Skip to content
Kolom
Beranda/Kolom/Memasuki Abad ke-2: yang Hilang dalam NU

Memasuki Abad ke-2: yang Hilang dalam NU

33 Kali Dibaca
Bagikan:
Memasuki Abad ke-2: yang Hilang dalam NU

Ringkasan Memasuki Abad ke-2: yang Hilang dalam NU

Artikel ini menyoroti dinamika internal Nahdlatul Ulama di abad kedua, terutama mengenai fenomena hegemoni dan tantangan komunikasi publik yang memicu kekecewaan di kalangan pemuda NU. Penulis mengulas bagaimana respons elit organisasi terhadap kritik publik serta pentingnya meninjau kembali orientasi organisasi agar tetap relevan dengan nilai-nilai dasar yang diusung para pendiri.

Dibalik kontroversi-kontroversi PBNU dan beberapa kalangan NU belakangan ini, menurut saya ada hal-hal subtil yang sedang terjadi di dalam tubuh NU sendiri, ada fenomena yang meski sudah ada sebelumnya namun hari ini semakin menghegemoni.

Tsaqafah.id – Belakangan ini, sudah tidak asing kita jumpai komentar-komentar negatif di internet terkait organisasi terbesar Nahdlatul Ulama, apalagi komentar-komentar tersebut juga dilontarkan pemuda-pemuda NU sendiri yang nampaknya banyak memendam kecewa pada elit-elit NU hari ini. Namun, nyatanya komentar negatif itu seperti disambut nada yang sama oleh petinggi PBNU, Yahya Cholil Staquf. Beberapa hari lalu, ketika isi pidato Gus Yahya itu menjadi viral: “Sekarang ini yang penting kitanya ini bagaimana. Kita itu mikir bagaimana bisa saingan sama Muhammadiyah, bagaimana bisa pondok ini punya duit sendiri. Kitanya ini, kiai-kiai ini bagaimana dulu. Kalau ini belum beres, percuma semuanya,” ujar Gus Yahya sebagaimana dikutip dari sebuah cuplikan video viral tersebut (25/6/2026).

Banyak orang berpendapat bahwa komunikasi PBNU ke publik sangat buruk sehingga merespon komentar-komentar negatif. Beberapa sikap yang diambil terkait kondisi sosial ekonomi belakangan juga sering menjadi kontroversi, terlebih setelah beberapa ormas di Indonesia ini mendapat jatah tambang dari pemerintah. Padahal yang mendapatkan juga banyak ormas, namun agaknya NU-lah yang mendapat komentar cercaan paling banyak. 

Buruknya komunikasi publik adalah salah satu faktor yang mengorbankan NU secara keseluruhan. Perjuangan NU dalam memajukan masyarakat muslim yang sudah digagas dan dilakukan jauh-jauh hari sebelum Indonesia berdiri menjadi nampak kabur. Guru-guru, termasuk guru-guru madrasah dan sekolah Ma’arif di pelosok desa-desa yang telah lama ikhlas mengabdi menghidupkan cahaya keilmuan juga turut menanggung stigma yang sama; kolot, feodal, kemunduran.

Namun, dibalik seluruh kontroversi PBNU dan beberapa kalangan NU belakangan ini, menurut saya ada hal-hal subtil yang sedang terjadi di dalam tubuh NU sendiri, ada fenomena yang meski sudah ada sebelumnya namun hari ini semakin menghegemoni.

Kita perlu melihat lebih dalam sebuah fenomena yang mungkin bisa menjadi benang merah untuk kita menemukan jawaban tentang kenapa NU sekarang ini seperti terpontang-panting merespon arus modernisasi dan digitalisasi.

Baca juga Muhammad Al-Fayyadl : Seluruh Dunia sebagai Darul Dakwah bagi Umat Islam (1)

Satu dekade lalu, para elit NU atau para pengurus di PBNU sangat concern pada gagasan modernisasi islam dengan menghidupkan wacana pesantren untuk melawan ideologi transnasional. Hari santri yang diputuskan pada tanggal 22 Oktober adalah nomenklatur bagi NU dalam merebut wacana publik, dan konsentrasi kebijakan politik yang mendukung kaum santri. 

NU boleh berbangga tentang itu, NU memang tumbuh dari embrio pesantren. Namun, tentang fokus pengarusutamaan pesantren pada waktu menjelang abad pertama yang diupayakan banyak pihak tersebut, kita lupa bahwa NU tak hanya tentang pesantren. Ada NU yang juga hidup di surau-surau, langgar-langgar, dan pengajian rumahan – tanpa pesantren. 

