Skip to content
Kolom
Beranda/Kolom/Menaja Nahdlatul Ulama sebagai Pengetahuan (3): Gus Dur adalah Dunia yang Serba Mungkin

Menaja Nahdlatul Ulama sebagai Pengetahuan (3): Gus Dur adalah Dunia yang Serba Mungkin

4 Kali Dibaca
Bagikan:
Menaja Nahdlatul Ulama sebagai Pengetahuan (3): Gus Dur adalah Dunia yang Serba Mungkin
🎨 Visual Essay

Ringkasan Menaja Nahdlatul Ulama sebagai Pengetahuan (3): Gus Dur adalah Dunia yang Serba Mungkin

Artikel ini mengulas pemikiran Gus Dur dalam mendudukkan hubungan Islam dan negara modern. Penulis menyoroti upaya Gus Yahya dalam membawa Nahdlatul Ulama keluar dari jebakan polemik pra-modern yang tidak empiris, menuju pendekatan yang lebih substantif dan relevan bagi tantangan kebangsaan serta kebebasan beragama di Indonesia masa kini.

Tsaqafah.id – Sementara banyak umat Islam saat ini yang masih bingung tentang bagaimana sebenarnya hubungan operasional antara Islam (sebagai agama) dan negara modern.

Di seluruh dunia, kita banyak menemukan adanya tren formalisasi agama sebagai sistem legal yang dominan. Tidak terkecuali Indonesia, seperti yang diperlihatkan tidak hanya oleh ambisi beberapa organisasi muslim, tetapi juga oleh tindakan pemerintah daerah tertentu.

Indonesia misalnya, sebagai negara, masih terlibat dalam mendefinisikan batas-batas “ortodoksi”. Sebagaimana tercermin dalam undang-undang penistaan agama, dimana negara mendefinisikan mereka yang dianggap sesat/kafir, dan kemudian memperlakukan mereka seperti warga negara kelas dua.

Hubungan antara Islam dan negara ini harus diatasi dengan pemikiran Islam yang melampaui zamannya. Jika negara benar-benar menganut kebebasan beragama, polemik dalam menentukan keyakinan mana yang benar dan mana yang sesat atau kafir akan menjadi antitesis terhadap jiwa dan karakter bangsa itu sendiri.

Baca juga Menaja NU sebagai Pengetahuan (1): Mencari Belerang Merah

Islam harus menjauh dari polemik pra-modern

Tentu saja, pikiran yang maju membutuhkan pengalihan konsentrasi terhadap pernyataan polemik yang, sering kali tidak empiris dan tidak dapat diverifikasi.

Gus Yahya mencoba menjauhkan Nahdlatul Ulama dari polemik pra-modern itu, mula-mula dengan menawarkan pendekatan baru untuk mentakwili berdirinya Nahdlatul Ulama. Berdirinya Nahdlatul Ulama, menurut Gus Yahya, bukan untuk mendirikan negara di dalam negara. Melainkan merintis peradaban baru yang terakhir dipegang oleh Turki Usmani.

Peradaban baru yang dicita-citakan oleh Nahdlatul Ulama adalah peradaban yang bersifat rohani, spiritual yang dibutuhkan oleh manusia secara universal. Karena itu, meminjam istilah Gus Yahya, Nahdlatul Ulama yang relevan adalah Nahdlatul Ulama yang mampu menghadirkan khidmah yang dibutuhkan, yaitu keajegan mempersembahkan maslahat-maslahat yang bisa dirasakan secara nyata.

Nahdlatul Ulama lalu menjadi perwujudan peran masyarakat sipil yang menyokong pemerintahan negara dalam mencapai tujuan-tujuan negara, baik dengan kerja sama maupun kontrol. Gagasan yang disegarkan kembali ini sangat penting dan dibutuhkan untuk menghadapi tantangan abad baru, karena menekankan gagasan yang mengikuti tren peradaban dunia. 

Baca juga Menaja Nahdlatul Ulama sebagai Pengetahuan (2): Krapyak 1989

Pemikiran yang berorientasi peradaban sangat dibutuhkan untuk Islam saat ini, mengingat pandangan-pandangan ekstremisme agama yang kurang lebih hanya merupakan transfer Islam abad pertengahan ke abad 21.

