Di Tengah Dunia yang Kompetitif, Menjadi Manusia Adalah Kemewahan

Di Tengah Dunia yang Kompetitif, Menjadi Manusia Adalah Kemewahan

17 Mei 2026
12 dilihat
4 menits, 51 detik

Dulu, waktu saya kecil, saya pernah melihat seorang lelaki tua duduk sendirian di sebuah warung kopi dekat terminal. Ia tidak tampak miskin, tetapi juga tidak tampak benar-benar punya apa-apa. Bajunya biasa saja. Sandalnya tipis. Tangannya penuh garis kasar seperti batang pohon tua yang terlalu lama diterpa musim.

Yang saya ingat justru matanya. Matanya tenang. Sementara orang-orang di sekitar sibuk mengejar bus, memaki kemacetan, menghitung uang receh, atau terburu-buru mengejar waktu, lelaki itu duduk perlahan sambil menyeruput kopi hitamnya seperti seseorang yang tidak sedang dikejar dunia.

Bertahun-tahun kemudian, ketika hidup makin riuh dan manusia makin sibuk berlari, saya sering teringat lelaki tua itu. Saya mulai curiga, jangan-jangan ketenangan adalah kemewahan paling mahal di zaman ini.
Sebab hari ini, dunia seperti pasar besar yang tidak pernah tutup. Semua orang menawarkan sesuatu. Semua orang ingin terlihat berhasil. Semua orang ingin menang. Dan celakanya, kita ikut percaya bahwa hidup memang harus selalu seperti perlombaan.

Kita bangun pagi dengan kepala penuh target. Kita tidur malam dengan dada penuh kecemasan. Bahkan ketika tubuh sedang beristirahat, pikiran tetap bekerja seperti mesin pabrik yang lupa dimatikan. Dunia modern mengajarkan manusia cara menjadi produktif, tetapi lupa mengajarkan cara menjadi damai.

Anak-anak kecil hari ini bahkan belum sempat mengenal dirinya sendiri, tetapi sudah dibebani pertanyaan tentang masa depan. Mereka diminta pintar sebelum sempat bahagia. Mereka dipaksa bersaing sebelum sempat bermain. Kadang saya membayangkan, kalau masa kecil bisa bicara, mungkin ia akan menangis.

Dunia yang Terlalu Sibuk untuk Mendengar Hati Manusia

Ada sesuatu yang berubah dari cara manusia menjalani hidup. Dulu orang bekerja untuk hidup. Sekarang banyak orang hidup hanya untuk bekerja. Dulu manusia bercita-cita agar punya waktu luang. Kini waktu luang justru membuat orang merasa bersalah. Seolah-olah diam sebentar adalah dosa besar terhadap produktivitas.

Media sosial memperparah semuanya. Ia seperti panggung raksasa tempat semua orang berlomba tampak bahagia. Orang memamerkan pencapaian seperti pedagang memajang barang dagangan di etalase toko. Gelar dipasang. Liburan diumumkan. Kesuksesan dipertontonkan. Bahkan kesedihan pun kadang dikemas agar tampak estetik.

Sementara itu, banyak orang diam-diam merasa hidupnya tertinggal. Kita mulai membandingkan hidup sendiri dengan potongan hidup orang lain yang sudah dipilih paling indah. Akibatnya, manusia modern menjadi makhluk yang mudah lelah dan sulit bersyukur.

Baca juga: Al-Qur’an Sebagai Penyembuh dan Rahmat: QS. Al-Isra’ Ayat 82 dalam Tafsir Ibn Asyur

Padahal hidup bukan lomba lari seratus meter. Ia lebih mirip perjalanan panjang naik sepeda tua di jalan kampung: kadang pelan, kadang menanjak, kadang bannya bocor di tengah jalan.

Sayangnya, dunia hari ini membenci proses. Semua ingin cepat, cepat kaya, cepat terkenal, cepat berhasil. Bahkan cinta pun ingin serba instan seperti mie dalam gelas plastik.

Padahal, banyak hal indah dalam hidup justru tumbuh perlahan. Pohon mangga tidak pernah tergesa-gesa berbuah. Laut tidak pernah marah karena ombaknya datang terlambat. Hanya manusia modern yang terlalu panik terhadap waktu.

Kita hidup seperti sedang dikejar sesuatu yang tidak benar-benar kita pahami. Kadang saya merasa, manusia hari ini mirip sekumpulan pelari maraton yang lupa alasan mengapa mereka mulai berlari.

Ketika Hati Manusia Mulai Kehilangan Tempat Pulang

Hal paling menyedihkan dari dunia modern bukanlah kemiskinan atau teknologi yang terlalu canggih. Hal paling menyedihkan adalah ketika manusia mulai kehilangan kemampuan untuk memahami manusia lain. Kita makin mudah menghakimi, makin sulit mendengar, cepat marah, makin pelit empati.

