Skip to content
Budaya
Beranda/Budaya/Menilik Wajah Islam di Negeri Jiran

Menilik Wajah Islam di Negeri Jiran

48 Kali Dibaca
Bagikan:
Menilik Wajah Islam di Negeri Jiran

Ringkasan Menilik Wajah Islam di Negeri Jiran

Artikel ini merefleksikan pengalaman penulis saat mengikuti program student mobility di Malaysia. Berbeda dengan asumsi awal, perbedaan Islam di Asia Tenggara bukan sekadar tradisi, melainkan bagaimana negara mengelola agama di ruang publik. Pengelolaan masjid yang tertata dan kedisiplinan masyarakat menjadi cerminan nyata peran negara dalam membentuk budaya beragama yang lebih teratur.

Selama kegiatan berlangsung, saya tidak menjumpai seorang pun yang merokok, baik di halaman masjid maupun di kawasan sekitarnya. Mungkin bagi sebagian orang hal itu tampak sepele, tetapi bagi saya pengalaman tersebut memunculkan refleksi yang lebih luas

Tsaqafah.id – Sebelum berangkat ke Malaysia, saya mengira perbedaan kehidupan Islam di Asia Tenggara hanya tampak pada tradisi dan budaya masyarakatnya. Anggapan itu berubah ketika saya mengikuti program student mobility di negeri Jiran ini. Pengalaman singkat tersebut justru memperlihatkan bahwa yang paling membedakan bukanlah cara umat Islam beribadah, melainkan bagaimana negara mengelola agama di ruang publik. Dari sanalah saya mulai memahami bahwa tata kelola agama bukan sekadar urusan administrasi, tetapi juga proses membentuk budaya, kebiasaan, bahkan cara masyarakat memandang kehidupan beragama.

Dalam kajian hubungan negara dan agama, ilmuwan politik Jonathan Fox menjelaskan bahwa setiap negara memiliki tingkat keterlibatan yang berbeda dalam mengatur kehidupan beragama. Ada negara yang memberikan ruang luas kepada masyarakat sipil untuk mengembangkan kehidupan keagamaan, sementara ada pula negara yang mengambil peran lebih dominan melalui berbagai institusi resmi. Pengalaman saya di Malaysia memperlihatkan bagaimana peran negara tersebut hadir secara nyata dalam kehidupan sehari hari.

Selama berada di Putrajaya, saya menyaksikan pengelolaan masjid yang berjalan sangat tertata. Agenda keagamaan berlangsung teratur, lingkungan masjid terpelihara dengan baik, dan aktivitas dakwah tampak memiliki arah yang jelas. Semula saya mengira semua itu lahir semata karena karakter disiplin masyarakat Malaysia. Namun semakin lama mengamati, saya mulai memahami bahwa keteraturan tersebut juga merupakan hasil dari tata kelola kelembagaan yang kuat. Di Malaysia, urusan Islam lebih terinstitusionalisasi melalui berbagai lembaga resmi negara sehingga arah penyelenggaraan kehidupan keagamaan berjalan dalam koordinasi yang relatif seragam.

Pengalaman yang paling membekas justru datang dari sesuatu yang sederhana. Ketika menghadiri peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah di Masjid Putrajaya, setiap jamaah memperoleh sebuah majalah keislaman. Awalnya saya mengira itu hanya buletin kegiatan seperti yang lazim dibagikan di berbagai tempat. Namun setelah membacanya, saya menemukan artikel reflektif, opini, motivasi, hingga pesan moral dari tokoh agama. Saya kemudian menyadari bahwa majalah tersebut bukan sekadar pelengkap acara, melainkan bagian dari strategi literasi untuk menjaga kesinambungan dakwah. Ceramah mungkin berakhir ketika jamaah meninggalkan masjid, tetapi gagasan tetap hidup melalui bacaan yang mereka bawa pulang.