Bentuk Islam abad pertengahan adalah kemunduran, atau bahkan keterbelakangan. Yakni sebuah interpretasi fundamentalis dan literalis dari Kitab Suci dan tradisi Islam yang justru membawa kesenjangan sejarah dan menjadi sesuatu yang irrelevan. 

Gus Yahya dengan begitu mendorong cendekiawan Nahdlatul Ulama untuk menemukan preseden dalam teks-teks klasik dan menafsirkannya kembali melalui perspektif baru.

Meminjam dari Presiden Sukarno, yang kita butuhkan saat ini dari Islam adalah “api”nya, bukan “abunya”. Dan untuk menghidupkan nyala api itu, dibutuhkan bahan bakar yang, bisa jadi nalar kritis atau sains modern, dan atau budaya?

Makna Jam’iyyah

Nahdlatul Ulama mengenang Gus Dur lebih dari bentuk nostalgia yang menghibur. Jika pun kerinduan terhadapnya kemarin-kemarin masih sering hadir, bahkan di kap belakang truk, dekade ini mereka paham bahwa kerinduan itu lebih dari sebuah kerinduan, Gus Dur adalah dunia yang serba mungkin.

Gus Dur adalah “dunia yang serba mungkin”, penuh rahasia, penuh kelokan dan ironi. Dunia macam itu digerakkan oleh semangat untuk terus mencoba dan menjajal segenap rahasia hidup. Kebebasan menjadi penting di sana. Tak ada otoritas yang bisa menentukan sesuatu. Semua jenis kekangan dicairkan karena umat dari dunia hanya ingin menuruti perasaan hatinya, meminjam kalimatnya Roestam Effendi, sebab laguku menurutkan sukma.

Gus Dur melunakkan segala pengekangan yang menyangkut harkat dan martabat manusia, kerena itu Gus Dur adalah kemanusiaan universal itu sendiri. Tidak heran kemudian Gus Yahya bertanggung jawab untuk menghidupkan Gus Dur. 

“Ketika saya ditanya, apa ini, mau dibawa ke mana NU ini. Saya bilang dengan sikap “Menghidupkan Gus Dur”. Karena saya sendiri yakin bahwa memang masa depan yang masuk akal itu adalah masa depan seperti yang dipahami oleh Gus Dur, yaitu masa depan kemanusiaan universal.” 

Baca juga Antara GOAT, Piala Dunia dan Muktamar NU ke-35

Sependek pengetahuan, agenda besar “Menghidupkan Gus Dur” harus melewati dan mengubah beberapa hal fundamental terlebih dahulu. Pertama, meminjam The Special One: Jose Mourinho, strategi awal dalam menahkodai sebuah tim sepakbola adalah mengenali karakter supporter (understand your audience) terlebih dahulu.

Gus Yahya berusaha mengenali karakter nahdliyin dengan memperkuat jaringan kaderisasi jauh sampai mengakar di tingkat akar rumput. Kaderisasi ini hal mendasar namun keuntungannya bisa dikelola dalam jangka waktu yang sangat panjang.

Dengan kaderisasi, Gus Yahya tidak sedang melatih orang untuk menjadi NU melainkan melatih orang NU untuk menyelami makna jam’iyyah, perkumpulan. Mengkapitalisasi modal sumber daya manusia dengan didikan sebagai titah masa depan dalam membangun konstruksi peradaban baru yang berfaedah bagi Indonesia dan dunia internasional.

Kedua, Nahdlatul Ulama didirikan bukan sebagai panggung hiburan. Pranata Nahdlatul Ulama bekerja di wilayah umat dan kebangsaan. Orang tidak lantas naik daun tanpa keunggulan psikologis dalam mengabdi (khidmah) kepada Nahdlatul Ulama. Keyakinan lama mengatakan, siapa yang berkhidmah kepada Nahdlatul Ulama secara tulus, ia akan menuai keberkahan kelak di kemudian hari.  

Baca juga Berkaca dari Mukmin, Apakah Watak Humor NU Telah Tergerus?

