Berkaca dari Mukmin, Apakah Watak Humor NU Telah Tergerus?

Berkaca dari Mukmin, Apakah Watak Humor NU Telah Tergerus?

19 Juni 2026
6 dilihat
1 menit, 41 detik

Tsaqafah.id – Selama ini kita berpikir kalau urusan humor, NU adalah produsen utamanya. Guyonan khas pesantren, anekdot para kiai, hingga humor politik ala Gus Dur jadi cermin beragama yang lentur.

Sementara itu, publik sering kali mencap Muhammadiyah kaku dan puritan lantaran organisasi ini sibuk mengurus rumah sakit, universitas, serta tertib administrasi.

Tapi, benarkah peta itu belum berubah? Berkaca dari panggung Stand-up Comedy tempo hari, kiranya pergeseran itu mulai mencuat.

Baca Juga Apa yang Keliru Ketika Ulama Menjadi Tamu Tetap Istana?

Mukmin melengkapi line-up Muhammadiyah garis lucu. Dari panggung ke panggung komedi tunggal, kita melihat bagaimana anak-anak panah Muhammadiyah mulai piawai meramu keresahan menjadi tawa yang segar.

Humor memang tak punya kelamin, juga tak punya sertifikat kepemilikan organisasi. Meski jamak publik yang memintalnya dengan kultur NU, fakta hari ini memaksa kita untuk mengernyitkan dahi.

Muhammadiyah kini tidak hanya melahirkan para doktor dan birokrat, tapi juga para komika yang fasih mengocok perut publik.

Menurut saya, yang menampar NU bukan sekadar kemenangan Mukmin. Melainkan, dan ini menjadi hal yang paling menohok, justru profesi guru honorer yang dirayakan secara mutlak waktu Grand Final.

Baca Juga Arisan dan Sekufunya

Format penulisan materinya yang rapi, jujur, dan berani menertawakan getirnya realitas pendidikan mendapat pujian luar biasa dari dewan juri dan khalayak komedi.

Itu adalah kemenangan Mukmin sebagai seorang guru honorer yang bertaruh nasib, sekaligus sebagai kader Muhammadiyah yang berani “nyipil”—membawa identitas dan kultur gerakannya secara subtil, cerdas, tanpa perlu merasa superior atau menceramahi penonton.

Sejak gelombang Stand-up Comedy berkecambah di Indonesia, tak terhitung orang-orang lucu mendulang pamor mentereng.

Sementara itu, industri komedi modern yang terus berlari justru membuat NU gagap. NU seolah berjalan di tempat karena memilih bernostalgia dengan sisa-sisa kejayaan humor Gus Dur. Sampai-sampai abai bahwa NU sudah ngga lagi jadi produsen utama humor, bahkan urusan humor politik sekalipun.

Baca Juga Lets God will be done

Ketika kultur komedi bergeser dari sekadar tebak-tebakan atau anekdot lisan ke struktur komedi tunggal yang presisi, kritis, dan metodologis, anak-anak muda Muhammadiyah tampaknya lebih siap menjemput ruang itu.

Meskipun begitu, berkaca dari Mukmin, humor pada akhirnya tetaplah sebuah ekspresi batin yang jujur. Keresahan Mukmin otentik, kritik sosialnya tulus dan membekas di hati khalayak, itulah humor yang kompor gas!

Pertanyaannya sekarang, apakah NU akan terus bertahan sebagai konsumen nostalgia, atau siap melahirkan kembali para kreator tawa yang kontekstual dengan zaman kiwari? Gimana menurut kalian?

Profil Penulis
Afrizal Qosim
Afrizal Qosim
Penulis Tsaqafah.id
penulis lepas.

45 Artikel

SELENGKAPNYA