Baca juga Ottoman dan Ternate: Antara Ingatan yang Jauh dan Rumah yang Dekat

Pengalaman itu mengingatkan saya pada gagasan sosiolog José Casanova tentang agama di ruang publik. Casanova menjelaskan bahwa agama tidak hanya hadir melalui ritual ibadah, tetapi juga melalui institusi, media, pendidikan, dan berbagai instrumen sosial yang membentuk kesadaran masyarakat. Apa yang saya lihat di Masjid Putrajaya menjadi contoh sederhana bagaimana nilai nilai agama dipelihara melalui budaya literasi. Dakwah tidak berhenti di atas mimbar, melainkan terus berlanjut melalui media yang dapat dibaca, direnungkan, dan didiskusikan kembali dalam kehidupan sehari hari.

Pengamatan lain yang tidak kalah menarik justru saya temukan di luar ruang utama masjid. Selama kegiatan berlangsung, saya tidak menjumpai seorang pun yang merokok, baik di halaman masjid maupun di kawasan sekitarnya. Mungkin bagi sebagian orang hal itu tampak sepele, tetapi bagi saya pengalaman tersebut memunculkan refleksi yang lebih luas. Di berbagai masjid yang pernah saya kunjungi di Indonesia, pemandangan orang merokok di luar area masjid masih cukup mudah ditemui. Saya tentu tidak memiliki data untuk menyimpulkan bahwa masyarakat Malaysia lebih religius daripada masyarakat Indonesia. Akan tetapi, pengalaman kecil tersebut memperlihatkan bahwa norma sosial dapat dibentuk melalui tata kelola yang konsisten. Ketika aturan, edukasi, dan budaya berjalan beriringan, masyarakat perlahan membangun kebiasaan yang dianggap wajar oleh lingkungan sekitarnya.

Refleksi saya semakin berkembang ketika mencoba membandingkannya dengan Indonesia. Di tanah air, negara memang memiliki Kementerian Agama sebagai institusi resmi, tetapi kehidupan Islam tidak bertumpu pada satu otoritas. Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persatuan Islam, jaringan pesantren, perguruan tinggi Islam, majelis taklim, hingga berbagai komunitas dakwah memiliki ruang yang relatif luas untuk mengembangkan gagasan keagamaan. Lanskap ini melahirkan tradisi diskusi yang sangat dinamis. Perbedaan pandangan menjadi bagian yang lumrah dalam kehidupan Islam Indonesia. Bahkan, tidak sedikit perdebatan yang berlangsung panjang sebelum suatu persoalan menemukan titik temu.

Bagi sebagian orang, keberagaman tersebut mungkin terlihat membingungkan. Namun dari sudut pandang yang lain, justru di sanalah kekuatan Islam Indonesia. Tradisi dialog yang hidup membuat masyarakat memiliki kesempatan mendengar beragam argumentasi sebelum menentukan pilihan. Organisasi masyarakat, pesantren, dan ruang ruang akademik menjadi bagian dari masyarakat sipil yang terus menjaga dinamika pemikiran Islam. Dalam konteks ini, kehidupan keagamaan tidak hanya dibentuk oleh negara, tetapi juga oleh partisipasi aktif masyarakat.

Baca juga Menghidupkan Soemitro, Prabowonomics dalam Tantangan Industrialisasi

Sebaliknya, pengalaman saya di Malaysia memperlihatkan wajah yang berbeda. Pengelolaan yang lebih terinstitusionalisasi menghasilkan konsistensi, keteraturan, dan arah yang jelas dalam penyelenggaraan kehidupan keagamaan. Namun pada saat yang sama, saya juga merasakan bahwa ruang untuk menghadirkan keragaman pandangan tampak tidak seluas yang saya kenal di Indonesia. Keberagaman tetap ada, tetapi bergerak dalam koridor yang lebih terstruktur. Perbedaan ini bukan untuk dipertentangkan, melainkan dipahami sebagai konsekuensi dari pilihan tata kelola yang berbeda.