Strategi yang tidak kalah penting dalam upaya “Menghidupkan Gus Dur” adalah merajut dan mendekatkan kembali Nahdlatul Ulama ke dalam kancah pergulatan dunia internasional. Indonesia, kalaupun benar, masih dianggap menduduki kasta negara underdog, pengekor.

Tapi bukankah yang tersepelehkan itu justru mempunyai peluang besar untuk memuncak?

Dari sini kita memahami apa yang disebut The Special One sebagai “the underdog attack”, serangan tim tak diunggulkan sebagai jalan panjang Nahdlatul Ulama untuk hadir sebagai rumah kembali Islam di kancah internasional.

Mengingat pertarungan raksasa geopolitik antara Amerika Serikat dan China, antara Arab Saudi dan Iran, telah menjadikan dunia terbelah, bahkan tercabik-cabik. Muncul juga gerakan-gerakan ekstremis, yang menjadi beban dunia Islam semakin berat.

“Kalau dunia terpecah belah seperti ini, peradaban manusia tidak akan bisa bertahan. Harus ada solusi yang serius”, ujar Gus Yahya dalam banyak kesempatan.

Baca juga Ingatan yang Memberiku Nafas Panjang dalam Mengenal Gus Dur

Pada satu dekade ke belakang, Gus Yahya sudah malang-melintang di kancah internasional untuk memperkenalkan sebuah nomenklatur baru dalam diskursus agama-agama, yaitu “Humanitarian Islam”. Gagasan ini menjadi trade mark dari upaya Gus Yahya menyaringkan kembali gagasan Gus Dur. Islam humanis ibarat oase di tengah gersangnya nilai-nilai kemanusiaan di seantero dunia.

Melalui “Humanitarian Islam” ini Gus Yahya mendorong semua pengikut agama untuk terlebih dahulu memaknai dunia sebagai tempat hidup bersama, rahmatan lil ‘alamiin. Kemudian mendorong rahmah atau kasih sayang sebagai nilai-nilai peradaban yang fardu dipraktikkan sebagai jalan tengah antar konflik lintas peradaban. Setelah itu, baru di lingkaran NU kita menggerakkan paradigma kontekstualisasi atau rekontekstualisasi dari wawasan-wawasan keislaman agar Islam menjadi solihun li hadzihi zaman.

“Kita harus rumuskan dulu gagasannya agar gerakan globalisasi NU ini dibangun di atas gagasan yang kokoh”, kata Gus Yahya di sebuah kesempatan.

Menghidupkan Gus Dur. Warisan dan pemikiran Gus Dur sebenarnya akan selalu hidup, khususnya melalui Gusdurian, anak-anak ideologis Gus Dur. Tetapi kata “menghidupkan” mempunyai makna progresif; gagasan Gus Dur harus hidup pada masa kini dan masa yang akan datang. Kata itu mempunyai energinya tersendiri, karena manifesto “Menghidupkan Gus Dur” akan senantiasa didukung sepenuhnya melalui infrastruktur struktural NU.

Pertanyaan Seputar Topik Ini

Bagaimana pandangan Gus Dur mengenai hubungan Islam dan negara?
Gus Dur memandang hubungan Islam dan negara tidak perlu terjebak dalam formalisasi agama, melainkan mengedepankan substansi nilai yang menghargai kebebasan beragama dan karakter bangsa.
Apa yang dimaksud dengan polemik pra-modern dalam konteks NU?
Polemik pra-modern merujuk pada perdebatan teologis yang bersifat dogmatis, tidak empiris, dan sering kali menghambat kemajuan pemikiran Islam dalam merespons tantangan negara modern.
Mengapa Nahdlatul Ulama perlu melakukan rekontekstualisasi pemikiran?
Agar NU tetap relevan sebagai organisasi yang mampu memberikan solusi atas persoalan kebangsaan tanpa terjebak dalam definisi ortodoksi yang diskriminatif terhadap warga negara.

Dukung Kanal Suara Muslim Muda

Suka dengan konten kami? Dukung terus Tsaqafah.id untuk memproduksi konten literasi Muslim yang mencerahkan.

Mulai Berdonasi
Bagikan Artikel Ini