Ringkasan Antara GOAT, Piala Dunia dan Muktamar NU ke-35
Artikel ini mengulas fenomena perdebatan GOAT dalam sepak bola sebagai analogi atas dinamika pemilihan kepemimpinan menjelang Muktamar NU ke-35. Penulis menyoroti kecenderungan publik dalam mencari sosok ideal, baik dalam olahraga maupun organisasi keagamaan, serta pentingnya melihat kriteria kepemimpinan yang melampaui sekadar popularitas nama-nama yang kini mulai bermunculan di ruang publik.
Tsaqafah.id – Selama dua dekade belakangan, publik sepak bola selalu terjebak dalam sebuah perdebatan yang seolah tidak punya titik akhir. Siapakah GOAT atau Greatest of All Time?
Sebagian meyakini Lionel Messi merupakan jawabannya. Hal itu dilihat dari perolehan trofi Piala Dunia, delapan Ballon d’Or, serta bakatnya mengatur ritme pertandingan dinilai sebagai bukti yang tidak bisa dibantah.
Di sisi lain, tidak sedikit yang menganggap Cristiano Ronaldo sebagai pesepak bola terbaik sepanjang masa. Rekor gol, kedisiplinan, serta konsistensi di berbagai liga menjadi alasan yang tidak kalah kuat.
Uniknya, perdebatan itu tidak pernah benar-benar berakhir. Bahkan, setelah Messi mengangkat trofi Piala Dunia 2022 di Qatar, diskusi soal GOAT terus berlangsung.
Kini muncul nama-nama pesepak bola baru seperti Lamine Yamal, Jude Bellingham, Erling Halland hingga Kylian Mbappé yang mulai dianggap sebagai suksesor generasi berikutnya.
Baca juga Menaja NU sebagai Pengetahuan (1): Mencari Belerang Merah
Penggemar sepak bola tampaknya selalu memiliki keinginan untuk mencari satu sosok yang disebut paling hebat.
Fenomena seperti ini sebenarnya tidak hanya ada di dunia sepak bola. Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang telah diumumkan pada akhir Agustus nanti tepatnya pada tanggal 27 sampai 30 Agustus 2026, ruang publik warga Nahdliyin sudah mulai ramai dengan berbagai spekulasi tentang siapa yang paling tepat untuk memimpin organisasi.
Ada beberapa nama yang dibicarakan, rekam jejak calon dibandingkan, dan dukungan pun mulai datang dari berbagai kelompok. Situasi seperti ini memang wajar terjadi pada organisasi besar.
Akan tetapi, ada sebuah pertanyaan menarik yang bisa kita ajukan. Apakah Nahdlatul Ulama sedang mencari seorang GOAT (Greatest of All Time) atau hakikatnya sedang mencari pemimpin yang siap mengemban tanggung jawab?
Pertanyaan ini dirasa sangat penting karena paradigma dari dunia sepak bola tidak selalu bisa diterapkan dalam konsep berorganisasi. Ketika pertandingan sepak bola, memang ada pemain yang bisa membuat perbedaan besar. Seorang pemain bisa saja mencetak gol penentu kemenangan atau mengubah ritme pertandingan lewat kemampuan individunya.
Baca juga Berkaca dari Mukmin, Apakah Watak Humor NU Telah Tergerus?
Kita perlu mengingat, dalam sejarah Piala Dunia menunjukkan bahwa tidak ada satu pemain pun yang bisa memenangkan piala secara individu.
Sosok Lionel Messi saat mengangkat trofi Piala Dunia bersama Argentina bukan hanya karena kemampuan individunya. Kita perlu lihat balik kesuksesannya, ada peran Lionel Scaloni sebagai pelatih yang menyusun strategi, Emiliano Martínez yang sering menyelamatkan gawang, Rodrigo De Paul yang bekerja keras di lini tengah, dan banyak orang lain yang membuat tim bekerja sama dengan baik.
Hal yang sama juga terjadi pada Cristiano Ronaldo, Lamine Yamal, Jude Bellingham, dan Mbappe. Mereka dapat dikatakan pemain hebat, tapi kemenangan mereka akan datang dari kerja sama tim.
Bercermin dari pelajaran di atas yang relevan bagi Nahdlatul Ulama. Sejak didirikan oleh para masayikh, Nahdlatul Ulama dibangun bukan atas dasar kultus kepada individu. Organisasi ini berkembang melalui tradisi jam’iyah, musyawarah, dan kepemimpinan bersama.
Sosok Rais Aam atau ketua umum Tanfidziyah memiliki peran penting, tapi inti kekuatan dari Nahdlatul Ulama terletak pada jaringan pesantren, para ulama tradisional, badan otonom, lembaga, dan jutaan warga Nahdliyin yang menjaga organisasi tetap hidup hingga tingkatan ranting.
