Menyikapi Mode Jilbab Anak dan Nafas Islam yang Segar

Baru-baru ini warganet muslim disentuh dengan sebuah isu yang cukup menggelitik. Munculnya liputan DW Indonesia yang dalam video viralnya tersebut, Nong Darol dan Rahajeng Ika menekankan pada titik identitas. Keduanya menjelaskan, dalam prespektif masing-masing, bahwa jilbab tidak hanya berarti penutup kepala, tetapi juga ajaran agama sekaligus identitas yang dapat berdampak secara psikologis dan sosiologis.

Di sini saya tidak akan membahas Islamophobia atau ekslusifisme yang sudah banyak dikaji. Saya rasa yang tergelitik dengan liputan tersebut, mayoritas adalah golongan muslim sejak dini, dan memeluk Islam dengan ikut saja jalur keturunan. Dimana pembiasaan menggunakan jilbab sejak dini adalah hal yang lumrah. Tersebut dengan harapan, ketika menginjak usia baligh, ia sudah terbiasa dengan kewajiban menutup aurat, serta tidak merasa kaget dan risih dengan mengenakan pakaian yang sesuai batasan-batasan Islam dalam menutup aurat.

Modern ini, langkah tersebut seharusnya menjadi sesuatu yang tak lagi tabu, apalagi sampai dikatakan berdampak pada psikis. Pasalnya, sekarang ini mode fashion jilbab anak sudah semakin variatif, seperti dengan desain gambar karakter anak yang menggemaskan, misalnya. Sehingga, dalam mengenalkan jilbab kepada anak bisa dengan cara lebih indah dan mudah diterima oleh anak usia dini. Alih-alih bicara soal komoditas agama, betapa gemas kita melihat anak perempuan kecil memakai jilbab yang sangat lucu-lucu modelnya?  

Selain sebagai usaha mengenalkan Islam sejak dini, di masa usia batita rambut anak perempuan masih baru tumbuh sedikit, lalu orang tua berinisiatif memakaikan kerudung sebagai penutup kepala supaya lebih terlihat cantik. Bagi saya, inisiatif itu merupakan hak orang tua akan membentuk anak yang seperti apa.

Mengenalkan jilbab sebagai bagian dari menutup aurat, bukankah sama halnya dengan mengenalkan ajaran-ajaran baik lainnya yang dimulai sejak dini?

Kalau saya melihat foto-foto masa kecil saya yang dijilbabi oleh ibu saya dengan jilbab polos dan saat itu saya manut-manut saja, apa saya ada penyesalan? Mungkin bisa jadi beberapa teman ada yang tidak terima atas perlakuan orang tua dalam memberikan model busana di masa kecil. Tapi, saya justru merasa aman dan nyaman ketika sudah dewasa, dan melihat foto-foto masa kecil saya yang sudah berjilbab.

Baca Juga: Kenapa Perempuan Harus Berhati-hati dalam Berfoto ?

Cerita yang cukup menarik di hidup saya semasa Sekolah Dasar, terjadi sekitar tahun 2006, saya masih duduk di kelas empat. Awal tahun ajaran baru, orang tua saya menawari untuk memakai seragam panjang lengkap dengan kerudung panjang. Padahal, saya sekolah di sekolah negeri yang siswinya belum ada yang memakai jilbab.

Keder nggak tuh? Sebagai satu-satunya siswi yang pakai seragam panjang dan berjilbab? Apalagi saya biasa berangkat atau pulang bareng dengan  tetangga saya yang Katolik. Awalnya sedikit rikuh, tapi lama-lama ya biasa saja. Kayak yang, ajaran agamaku ya begini, ajaran agamamu ya begitu.

Tapi apa hanya dengan jilbab, bisa memutus pertemanan kami? Tentu tidak. Sekarang juga saya punya banyak sekali teman yang tidak berjilbab, melepas jilbab, bahkan non-muslim.

Seperti prestasi yang dipaksakan bagi saya, tanpa disadari sedikit banyak saya berhasil menginfluence  teman-teman saya, yang setahun pasca memakai jilbab itu, kemudian banyak yang mulai mengenakan jilbab. Meskipun saat itu mereka masih memakai seragam pendek. Kemeja putih pendek, rok merah pendek, tapi pakai jilbab. Meskipun saat lulus dan pindah ke SMPN, banyak juga yang melepas jilbab. Mungkin tersebut adalah sebuah usaha pencarian identitas bagi mereka. Mungkin.

Nafas Islam perlu disegarkan kembali dengan narasi-narasi yang mampu memberi angin sejuk, khususnya bagi para muslim sendiri. Perkara jilbab anak yang seharusnya bisa dilihat dari sudut pandang yang sungguh indah, mengapa harus dipermasalahkan? (*)

*Lulu’il Maknun, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, bisa bersua lewat @mutiara.dlulu@gmail.com

Total
2
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article
Bolehkah muslimah berfoto

Kenapa Perempuan Harus Berhati-hati dalam Berfoto ?

Next Article
Belajar Menjadi Perempuan Berdaya

Menikmati Dunia Petualang dan Belajar Menjadi Perempuan Berdaya dari Film Enola Holmes

Related Posts