Surau-surau dan langgar di kampung-kampung tersebut kebanyakan dihidupkan oleh kiai-kiai kampung, mereka tidak punya pesantren berupa bangunan tertentu atau sebuah yayasan, nemun saban hari mereka hidupkan surau dengan pengajian-pengajian kitab kuning untuk warga sekitar. 

NU yang Tidak di Pesantren

Selepas wafatnya Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, sang putra sebagai penerus, KH. Wahid Hasyim telah melakukan pembaruan di tubuh NU dengan memasukan pengetahuan umum di kurikulum pesantren. Pergerakan itu memicu tumbuhnya kelas-kelas sosial baru dari kalangan santri. Jika di zaman awal berdirinya, kebanyakan jamaah NU diisi oleh masyarakat petani, dengan pembaruan yang dibawa Kiai Wahid, memunculkan kelas-kelas lain seperti pedagang, guru, dan petugas administrasi di perusahaan kolonial. Meningkatnya kemampuan santri, yang tidak hanya pada pengetahuan agama telah memungkinkan mereka melakukan mobilisasi sosial.

Dalam buku Biografi Gus Dur yang ditulis oleh Greg Barton disebutkan bahwa Wahid Hasyim memasukan mata pelajaran umum di pesantren seperti ilmu bahasa, ilmu alam serta ilmu sosial didasari oleh pandangannya yang luas. Oleh kesadarannya pada arus modernisasi yang juga tumbuh dan timbul dengan adanya kolonialisme yang datang. Bagi Wahid Hasyim, selain belajar ilmu agama santri perlu dibekali ilmu bahasa, ilmu sosial, dan ilmu alam.

Tentu saja itu adalah pandangan yang progresif pada zaman itu—dalam tubuh umat yang tradisional. Jika KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah dengan modernisasi yang bercorak puritanisme, dimana Kiai Dahlan dipicu oleh kondisi sosial di kawasan Mataram yang sangat kental dengan ajaran kejawen yang bertentangan dengan syariat islam sehingga langkah awal yang ditempuh adalah memberantas TBC (tahayul, bid’ah, churofat). Sementara Kiai Wahid didasari oleh kesadaran akan perubahan zaman. 

Pembaruan yang telah dilakukan Wahid Hasyim dalam tubuh NU tidak bisa dipandang seperti Ahmad Dahlan dalam Muhammadiyah ketika meluruskan arah kiblat di masjid Kauman dan mengizinkan memakai bangku dan kursi untuk belajar para santri. Meski berdiri belakangan setelah berdirinya Muhammadiyah, namun realitanya amaliyah NU sudah dipraktekkan umat islam di nusantara jauh-jauh hari.

Bisa kita katakan bahwa pembaruan yang dibawa KH. Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah menyentuh sampai landasan teologi, sedangkan pembaruan Wahid Hasyim selalu mengalami pergulatan dan dialog terus menerus dalam tubuh NU sendiri. 

Belakangan orang justru lebih mengenal NU sebagai ormas yang hobi tahlilan, rajin ziarah, pengikut gus-gusan dan habib-habiban. Stigma seperti itu yang sebagian besar ditangkap oleh publik tentang orang NU.

Sebagai warga NU kita merasa ada yang hilang hari ini, stagnasi pemikiran atau justru rebutan posisi di pemerintahan lebih banyak kita saksikan dari para elit dan petinggi NU. Sementara kalangan pesantren yang dulunya dihormati dan diikuti karena kekeramatan dan keilmuannya, kini anak cucunya malah hobi memamerkan kemegahan dan menjadi sosialita di internet. Hal itu mengundang berbagai kritik dari masyarakat luas.

Baca juga Ketika Gaji Dosen Digugat ke MK, Di Mana Tanggung Jawab Negara?

Menguatnya Konservatisme

Fenomena ini mengingatkan kita pada fenomena hijrah satu dekade lalu. Banyak kalangan NU pernah mengomentari, kalau tidak mau menyebut ‘menyinyir’ pada fenomena hijrah waktu itu, termasuk saya sendiri yang juga telah menuliskan beberapa esai terkait hal ini. Kini kita temukan fenomena yang sama dengan jubah yang berbeda dalam tubuh NU sendiri; makin menguatnya konservatisme di dalam NU. 