Perjalanan ini akhirnya mengubah cara saya memandang hubungan antara negara dan agama. Selama ini saya mengira kualitas kehidupan beragama hanya diukur dari ramainya masjid, banyaknya pengajian, atau semaraknya perayaan hari besar Islam. Sepulang dari Malaysia, saya justru melihat bahwa kualitas keberagamaan juga dibentuk oleh hal hal yang sering luput dari perhatian, seperti budaya literasi, etika menggunakan ruang publik, konsistensi kelembagaan, hingga kemampuan masyarakat berdialog dengan perbedaan.

Indonesia dan Malaysia pada akhirnya tidak sedang berlomba menunjukkan siapa yang paling Islami. Keduanya sedang menawarkan dua pendekatan yang berbeda dalam merawat kehidupan beragama. Malaysia menunjukkan bagaimana institusi negara dapat menghadirkan keteraturan dan konsistensi dalam pengelolaan Islam. Indonesia memperlihatkan bagaimana keberagaman organisasi masyarakat dan tradisi intelektual dapat melahirkan ruang dialog yang hidup. Tantangan kita bukan memilih salah satunya, melainkan belajar mengambil yang terbaik dari keduanya. Sebab, masyarakat yang matang bukan hanya mampu menjaga ketertiban, tetapi juga sanggup merawat perbedaan sebagai bagian dari kekayaan intelektual dan sosial.

Ketika pesawat yang saya tumpangi meninggalkan Kuala Lumpur menuju Indonesia, saya tidak merasa sedang pulang dengan membawa jawaban. Saya justru pulang dengan lebih banyak pertanyaan tentang bagaimana negara seharusnya hadir dalam kehidupan beragama. Barangkali, ukuran kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa megah masjid yang dibangun atau seberapa sering simbol agama ditampilkan di ruang publik. Ia juga diukur dari kemampuan menghadirkan tata kelola yang melahirkan masyarakat yang tertib tanpa kehilangan daya kritis, serta masyarakat yang bebas berdialog tanpa kehilangan rasa saling menghormati. Di titik itulah saya menemukan pelajaran paling berharga dari negeri jiran ini.

Baca juga Benarkah Hidup Cuma Sekali? YOLO Menurut Al-Qur’an

Pertanyaan Seputar Topik Ini

Bagaimana peran negara dalam pengelolaan agama di Malaysia?
Negara di Malaysia memiliki peran dominan melalui institusi resmi dalam mengatur kehidupan beragama, yang tercermin dari tata kelola masjid dan ruang publik yang sangat teratur.
Apa perbedaan utama kehidupan Islam di Malaysia dibanding Indonesia?
Perbedaan utamanya terletak pada tata kelola agama oleh negara di ruang publik, yang memengaruhi kebiasaan dan budaya masyarakat dalam menjalankan kehidupan beragama sehari-hari.
Apa yang dimaksud dengan student mobility dalam konteks artikel ini?
Student mobility adalah program pertukaran pelajar atau kunjungan akademik singkat yang memungkinkan mahasiswa untuk mengamati dan mempelajari praktik sosial-budaya di negara lain secara langsung.

Dukung Kanal Suara Muslim Muda

Suka dengan konten kami? Dukung terus Tsaqafah.id untuk memproduksi konten literasi Muslim yang mencerahkan.

Mulai Berdonasi
Bagikan Artikel Ini
Muhammad Genta Saputra

Ditulis oleh: Muhammad Genta Saputra

Muhammad Genta Saputra adalah mahasiswa aktif Ilmu Hadis di UIN Sunan Ampel Surabaya. Ia kerap mengaitkan isu-isu kontemporer dengan kerangka moral keagamaan, khususnya melalui perspektif hadis. Tulisan-tulisannya telah terbit di berbagai jurnal dan media populer. Baginya, menulis adalah jalan kritis untuk menjaga nurani dan membuka ruang dialog.

Lihat Semua Tulisan