Skip to content
Tsaqafah.id Suara Muslim Muda
Ikuti Kami

© 2026 Tsaqafah.id

Kajian
Beranda / Artikel Terbaru / Benarkah Hidup Cuma Sekali? YOLO Menurut Al-Qur’an

Benarkah Hidup Cuma Sekali? YOLO Menurut Al-Qur’an

235 Kali Dibaca
Bagikan:
Benarkah Hidup Cuma Sekali? YOLO Menurut Al-Qur’an

Awalnya, istilah ini populer untuk menyuntikkan keberanian dalam mengambil risiko atau menikmati momen berharga, seperti mengunjungi destinasi impian. Namun, dalam keseharian, YOLO kerap bergeser menjadi pembenaran untuk perilaku konsumtif, mulai dari belanja daring impulsif hingga gaya hidup pesta.

Bayangkan Anda sedang scrolling TikTok di larut malam, lalu tiba-tiba muncul video dengan pesan memikat: “kita hidup tuh cuma sekali, begitu.” Di platform lain seperti X, mungkin Anda menemui unggahan senada, “Beli saja barang lucu itu, hitung-hitung self-reward.” Bagi Generasi Z, ungkapan You Only Live Once atau YOLO sudah menjadi napas sehari-hari.

Tren ini hadir layaknya angin segar yang mendorong anak muda untuk bebas menikmati hidup. Namun, di balik keriuhan itu, sering kali terselip rasa hampa atau kecemasan samar tentang masa depan. Lantas, bagaimana jika kita menilik fenomena ini melalui kacamata Al-Qur’an? Bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menemukan titik keseimbangan agar hidup yang sekali ini tak hanya lewat dalam kesenangan sesaat, tetapi berlabuh pada arti yang abadi.

Mantra Modern di Ujung Jari

YOLO lahir sebagai ”mantra modern” yang tumbuh subur dalam arus media sosial. Awalnya, istilah ini populer untuk menyuntikkan keberanian dalam mengambil risiko atau menikmati momen berharga, seperti mengunjungi destinasi impian. Namun, dalam keseharian, YOLO kerap bergeser menjadi pembenaran untuk perilaku konsumtif, mulai dari belanja daring impulsif hingga gaya hidup pesta.

Arianto (2021) dalam pengamatannya mengenai perilaku digital mencatat bahwa tren ini memperkuat gagasan bahwa kebahagiaan bersumber dari pengalaman instan, sering kali tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang. Di kota-kota besar seperti Jakarta atau Makassar, fenomena ini kian nyata. Kemudahan teknologi finansial (fintech) membuat keinginan untuk memanjakan diri terasa begitu mudah, hanya sejauh usapan layar.

Baca juga: Memahami Perilaku Konsumtif Muslim Milenial dan Bagaimana Menyikapinya

Namun, YOLO sebenarnya memiliki sisi terang. Semangat ini bisa mendorong ketangguhan mental saat menghadapi tantangan. Pesan bahwa ”proses ini berat, tapi jika berhasil, kamu akan lebih kuat” mampu memotivasi seseorang untuk tidak mudah menyerah. Hal ini sejalan dengan temuan Putri dan Ramadhani (2025) yang melihat bagaimana semangat YOLO dapat membentuk konsep diri yang lebih percaya diri dalam mengejar mimpi.

Di sisi lain, terdapat risiko yang membayangi, yaitu lingkaran hedonisme. Banyak anak muda terjebak pada standar kebahagiaan yang diukur dari jumlah tanda suka (like) dan komentar di media sosial. Akibatnya, muncul tekanan untuk selalu terlihat bahagia, yang justru memicu stres hingga pemborosan finansial (Tajrim et al., 2024). Di era digital, kita sering kali diingatkan untuk merayakan ”hari ini”, namun lupa mempersiapkan “hari esok”.

Al-Qur’an sebagai Penyeimbang

Di sinilah perspektif Al-Qur’an hadir sebagai kompas. Islam tidak melarang manusia menikmati karunia dunia, namun memberikan peringatan agar kita tidak kehilangan arah. Surah Al-‘Asr ayat 1-3 memberikan teguran halus :

وَالْعَصْرِۙ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ࣖ

1. Demi masa, 2. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, 3. kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.

Ayat ini seolah mengingatkan para penganut paham YOLO bahwa waktu yang singkat adalah aset yang sangat berharga. Hidup yang hanya sekali bukan alasan untuk menjadi egois atau boros, melainkan peluang untuk mengukir kebaikan yang manfaatnya tetap mengalir meski raga telah tiada.

Sifat dunia yang sementara juga digambarkan secara jelas dalam Surah Al-Hadid ayat 20 :

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

20.  Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya.

Ayat ini menggambarkan kesenangan dunia layaknya tanaman yang hijau setelah hujan namun cepat menguning dan hancur. Sensasi seru dari tren YOLO bisa menjadi kosong jika tidak memiliki akar spiritual. Kita diajak untuk tidak terbuai oleh “permainan” media sosial atau pencarian validasi semu, melainkan fokus pada rida Allah yang abadi.

Seni Menyeimbangkan Kehidupan

Prinsip hidup yang ideal adalah mencari keseimbangan, sebagaimana pesan dalam Surah Al-Qashash ayat 77 :

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

77.  Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Pesan ini sangat lugas: nikmatilah dunia, tapi jangan lupakan tujuan akhir. Berbuat baiklah kepada sesama dan hindari segala bentuk kerusakan, termasuk perilaku boros yang merusak diri sendiri maupun lingkungan. Di sini, YOLO bisa dimaknai ulang menjadi sesuatu yang lebih positif. Ia bukan lagi tiket untuk hidup seenaknya, melainkan panggilan untuk memanfaatkan setiap detik dengan bijak.

Bagi Gen Z, pemahaman ini bisa menjadi kompas di tengah banjir konten digital. Bayangkan jika self-reward tidak lagi hanya diartikan sebagai membeli barang mewah, tetapi  sebagai momen untuk berbagi dengan yang membutuhkan atau sekadar merenungi tujuan hidup.

Pada akhirnya, hidup memang hanya sekali. Namun, cara kita mengisinya yang akan menentukan apakah kita termasuk orang yang beruntung atau merugi. Sudahkah kita seimbang dalam merayakan dunia sekaligus mempersiapkan masa depan yang abadi? Mungkin ini saatnya kita melihat YOLO bukan sebagai kebebasan tanpa batas, melainkan sebagai kesempatan tunggal untuk menciptakan jejak hidup yang benar-benar berarti.

Baca juga: Menemukan Rasa Cukup: Belajar Qanaah dan Zuhud di Era FOMO

Bagikan Artikel Ini
Muhammad Genta Saputra

Ditulis oleh: Muhammad Genta Saputra

Muhammad Genta Saputra adalah mahasiswa aktif Ilmu Hadis di UIN Sunan Ampel Surabaya. Ia kerap mengaitkan isu-isu kontemporer dengan kerangka moral keagamaan, khususnya melalui perspektif hadis. Tulisan-tulisannya telah terbit di berbagai jurnal dan media populer. Baginya, menulis adalah jalan kritis untuk menjaga nurani dan membuka ruang dialog.

Lihat Semua Tulisan