Memahami Perilaku Konsumtif Muslim Milenial dan Bagaimana Menyikapinya

Tsaqafah.id – Beberapa dekade ini dunia Islam telah mengalami perkembangan yang sangat pesat dalam berbagai bidang. Kini umat Islam telah menikmati kebebasannya dalam ruang publik, seperti penggunaan atribut keagamaan, makanan berstempel halal dll. Hal ini juga terlihat dari lahirnya halal lifestyle, halal food, dan halal tourism yang tumbuh subur, tak hanya di negara dengan mayoritas penduduk muslim, tetapi juga di negara dengan mayoritas bukan penduduk muslim.

Fenomena tersebut banyak dimotori oleh generasi muslim modern di mana mereka berusaha menyetarakan antara gaya hidup modern dan kesadaran agama. Shelina Janmohammed dalam bukunya “Generation M: Young Muslims Changing the World” menyebut generasi ini sebagai generasi M (muslim Millenial), menurut Janmohamed penyebutan generasi muda muslim ini juga dimaksudkan untuk membantah studi generasi milenial di dunia Barat, di mana mereka mengatakan bahwa generasi milenial lebih sedikit menghadiri misa, beranggapan bahwa agama tidak begitu penting dan kurang menyetujui organisasi agama. Penemuan ini jelas berbeda dengan apa yang dialami oleh pemuda muslim, di mana kini pemuda muslim justru hidup dengan keyakinan agama yang meningkat dan mencoba melawan arus islamophobia yang melanda banyak negara Barat.

Baca juga: Berjumpa dengan Generasi Muslim Indonesia: Moderen, Relijius, Makmur, dan Universal

Buaian Konsumtif dalam Arus Kapitalis

Kebangkitan kelas menengah komunitas muslim yang banyak melibatkan generasi M, merujuk pada pengertian sebelumnya yang dijelaskan Janmohammed, telah memengaruhi budaya konsumsi yang meningkat di tengah-tengah kaum lemah (mustad’afin) yang masih cukup banyak. Fenomena tersebut tak hanya terjadi begitu saja, menurut Heryanto dalam bukunya “Identitas dan Kenikmatan-Politik Budaya Layar Indonesia” modernitas bisa menantang atau mendefinisikan ulang beberapa aspek praktik-praktik keagamaan, juga mereka yang memiliki wewenang di dalam komunitas keagamaan dan sebaliknya. Lebih jauh lagi Rudnyeky (2009) menyebut bahwa ternyata agama dan kapitalisme bukan hanya dapat hidup berdampingan melainkan juga memiliki keterkaitan, keduanya bahkan dalam beberapa kasus bisa bersekutu hingga mampu mendukung kegiatan-kegiatan kolektif yang berjangka panjang.

Seperti diketahui bahwa gaya hidup yang berkembang kini menuntun seseorang ke arah konsumtif. Tak hanya itu, meningkannya tren global yang menimpa masyarakat muslim, juga membuat mereka berlomba-lomba dalam hal fashion untuk tampil modis sebagai bagian untuk melawan konstruksi sosial tentang Islam yang kolot dan tidak modern. Tak heran jika kini turut menjamur produksi jilbab, mukena, kaftan, produk-produk halal dll, dari yang mulai harga paling murah sampai berjuta-juta rupiah.

Menyikapi Budaya Konsumtif dengan Mengendalikan Hawa Nafsu Menurut Imam . . . . . . Al-Ghazali

Menyikapi kondisi sosial yang seperti ini tentu tidaklah mudah bagi para milenial, di tengah gempuran pasar yang mengajak konsumtif, sebagai seorang muslim kita juga dianjurkan untuk tidak berlebih-lebihan dalam membelanjakan kebutuhan. Banyak sekali dijelaskan dalam teks keagamaan agar sebagai seorang muslim kita menjauhi sifat boros dan tamak. Seperti dijelaskan dalam Alquran karim, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. al-Munafiqun:63:9). “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syatian itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. al-Isra’: 17: 27).

Mempraktikkan anjuran agama untuk tidak bersikap boros dan hanya membeli barang yang diperlukan saja menjadi tantangan yang berat, apalagi jika sedang dikaruniai rezeki yang cukup. Dalam hal ini kita menjadi harus pandai mengontrol hati dan hawa nafsu agar sikap konsumtif tidak jauh-jauh melalaikan kehidupan kita.

Baca juga: Dzikir Untuk Mengendalikan Hati

Sebenarnya sikap boros dan tantangan perilaku konsumtif ini sudah terjadi sejak berabad-abad lalu. Tak heran jika Rasulullah Saw yang dibesarkan oleh pamannya Abu Thalib dan berkeliling untuk berdagang juga sudah menemui perilaku-perilaku konsumtif ini, di antaranya adalah pemborosan harta. Hingga beliau Rasulullah Saw banyak mewanti-wanti kaum muslimin agar berhati-hati dengan urusan harta. Seperti salah satu sabda beliau yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad, dikutip dari Ihya Ulumuddin karangan Imam Al-Ghazali, “Kekasih manusia itu ada tiga: yang pertama mengikutinya hingga nyawanya dicabut, yang kedua mengikutinya hingga pemakaman, yang ketiga mengikutinya hingga ke Padang Mahsyar. Yang mengikutinya hingga nyawanya dicabut adalah hartanya, yang mengikutinya hingga ke pemakaman adalah keluarganya, dan yang mengikutinya hingga hingga ke Padang Mahsyar adalah amalnya. (HR. Ahmad).

Dalam pandangan tasawuf perilaku boros dan tamak adalah wujud daripada kecintaan pada dunia. Untuk mensiaatinya para ulama Salafussalih mengajarkan agar kita berhati-hati meskipun pada harta yang halal. Tidak hanya menolak yang haram tetapi juga berhati-hati dengan harta yang halal. Sikap berlebih-lebihan dapat menjadikan kita rakus dan tamak.

Imam Al-Ghazali dalam beberapa tulisannya selalu menekankan agar setiap orang hendaknya membatasi dirinya dengan batas minimal dan mengembalikan ingatannya akan kebutuhannya hanya untuk sehari atau sebulan hingga dirinya tidak sombong dan mampu bersabar menghadapi tantangan. Jika tidak, maka ia akan jadi tamak, tak henti-hentinya berharap dan menghinakan demi meraih kekayaan.

Wallahu a’lam

Baca juga: Sampai Di Tahap Mana Kita Meneladani Akhlak Nabi Muhammad Saw?

Total
22
Shares
Previous Article

Macapat dan Pesan Religiusitas

Next Article

Kisah Karomah Syekh Abdul Qodir Jaelani Diludahi Nabi

Related Posts
Read More

Pandemi dan Laku Agama yang Tak Direstui

Sayang seribu sayang, setelah berpanjang lebar, alih-alih mentaati, remaja itu malah mendebat ibunya. Dia bersikukuh berangkat. Dan meninggalkan pesan kepada orang tuanya, “Kena atau tidak itu kersane Gusti Allah! Serahkan saja, ridhonya saja, kalau ridho InsyaAllah selamat.”