang dapat dilakukan, yaitu dengan bil lisan (seruan), bil hal (perbuatan), dan bil kalam (tulisan). Saya tidak hendak menguraikan satu persatu karena akan panjang nantinya, apalagi sekarang juga bertambah bil sosmed.

Kembali lagi, arus informasi yang serba cepat tersebut menjadi refleksi para santri untuk harus cepat pula dalam belajar dan belajar (tholabul ilmi). Tugas santri memang pada dasarnya adalah belajar. Hingga menyemai kembali kebudayaan yang adiluhung dalam Islam yaitu belajar tersebut perlu selalu ditingkatkan untuk bekal ketika sudah keluar dari pesantren.

Santri juga harus mampu melihat realita dan fenomena, dimana ia harus mampu mengamati hingga bisa membaur namun tak melebur, artinya santri juga harus mampu membaur di segala segmen masyarakat sambil memegang erat nilai-nilai kesantriannya. Dengan begitu ia tak akan larut dalam fenomena namun mampu bersyiar di tengah fenomena.

Hingga tidak perlu lagi santri terlalu kaku menilai dan mengomentari model dan kebiasaan beribadah seseorang yang mungkin agak berbeda dari dirinya. Bukan dengan mendikte, itu salah atau benar. Namun bagaimana kita menyampaikan nilai-nilai yang kita anut secara perlahan, baik dengan seruan damai, melalui perbuatan atau tulisan. Sikap open minded untuk belajar dari berbagai penjuru, golongan dan sektor akan menjadikan santri lebih luas menjangkau area syiarnya karena menjadi lebih luas cara pandangnya.

Dengan hadirnya santri di berbagai sektor, baik pendidikan, ekonomi, budaya dan lainnya maka diharapkan dapat membendung arus fundamentalisme dalam beragama yang menyalahkan ketika tidak sama dengan yang diyakini. Santri harus bisa menjadi yang pertama dalam  menyebarkan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin, dari mulai di daerah pelosok, pedesaan, sampai mancanegara, terlebih pada muslim kelas menengah perkotaan yang cukup banyak. Sehingga kehausan sentuhan agama di tengah masyarakat urban dapat terobati pada jalan yang semestinya. Dimana mayoritas Islam yang berkembang di Indonesia adalah Islam yang moderat, Islam wasathiyah yang mengantarkan pada masyarakat madani (civil society). Selamat Hari Santri Nasional!

Total
3
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Bagaimana Cara Kita Mengimani Rukun Iman?

Next Article

Menjadi Muslim yang Gembira dan Tak Mudah Curiga

Related Posts