Kisah Wali Allah

Kisah Pertemuan Dua Wali Allah

Abu Qosim An-Naisaburi menceritakan kisah dua orang ‘gila’ dari Kufah dan Basrah. Keduanya terkenal karena kenyelenehan serta kecintaannya kepada Allah. Bagaimana jadinya apabila dua orang ini saling bertemu?

Abu Wahid Buhlul ibn Umar ibn al-Mughirah al-Majnun adalah seorang ‘gila’  dari Kufah. Orang biasa memanggilnya dengan panggilan Buhlul.

Kisah dari Umar ibn Jabiir al-Kufi, Buhlul melewati sekelompok anak kecil yang tengah menulis. Tiba-tiba anak-anak tersebut memukuli Buhlul. Melihat kejadian itu, Umar bin Jabir datang dan bertanya kepada Bahlul,

“Kenapa tidak engkau adukan mereka kepada ayah mereka?”

“Diam!” Perintah Buhlul.

“Ketika aku mati, mereka akan meningat suka cita pada saat ini, kemudian mereka akan berdoa, semoga Allah mengasihi orang gila itu.” Jelas Bahlul kepada Umar bin Jabir.

Sementara orang ‘gila’ lainnya, Sa’dun memiliki nama asli Abu Atha’ Said al-Majnun. Beberapa cerita menyebutnya berasal dari Basrah. Sa’dun juga terkenal karena kegilaannya. Suatu ketika Muhammad bin ash-Shaba bertemu Sa’dun dengan baju penuh coretan. Pada jubanya tertulis,

Wahai mataku, menangislah sebelum kepergiaku

Sampai kelopak mataku bosan karena air mata yang terus mengalir

Berkabunglah atas kematian yang memang telah digariskan

Ratapilah diriku sebelum perpisahan tiba

Al-Husain mengisahkan pertemua dua orang gila ini. Suatu hari Sa’dun datang berkunjung kepada Buhlul. Dalam pertemuan . . . . . . tersebut, Sa’dun memulai pembicaraan dengan memohon nasihan kepada Buhlul.

“Berilah saya nasihat, jika engkau tidak mau memberikan nasihat, maka saya akan memberikan nasihat kepadamu.”

“Berilah saya nasihat wahai saudaraku” Buhlul berkata kepada Sa’dun. Keduanya sama-sama merendah dengan mempersilahkan saudaranya untuk memberi nasihat terlebih dahulu. Tetapi akhirnya Sa’dun yang memulai dahulu.

Sa’dun memulai menasehati Buhlul. Agar menjaga diri Buhlul dari Buhlul. Apa maksud dari perkataan Sa’dun ini?

Tubuh adalah Kendaraan

Maksud dari nasihat tersebut adalah agar Buhlul bisa bebas dari keterpenjaraannya. Penjara yang dimaksud adalah dunia yang bukan rumah bagi Buhlul. Dunia yang ditempati ini menjadi penjara yang dapat mengekang diri untuk menuju kepada-Nya.

Setelah mendengarkan Sa’dun, Buhlul bergantian untuk memberikan nasihat kepada saudaranya tersebut.

“Saya juga punya nasihat untukmu.” Buhlul berkata kepada Sa’dun.

“Katakanlah!” Jawab Sa’dun.

“Wahai Sa’dun, jadikanlah tubuhmu sebagai kendaraanmu!” Buhlul menasihati Sa’dun.

Apa maksud dari kalimat tubuh sebagai kendaraan? Untuk membawa bekal ilmu dan pengetahuan. Dengan demikian, maka tubuh berjalan ke arah jalan yang dapat menghasilkan kemanfaatan.

Ketika sedang menanggung berat pikulan itu, sembari juga mengingat ihwal jalan panjang menuju-Nya . Dengan mengingat tujuan tersebut, beban itu tidak akan terasa.

Setelah saling mendengar nasihat masing-masing, tiba-tiba kedua kekasih Allah ini menangis tersedu-sedu.

Total
3
Shares
2 comments
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article
Generasi Muslim Muda

Berjumpa dengan Generasi Muslim Indonesia: Moderen, Relijius, Makmur, dan Universal

Next Article
Pertanyaan Seputar Agama

Sudut Agama yang Selalu Dipertanyakan

Related Posts