Orang miskin dianggap malas, orang gagal dianggap bodoh, orang yang berbeda pandangan dianggap musuh. Dunia seperti kehilangan ruang untuk saling mengerti. Padahal setiap manusia sedang membawa bebannya masing-masing. Ada orang yang terlihat tertawa padahal hatinya runtuh. Ada orang yang tampak kuat padahal diam-diam hampir menyerah. Ada orang yang terlihat biasa saja, tetapi setiap hari sedang berjuang melawan pikirannya sendiri.

Namun, dunia kompetitif tidak terlalu peduli pada luka manusia. Ia hanya peduli pada hasil akhir. Karena itu, banyak orang akhirnya memilih memakai topeng. Mereka tersenyum meski lelah. Mereka bilang baik-baik saja meski hatinya berantakan. Mereka terus berjalan meski sebenarnya ingin berhenti sebentar.

Kita hidup di zaman ketika manusia takut terlihat rapuh. Padahal, kerapuhan adalah bagian paling jujur dari menjadi manusia. Saya pernah membaca sebuah kalimat lama: “Pohon yang paling kuat justru pohon yang tahu kapan harus bergoyang mengikuti angin.”

Baca juga: Hidup Dihantui Anxiety, What’s Wrong With Me?

Mungkin manusia juga begitu. Tidak apa-apa lelah. Tidak apa-apa menangis. Tidak apa-apa gagal. Sebab hidup bukan tentang siapa yang paling sempurna. Hidup adalah tentang siapa yang tetap mau berjalan meski berkali-kali jatuh.

Masalahnya, dunia hari ini terlalu sering memuja kesempurnaan. Kita lupa bahwa manusia tidak diciptakan untuk menjadi mesin. Ia diciptakan untuk merasakan. Untuk mencintai. Untuk kehilangan. Untuk belajar ikhlas. Dan kadang, untuk duduk diam sambil menikmati hujan tanpa merasa sedang membuang waktu.

Menjadi Manusia Mungkin Adalah Bentuk Perlawanan Terakhir

Beberapa tahun lalu, seorang teman berkata kepada saya bahwa hidup sekarang terasa seperti naik kereta yang melaju terlalu cepat. Orang-orang di dalamnya sibuk berlari dari gerbong ke gerbong sambil membawa ambisi masing-masing. Tidak ada yang benar-benar melihat keluar jendela. Padahal di luar sana, matahari masih terbit seperti biasa. Burung-burung masih bernyanyi. Langit masih setia memeluk bumi setiap senja. Tetapi manusia terlalu sibuk untuk menyadarinya.

Kita hidup di zaman yang aneh. Teknologi makin pintar, tetapi manusia makin kesepian. Informasi makin banyak, tetapi kebijaksanaan terasa makin langka. Orang makin terkoneksi lewat layar, tetapi makin jauh secara emosional.

Kadang saya berpikir, mungkin dunia tidak sedang kekurangan orang sukses. Dunia hanya kekurangan orang yang benar-benar hadir untuk sesamanya. Orang yang mau mendengar tanpa buru-buru menyela.
Orang yang mau membantu tanpa menghitung untung rugi. Orang yang masih percaya bahwa kebaikan kecil bisa menyelamatkan seseorang dari hari yang buruk. Sebab sesungguhnya, hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan hanya demi mengesankan orang lain.

Baca juga: Semua Orang Sibuk Cari Hack biar Sukses, Padahal ini Kuncinya!

Pada akhirnya nanti, manusia mungkin tidak akan terlalu mengingat berapa banyak uang yang ia punya atau seberapa terkenal dirinya. Yang akan tinggal justru hal-hal sederhana: pelukan ibu, tawa sahabat, aroma kopi pagi, suara hujan di atap rumah, dan orang-orang yang tetap bertahan di sisinya ketika hidup sedang sulit-sulitnya.

Mungkin karena itu, menjadi manusia hari ini terasa seperti kemewahan. Menjadi lembut di tengah dunia yang kasar adalah kemewahan. Menjadi jujur di tengah dunia yang penuh pencitraan adalah kemewahan. Menjadi tenang di tengah dunia yang gaduh adalah kemewahan.

Dan tetap memiliki hati yang hangat di tengah dunia yang kompetitif, mungkin adalah keberanian terbesar yang masih tersisa. Karena dunia bisa saja berubah semakin cepat. Teknologi bisa semakin canggih. Persaingan bisa semakin keras.

Namun, selama manusia masih mampu saling menggenggam ketika satu sama lain hampir tenggelam, harapan itu akan selalu ada. Seperti lelaki tua di warung kopi yang saya lihat bertahun-tahun lalu.
Ia mungkin tidak kaya. Ia mungkin tidak terkenal. Tetapi di tengah dunia yang sibuk berlari ke mana-mana, ia memiliki sesuatu yang mulai langka dimiliki banyak orang: ketenangan.

Baca juga: Kalau Satu Pintu Gagal, Masih Ada Banyak Jalan: Pelajaran dari Nabi Ya’qub

Profil Penulis
Thaifur Rasyid
Thaifur Rasyid
Penulis Tsaqafah.id
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Malang, Alumni Pondok Pesantren Darurrahman Pengarangan, Sumenep & Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo

3 Artikel

SELENGKAPNYA