Baca juga Gus Dur Jadi Topik Tesis di Universitas Kanal Suez, Bukti Tokoh Pesantren Berjelaga di Mesir
Saat menjelang muktamar, kita tidak hanya fokus kepada siapa yang paling populer atau berpengaruh. Hal yang lebih penting adalah apakah calon pemimpin bisa melestarikan tradisi keilmuan pesantren dan membawa Nahdlatul Ulama menjawab tantangan zaman?
Tantangan yang dihadapi NU saat ini sangat berbeda dari beberapa dekade lalu. Dewasa ini saat kepemimpinan Gus Yahya, perubahan besar terjadi pada sentral kemajuan digital yang mengubah cara masyarakat mencari pedoman agama. Polarisasi politik pasca pemilu masih meninggalkan luka dan perlu disembuhkan. Selain itu, perubahan besar di dunia, krisis lingkungan, peperangan, dan ketimpangan ekonomi menuntut organisasi keagamaan untuk memberikan gagasan yang tepat.
Dari sini kita perlu refleksi mendalam, perbedaan besar antara konsep GOAT dalam sepak bola dan kepemimpinan dalam Nahdlatul Ulama. GOAT didasarkan pada prestasi individu. Tetapi, kepemimpinan dalam tradisi NU berfokus pada amanah, tanggung jawab, serta pengabdian. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar tanggung jawab moral yang harus diemban.
Ada kaidah yang sering dikutip oleh Gus Dur yaitu Tasharruf al-imām ‘alā al-ra’iyyah manūthun bil-mashlahahyang artinya Kebijakan seorang pemimpin terhadap rakyatnya harus didasarkan pada pertimbangan kemaslahatan.
Seandainya kita relevansikan dalam koridor organisasi Nahdlatul Ulama, Pemimpin yang ideal mempunyai kebijakan organisasi yang berdasarkan kemaslahatan warga Nahdliyin.
Baca juga Memerkarakan Tahlil: Yang Salah Doanya atau Manusianya?
Pertanyaan secara fundamental apakah selama ini warga Nahdliyin sudah merasakan maslahah dari kebijakan organisasi? Atau NU hanya bergaris pada haluan ideologi dan melihat value kuantitas warga Nahdliyin?
Muktamar ke-35 mendatang mengingatkan kita bahwa jabatan bukanlah tujuan. Kepemimpinan adalah amanah yang akan diminta pertanggungjawaban, bukan sekadar tanda kehormatan. Oleh karena itu, pemimpin terbaik bukanlah mereka yang paling banyak dipuji, melainkan mereka yang paling mampu membawa maslahat umat.
Muktamar dalam kacamata Fair Play bukan ajang untuk mencari pemenang atau pecundang. Ini adalah momentum bagi para muktamirindan warga Nahdliyin untuk duduk bersama, membahas, dan menentukan arah organisasi. Dan dalam hal ini, Perbedaan pendapat adalah hal yang biasa dalam dinamika organisasi. Tetapi, ukhuwah dan komitmen untuk bersama harus tetap kuat.
Ketika dalam pertandingan sepak bola, pemain yang bertanding dengan keras selama waktu 90 menit tetap saling menghormati pasca pertandingan. Para pemain harus tahu bahwa pertandingan sudah selesai, tapi rasa respect harus tetap ada. Nilai ini juga harus ada di Muktamar NU. Setelah proses selesai, tak ada lagi saling kubu A atau kubu B.
Kita pernah merasakan saat muktamar NU ke-34 yang diadakan di Lampung. Polarisasi dari pemilih dari Gus Yahya dan Kiai Said Aqil Siradj sangat terasa di luar sidang maupun di dalam sidang. Akan tetapi, pasca keputusan sidang pemilihan ketua Tanfidziyah, sosok Gus Yahya yang dimandatkan sebagai pemilik suara terbanyak datang dan bersalaman mencium tangan Kiai Said Aqil Siradj. Istilah siyasah dalam NU merupakan hal biasa tapi sikap respect akan menjadi pembelajaran bagi warga Nahdliyin.
Terakhir, kita masih memperdebatkan siapa pemain sepak bola terbaik sepanjang masa?
Pertanyaan dari debat ini tidak akan pernah usai. Tetapi, Nahdlatul Ulama tidak sedang mencari sosok yang paling hebat. NU membutuhkan pemimpin yang khidmah melayani umat, menjaga warisan para ulama, dan membawa organisasi tetap relevan dalam tuntutan zaman.



