Tsaqafah.id – Ibnu ‘Arabi mencatat bahwa sepanjang hayatnya, Ibnu Rushd selalu membaca buku setiap malam dan hanya berhenti pada dua momentum: malam kematian ayahnya dan malam pernikahannya. Kisah memukau ini saya temukan dalam buku Mencari Belerang Merah tulisan Claude Addas (1989).
Para sufi menggunakan istilah ‘Mencari Belerang Merah’ (Al-Kibrit al-Ahmar) untuk menggambarkan ikhtiar spiritual dalam menemukan seorang mahaguru.
Istilah yang melekat kuat pada laku hidup Ibnu ‘Arabi ini menjadi kontras yang menarik jika kita sandingkan dengan serangan Imam al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Filsafat) yang berjuang menjaga basis teologi Islam dari kerusakan.
Ibnu Rushd membalas serangan al-Ghazali dengan menulis kitab “Tahafut at-Tahafut” (Kerancuan atas kerancuan). Pendeknya, kitab dibantah dengan kitab.
Ingatan saya tiba-tiba berbelok pada Kiai Wahab Hasbullah. Ulama besar, kharismatik nan bersahaja itu pernah mengatakan begini: “tidak ada senjata yang lebih tajam dan lebih sempurna lagi selain persatuan”.
Baca Juga Keberatan Gelar Pahlawan untuk Soeharto, Gus Mus: Orang NU Ikut Dukung Tidak Ngerti Sejarah!
Sedikit sekali tokoh Islam yang mampu melampaui sekat-sekat tradisional seorang kiai seperti Mbah Wahab. Melalui pergaulannya yang luas, ulama unik ini terjun langsung mengarungi dinamika ekonomi, sosio-politik, serta budaya nasional di tengah masyarakat
Agenda sosial yang dirancang oleh Mbah Wahab berhasil membakar gairah untuk mengakrabi kemelut yang berhadap-hadapan. Sebagai tali pancang penopang agenda sosial itu, Mbah Wahab memberikan terobosan untuk melakukan pemekaran kegiatan dan lembaga mulai dari organisasi Islam-nasionalis (Nahdlatul Wathon, 1916), organisasi intelektual (Tashwirul Afkar, 1918), organisasi kewirausahaan (Nahdlatut Tujjar, 1918), serta komite diplomasi keagamaan (Komite Hijaz, 1926).
Kiai Wahab merajut pola pemekaran agenda untuk mengajak umat berserikat seratus empat tahun lalu. Melalui langkah ini, beliau seolah mempraktikkan teori Ferdinand Tönnies. Tiga puluh satu tahun sebelumnya, sosiolog Jerman itu sudah meramal perubahan masyarakat modern. Mereka akan menggeser tumpuan kegiatan dari individu (gemeinschaft) menuju lembaga (gesellschaft).
Baca Juga Ulama Su’ dan Krisis Keteladanan
Saya tidak tahu, apakah Kiai Wahab membaca Tonnies atau tidak. Tapi sejauh yang saya tangkap resonansi perubahan sosial yang meluas saat itu, memberi nilai agung terhadap kontestasi sebuah lembaga dan bukan perorangan, dan orang-orang pesantren sudah melakukan itu jauh-jauh hari.
Kita bisa melihat Syuriyah sebagai sosok perorangan ketika kiai yang menjabat mampu menyelesaikan urusan agama secara mandiri. Namun fungsinya berubah menjadi lembaga saat keputusan-keputusan detail memaksa organisasi ini melahirkan jawaban lewat mekanisme musyawarah.
Fungsi lembaga, dalam hal ini Nahdlatul Ulama, merupakan kekuatan politik dan bukan institusi politik keagamaan. Sebagai kekuatan politik Nahdlatul Ulama memiliki serum yang menginjeksi nalar otoritatif agama yang sesuai dengan mekanisme istinbath al-ahkam untuk fungsi agama yang selaras dengan seru sekalian alam.
Melalui pembacaan barunya, Gus Yahya menerjemahkan paradigma pemekaran agenda ini sebagai upaya menghidupkan idealisme masa lalu. Idealisme itu ia fungsikan sebagai mesin penggerak untuk mengentaskan jangkar berkarat yang telanjur tenggelam dan merusak ekosistem karang di dasar laut.
Baca Juga Muhammad Al-Fayyadl : Seluruh Dunia sebagai Darul Dakwah bagi Umat Islam (1)
Gus Yahya menjuluki Kiai Wahab sebagai ‘wali peradaban’—sebuah laku yang al-Ghazali gambarkan seperti ‘Mencari Belerang Merah’. Langkah ini memperlihatkan bagaimana Gus Yahya mencari jangkar akademis dan spiritual yang kuat untuk meneruskan peta jalan Nahdlatul Ulama terhadap dunia.
Gagasan melahirkan sikap, sikap mendorong lahirnya perangkat, dan bagi Mbah Wahab, perangkat tersebut harus menjadi alat untuk mewujudkan gagasan secara nyata.
Dengan kata lain, bagi Mbah Wahab dan juga kemudian Gus Yahya, ide mestilah “bertangan” dan “berkaki”. Dengan begitu, keahlian bukanlah hanya sekedar melontarkan spekulasi dan info-info trivial belaka melainkan menggariskan gagasan terhadap pijakan yang kokoh.
Prinsip tersebut yang mengantarkan kita pada pemikiran tentang perlunya berserikat. Konsep berserikat mempertemukan berbagai kelompok dalam sebuah persekutuan. Di sana, mereka merumuskan sikap kolektif atas isu tertentu dan menyatukan energi untuk melangkah menuju tujuan bersama.