Kita mungkin pernah bersikap resistenten dalam menanggapi ancaman ideologi transnasional. Lantas, untuk merespon gelora umat dalam bandang peminatan pada dakwah digital, NU meluncurkan kampanye pesantren. Banyak akun-akun yang berafiliasi NU menceritakan kehidupan dan keseharian menjadi santri. Sayangnya, gelora itu sebagian besar hanya berisi romantisme kehidupan pesantren, minim sekali berbagi keilmuan yang relevan yang bisa ditangkap publik.

NU memang bisa fokus memelihara umat pesantren, namun dengan hanya fokus itu, NU menjadi kehilangan basis massa masyarakat umum yang selama ini menjadi bagian NU yang tergabung di surau-surau dan masjid-masjid. Berita tentang hilangnya masjid masjid NU yang kemudian diisi oleh takmir-takmir ideologi lain, sekarang bisa kita pahami. Terlalu fokusnya NU membangun dan mengarusutamakan pesantren telah meminggirkan pengikut dari kalangan umum yang selama ini mengisi pengetahuan dan spiritualitas di masjid-masjid.

Bersamaan dengan pengarusutamaan wacana pesantren, peran Kiai kampung dan imam masjid pelan-pelan kehilangan pengaruh. Terlebih dengan gencarnya dakwah bercorak sholawat, posisi kiai kampung tergerus oleh popularitas habib-habib dan gus-gusan yang majelisnya shalawatan saja namun mengundang hiburan yang menarik bagi masyarakat. 

Dua tahun lalu saya kembali berkunjung ke pesantren tempat saya belajar ketika masih sekolah, waktu itu dalam acara Haul Masyayikh. Seperti biasa, acara juga diisi dengan maqbaroh. Saat masih nyantri, saban hari Jum’at kami maqbaroh, makam pendiri pesantren biasa saja, hanya ada atap agar tidak kehujanan.

Sementara secara bangunan makam, tidak ada hiasan dan ornamen tertentu. Namun, saat ini saat saya kembali ke maqbaroh, kondisi makam telah berubah. Makam pendiri pondok sudah jauh lebih bagus, beserta bunga-bunga yang komplit ditaruh di mahesan.

Kondisi serupa juga saya temui di pesantren tempat saya belajar setelah lulus sekolah, sebuah pesantren terkenal di Jogja. Kurang lebih 10 tahun lalu, saat saya pertama kali maqbaroh, makam para pendiri pesantren itu juga dibangun apa adanya, hanya ada atap dan lantai yang bisa buat duduk, atau sering ada santri yang mendaras Al-Qur’an di makam. Yang berbeda belakangan, dengan waktu awal-awal saya ke pesantren adalah, sekarang makam para pendahulu tersebut dipenuhi oleh berbagai karangan bunga dan payung payung. 

Melihat fenomena yang seragam di 2 pesantren tempat saya belajar, otomatis jadi mengundang tanya. Jika dulu orang ziarah untuk tirakatan, mencari keterhubungan dengan sang guru. Kini, ziarah juga dibarengi dengan keinginan hiburan dan update sosmed untuk menunjukkan sebagai santri yang pernah mondok di pesantren ini loh, pesantren itu loh.

Baca juga Apakah Agama atau Moral, Mana lebih Dulu?

Ada sesuatu yang belakangan muncul, ketika agama bersinggungan dengan standar media sosial, di titik itu terjadilah penguatan arus konservatisme. Ziarah tidak lagi hidup sebagai laku pribadi untuk menghidupkan keterhubungan dengan nafas perjuangan sang guru dan mencari barokah, namun menjadi standar baru untuk disebut santri.

Fenomena ini tanpa disadari memunculkan dorongan pemujaan namun menghilangkan hal esensial mencari keterhubungan dengan sang guru dan meneladani nafas perjuangan. Fenomena tersebut justru lebih banyak mendorong pada aspek-aspek yang terlihat saja; seperti memfoto makam dan dirinya ketika tahlil di makam. Makam yang terlihat cantik dan estetik kini menjadi fokus utama.

