Di tengah riuh rendah notifikasi dan standar kesuksesan media sosial yang tumpah ruah, pikiran kita sering kali terjebak dalam labirin kecemasan yang melumpuhkan. Fenomena overthinking dalam Islam dipandang bukan sekadar masalah beban mental, melainkan sebuah sinyal bagi hati untuk kembali menemukan navigasi di tengah hal-hal yang berada di luar kendali manusia. Bagaimana tuntunan Nabi Muhammad SAW dan kearifan para ulama seperti Imam Al-Ghazali menjawab kegelisahan yang melelahkan ini?
Tsaqafah.id – Sebelum mata benar-benar terjaga, jempol kita sudah bergerak lincah menelusuri layar ponsel yang penuh dengan desakan notifikasi. Mulai dari riuh rendah politik global, tuntutan standar kesuksesan di media sosial, hingga tuntutan karier yang tak kunjung usai, semuanya tumpah ruah dalam pikiran. Tanpa disadari, rentetan informasi dan notifikasi ini menumpuk menjadi beban mental yang memberatkan pikiran, memicu fenomena overthinking yang kini bisa menyerang siapa saja.
Mengkhawatirkan hari esok yang belum tiba, hingga membuat langkah hari ini terasa lumpuh karena terbeban oleh sesuatu yang belum tentu terjadi. Lantas, bagaimana Islam memandang kegelisahan yang melelahkan ini? Sejauh mana tuntunan Nabi Muhammad SAW mampu memberikan navigasi bagi pikiran yang terlalu sibuk memikirkan hal-hal yang sebenarnya berada di luar kendali kita?
Secara sederhana, overthinking dapat dipahami sebagai kecenderungan untuk berpikir berlebihan, berputar-putar dalam kekhawatiran, hingga akhirnya kehilangan fokus pada kenyataan dan tujuan. Dalam dunia psikologi modern, Susan Nolen-Hoeksema menjelaskan bahwa overthinking memiliki dua dampak signifikan: rumination, yaitu mengunyah masalah tanpa menemukan solusi, dan anxiety, yaitu kecemasan yang tidak produktif. Fenomena ini ternyata sejalan dengan apa yang telah diperingatkan sejak lama oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah hadis disebutkan:
(عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ (رواه البخاري ومسلم
“Hindarilah prasangka, karena sesungguhnya prasangka adalah perkataan yang paling dusta.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Overthinking sering kali berawal dari prasangka, membayangkan skenario buruk yang belum tentu terjadi. Pikiran kita sibuk memproduksi ketakutan, sehingga kebenaran menjadi kabur; padahal kenyataannya mungkin tidak seburuk yang kita bayangkan.
Baca juga Hidup Dihantui Anxiety, What’s Wrong With Me?
Kehidupan modern menuntut kita hidup dalam lautan informasi yang tiada henti. Menurut Manuel Castells dalam teorinya tentang masyarakat jaringan, manusia saat ini tidak hanya hidup dalam ruang fisik, tetapi juga dalam jejaring informasi yang terus menerus tanpa henti. Informasi membanjiri pikiran kita tanpa batas, perbandingan sosial di media sosial membuat kita merasa kurang, dan tekanan untuk selalu terhubung menciptakan ilusi bahwa kita harus terus produktif dan relevan. Semua ini bisa menjadi bahan bakar bagi overthinking jika tidak disaring. Kita menjadi sibuk mengkhawatirkan hal-hal yang bahkan tidak berpengaruh dikehidupan kita secara langsung.
Dalam kondisi ini, ajaran Islam hadir sebagai oase penyejuk. Sejak awal, Islam mengajarkan prinsip untuk fokus pada apa yang benar-benar bermanfaat. Dalam sebuah hadis lainnya, Nabi Muhammad SAW bersabda:
(عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ (رواه الترمذي
“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan hal-hal yang tidak berguna baginya.” (HR. Tirmidzi)
Prinsip ini sangat relevan dalam konteks dunia digital saat ini. Tidak semua notifikasi perlu kita buka, dan tidak semua berita harus kita kritisi. Tidak semua opini harus dipedulikan. Lebih jauh lagi, Allah menegaskan pula dalam Al-Qur’an:
(أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (الرعد: ٢٨
“Ketahuilah, dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ketenangan, sebagaimana ditegaskan dalam ayat ini, tidak datang dari pengendalian segala sesuatu di dunia luar, melainkan dari dzikir dan kesadaran akan Dzat yang Maha Mengatur segala sesuatu.
Baca juga Rasionalitas Ketenangan dalam Filsafat Ibn Ḥazm
Dalam karya besarnya, Ihya’ Ulum al-Din, Imam Al-Ghazali dengan cerdas mengingatkan:
”Ketahuilah, pikiran adalah benih perbuatan. Jika baik pikiran itu, maka baik pula apa yang tumbuh darinya. Namun, jika pikiran dipenuhi kekhawatiran duniawi, maka akan timbul kegelisahan yang tak berujung.”
Ungkapan ini memberikan gambaran yang sangat mendalam: jika sejak awal pikiran sudah keruh, tidak mengherankan jika hidup terasa penuh beban. Oleh karena itu, menjaga kejernihan pikiran bukan sekadar soal berpikir positif, tetapi bagian dari perjalanan spiritual menuju hati yang tentram.
Menariknya, berbagai pendekatan dalam psikologi modern juga sejalan dengan nilai-nilai Islam. Mindfulness atau kesadaran penuh yang dikembangkan oleh Jon Kabat-Zinn, mirip dengan konsep khusyuk dalam shalat: hadir sepenuhnya di hadapan Allah, meninggalkan hiruk-pikuk dunia. Cognitive Behavioral Therapy (CBT) yang melatih perubahan pola pikir negatif, sejalan dengan ajaran Nabi SAW untuk selalu berprasangka baik. Bahkan konsep tawakal, yaitu berserah diri kepada Allah setelah berusaha, adalah kunci untuk melepaskan diri dari cengkeraman overthinking atas hal-hal yang di luar kendali manusia.
Nabi Muhammad SAW sendiri sepanjang hidupnya telah menjadi role model dalam menjalani kehidupan. Beliau berikhtiar sepenuh hati dan menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah, tanpa membiarkan kecemasan menggerogoti langkahnya. Dalam berbagai peristiwa besar, dari hijrah ke Madinah hingga menghadapi berbagai peperangan untuk memperjuangkan dakwah islam, beliau menunjukkan bahwa ketenangan bukan berasal dari dunia yang sempurna, melainkan dari iman yang kokoh.
Overthinking merupakan salah satu tantangan kecil di tengah arus besar modernitas saat ini. Islam, melalui sabda Nabi dan warisan para ulama, mengajarkan bahwa ketenangan tidak terletak pada pengendalian segala sesuatu di luar kendali kita, melainkan tentang mengelola apa yang ada di dalam diri dan apa yang bisa kita kendalikan. Di tengah derasnya arus notifikasi dan kekhawatiran zaman, mungkin inilah saatnya kita kembali memegang prinsip sederhana, yaitu fokus pada semua hal yang bermanfaat dan seiring dengan tujuan yang ingin kita capai, serahkan hasilnya kepada Allah, dan biarkan hati menemukan ketenangannya dalam dzikir, doa, dan keyakinan. Karena pada akhirnya, hidup ini bukan tentang berpikir tanpa henti, tetapi tentang menjalani dengan penuh iman dan kesadaran.