Selain itu, penguatan arus konservatisme di dalam tubuh NU juga bisa dilihat dari acara di desa-desa, salah satunya di desa saya. Waktu saya kecil setiap hari Jum’at Kliwon ada pengajian yang mengundang Kiai dari berbagai pesantren. Acara tersebut selalu meriah, anak- anak muda meramaikan masjid, umumnya mereka menjadi tim hadroh untuk menyambut kedatangan kiai dan juga mengurus konsumsi. Kini, pengajian itu masih hidup, namun yang datang, yang mengurusi hanya orangtua. Anak-anak muda seperti sudah kehilangan minat pada hadrah di kampung. 

Di tahun lalu, desa saya menggelar acara shalawat yang menghadirkan habib-habib. Sangat ramai, yang hadir tak hanya warga desa namun juga penduduk dari desa-desa lain. Acara berlangsung meriah, ada habib, dan juga tentu saja ada Kapolda yang datang. Berbeda dari tradisi pengajian yang banyak berisi mauidhoh hasanah, majelis shalawat itu hanya berisi sholawat. Kalaupun ada kalimat-kalimat nasehat yang terucap, porsinya sangat sedikit. Namun acara begitu ramai. Acara shalawat mengundang nafas hiburan yang memikat banyak orang. Hiburan dan agama yang bersinggungan selalu sukses mendulang jamaan di zaman yang semakin riuh ini.

Kiai Kampung sebagai Kelas Menengah Agama dan Produksi Wacana Keagamaan

Meminjam teori kelas, kita mengenal kelas-kelas sosial masyarakat berdasarkan posisi sosial dan kekayaan. Dalam konteks sosial-ekonomi, kelas elit ditempati oleh para penguasa di ibukota (pemerintah), sementara kelas menengah adalah masyarakat pecahan dari elit. Ada yang berpendapat bahwa kelas menengah adalah cabang dari elit itu sendiri. Sementara masyarakat bawah adalah yang hidupnya sebagian besar telah dilelahkan oleh tuntutan pemenuhan kebutuhan pokok sehingga tidak ada waktu memikirkan hal-hal eksistensial dan memproduksi gagasan.

Dalam kajian ekonomi, kelas menengah selalu jadi role ukuran. Ketika kelas menengah jatuh, sebuah negara menghadapi bayang-bayang krisis. Kelas menengah berjumlah sedikit, namun posisi mereka yang di tengah-tengah menyimpan banyak potensi.

Posisi para Kiai kampung sebagai kelas menengah agama dalam jam’iyyah NU ini menjadi sangat strategis. Karena masih memiliki garis keturunan pada keluarga pesantren, daya tawar mereka cukup tinggi ketika hidup di masyarakat. Mereka juga biasanya mandiri, punya kekayaan yang cukup dan bekal keilmuan yang lebih dari masyarakat sekitar.  

Di zaman dulu mereka kerap disowani masyarakat daerah mereka tinggal, bahkan juga sering menjadi tempat orang meminta pertolongan dalam wujud material. Posisi itu memungkinkan Kiai kampung bisa berperan aktif dalam produksi wacana dan pengetahuan di masyarakat akar rumput. Karena latar belakangnya sebagai kelas menengah, punya akses dan daya, mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang suka mempertanyakan, ‘melawan’ struktur yang timpang, serta anti status quo.

Kiai kampung selama ini berperan sebagai culture broker, menjadi agen penghubung antara para elit dan menjadi aktor utama paling mengerti kondisi masyarakat akar rumput. Peran ini membawa mereka pada pemahaman yang lentur, mendialogikan antara hukum syariah dengan tantangan realitas. Posisi tengahan itu memungkinkan mereka menjadi pembentuk wacana dan produksi pengetahuan keagamaan yang moderat dalam kultur masyarakat itu sendiri. 

Baca juga Apa yang Keliru Ketika Ulama Menjadi Tamu Tetap Istana?

Kiai Kampung sebagai Penjaga Stabilitas Mikro dan Makro

Dalam teori ekonomi, kelas menengah adalah golongan yang punya kemerdekaan berpikir, akses pada pengetahuan, dan punya mesin produksi (bourjois kecil). Dalam tubuh NU keberadaan kelas menengah agama ini, juga sama sebagai kelas menengah ekonomi. Tak hanya itu, mereka juga didukung oleh otoritas nasab yang mengakar ke pesantren-pesantren tua. Ketika berbaur bersama masyarakat umum, otomatis otoritas nasab dan kekayaan yang dimiliki membuat posisi mereka menjadi orang yang ditokohkan. 

Sebagai bourjois kecil, mereka umumnya adalah tuan tanah. Di samping mengajar ngaji di langgar-langgar, biasanya juga mempunyai santri yang ikut dibiayai namun tidak bertempat tinggal di pesantren. Kiai kampung ini tidak memiliki pesantren berupa bangunan atau kompleks tertentu. Aktivitas keagamaan para Kiai kampung dilakukan di langgar yang bersinggungan langsung dengan masyarakat, bimbingan sosial keagamaan dilakukan sehari-hari seperti membelikan kambing dan meminta muridnya ikut merumput kemudian sang murid diberikan tanah dan dibangunkan rumah, akhirnya sang santri menjadi mandiri. 

Melihat sejarah itu, peran kiai kampung tidak hanya melakukan dakwah secara bil qolam saja seperti yang dilakukan ustadz-ustadz dalam majelis ceramah, melainkan juga secara bil hal, mereka menuntun, mengajari dan membekali kemandirian santri secara nyata. 

Peran kelas menengah yang seringkali diwakili kiai kampung ini menjadi sangat penting sebagai agen aktif dalam produksi pengetahuan dan membentuk wacana keagamaan di masyarakat akar rumput. termasuk dalam jamaah Nahdlatul Ulama. Ketika kelas menengah agama ini hilang maka yang muncul di permukaan adalah hegemoni wacana agama yang dibawa elit saja.

Mengarusutamakan pesantren dalam merespon tantangan zaman memanglah sudah semestinya. NU memang lahir dari embrio pesantren. Namun, dalam perkembangannya kelas-kelas lain dalam NU juga bermunculan, mereka yang tidak hidup di pesantren namun menghidupi NU dari desa-desa dan perkampungan terkecil menjadi sedikit terlupakan dan sedikit demi sedikit kehilangan tempat dalam hegemoni wacana pesantrenisasi yang dibawa elit.

Warna NU yang dibawa oleh kelas menengah agama—NU menjadi kian kabur, sehingga yang tampak dan nampak dari NU sekarang ini menjadi seragam, padahal di NU sendiri memiliki banyak corak dan warna. Bahkan antara pondok pesantren juga punya pakem-pakem nilai yang berbeda meski sama-sama NU. Ketika kelas menengah agama yang banyak diisi kiai kampung ini hilang, masyarakat akar hilang pegangan, wacana yang dibawa menjadi kehilangan basis katalisator dalam mobilisasi gagasan karena hegemoni wacana pesantrenisasi telah meminggirkan peran-peran kiai kampung yang selama ini menggerakkan struktur paling bawah. Sementara itu hegemoni wacana yang dibawa elit juga telah memberikan tempat yang luas bagi fenomena-fenomena seperti gus-gusan yang mengundang kontroversi.

Memasuki abad ke 2 ini, saya pikir NU tidak perlu mengarusutamakan wacana tertentu hanya untuk mengukuhkan jamiyyah atau mengcounter ideologi tertentu. NU hari ini hidup dalam arus zaman yang semakin dinamis. Menghadapinya, NU justru harus hadir kembali ke akar-akar rumput, membersamai mereka-mereka yang terdzalimi—yang mustad’afin, serta yang paling sering dirugikan dalam arus pembangunan dan modernisasi.

Baca juga Menilik Wajah Islam di Negeri Jiran

Pertanyaan Seputar Topik Ini

Apa tantangan utama Nahdlatul Ulama di abad kedua?
Tantangan utamanya mencakup perbaikan komunikasi publik, pengelolaan organisasi yang lebih transparan, serta menjaga relevansi nilai-nilai dasar di tengah arus hegemoni dan dinamika sosial-politik.
Mengapa muncul kekecewaan di kalangan pemuda NU?
Kekecewaan muncul akibat persepsi buruk terhadap komunikasi elit PBNU serta kebijakan organisasi yang dianggap kontroversial dan kurang mencerminkan aspirasi akar rumput.
Bagaimana posisi NU dalam isu pengelolaan tambang oleh ormas?
NU menjadi sorotan publik terkait kebijakan pengelolaan tambang, yang memicu perdebatan mengenai independensi organisasi keagamaan dalam relasinya dengan pemerintah.

Dukung Kanal Suara Muslim Muda

Suka dengan konten kami? Dukung terus Tsaqafah.id untuk memproduksi konten literasi Muslim yang mencerahkan.

Mulai Berdonasi
Bagikan Artikel Ini