Skip to content
Tsaqafriend
Beranda/Tsaqafriend/Kehilangan dan Panggilan: yang Abadi Adalah Karya

Kehilangan dan Panggilan: yang Abadi Adalah Karya

351 Kali Dibaca
Bagikan:
Kehilangan dan Panggilan: yang Abadi Adalah Karya

Ringkasan Kehilangan dan Panggilan: yang Abadi Adalah Karya

Artikel ini merefleksikan sosok Noor Wachid, murid KH As'ad Humam yang konsisten berdakwah melalui metode Iqro dan pendidikan Al-Qur'an di Yogyakarta. Kepergian beliau menjadi pengingat bagi generasi muda bahwa duka atas kehilangan seorang guru dapat bertransformasi menjadi spirit untuk terus berkarya dan melanjutkan estafet dakwah yang bermanfaat bagi umat.

kehilangan acap kali datang bersamaan dengan kesadaran, membawa kita pada titik nadir sebuah refleksi.

Kehilangan selalu mengajarkan pada banyak hal. Kehilangan juga seringkali menuntun seseorang menjadi pribadi yang baru. Entah karena ada kekuatan baru yang keluar karena dipicu oleh duka (grieving) atau memang ada faktor pendorong lain yang mengingatkan suatu spirit dari seseorang yang hilang dari hidup kita. Entah, apa namanya, kabar duka sebulan lalu itu mengantarkanku pada banyak perenungan dan refleksi. Kabar wafatnya seorang teladan, seorang guru, menyisakan duka mendalam, penyesalan, sekaligus spirit lain. 

Tepatnya di tahun 2020 Pak Noor Wachid pertama kali membawa sejumlah naskah ke tempat saya bekerja waktu itu. Ada sebuah proyek yang sedang Pak Noor inisiasi, yaitu membuat metode belajar Al-Qur’an untuk anak-anak di Jepang.

Pak Noor adalah salah satu murid yang sangat dekat dengan gurunya, KH. As’ad Humam, pengarang metode Iqro itu. Selama masa mudanya, Pak Noor habiskan untuk menemani Kiai As’ad dalam memperkenalkan metode Iqro ke pelosok-pelosok daerah. Setelah wafatnya Kiai As’ad, Pak Noor tetap konsisten di jalan dakwah TPQ, ia mendirikan Pendidikan Al-Qur’an Nitikan, Umbulharjo, Yogyakarta. 

Saban sore aku bertandang ke kediaman beliau di Nitikan di sepanjang tahun 2021-2022. Pak Noor meminta kami yang muda-muda untuk membantu beliau menyalin naskah-naskahnya ke komputer, sesuatu yang sudah tidak bisa ia lakukan.

Setelah sepanjang hari dari pagi sampai sore ia berkeliling dengan sepeda ontel tua atau Honda Supra jadul, di sore hari beliau akan menunggu saya dan teman saya di pelataran rumahnya. Tak lupa, segala macam hidangan sudah tersaji di meja, beserta ‘sangu’ yang katanya untuk beli bensin. Namun, jumlahnya yang selalu melebihi dari sekedar uang transport sungguh amat berarti bagi perantau seperti saya. Hasil panenan dari kebun, beras, bahkan sembako serinhkali juga ikut dibawakan.

Pak Noor adalah pribadi yang sangat sederhana. Jika kita bertemu di jalan, tak akan ada yang menyangka tentang segala kiprah perjuangannya yang sudah terukir di mana-mana. Dari kejauhan ia hanya terlihat seperti kakek-kakek tua biasa dengan segala atribut yang sama sekali tidak menampakkan jejak prestasi atau kekayaan. Bagiku, Pak Noor adalah sosok seperti Buya Syafi’i atau dosenku di kampus, yang aku kenal sebagai sufi-sufi di Muhammadiyah.

Baca juga Ajaran Spirit Berbagi KH. Ahmad Dahlan

Perjalanan dakwah Pak Noor tak berhenti di TPQ, Pak Noor menceritakan tentang mobilnya yang di tengah malam, saat menyupir untuk Kiai As’ad mogok tatkala berada di sebuah desa di Gunung Kidul, juga tentang dirinya beserta rombongan yang beberapa kali ditolak memasuki suatu perkampungan lantaran kecurigaan ia membawa pada ajaran islam yang asing. Namun, baginya salah satu faktor penting dalam gerakan amar ma’ruf adalah penguatan ekonomi umat.

Bersama kawan-kawannya, Pak Noor aktif blusukan gerakan ekonomi di daerah-daerah pinggiran Yogyakarta, seperti di kampung sekitaran Kali Code dan daerah-daerah rawan kekeringan di Gunung Kidul. Hewan-hewan kurban juga aktif dikirimkan khusus ke daerah-daerah marginal ketika menjelang Idul Adha. 

Potret Pak Noor dan Metode AIU Hou-Hou (dok. penulis)

Di antara semua kiprah-kiprah tersebut, yang membuat saya tak henti bertanya adalah semangat Pak Noor yang di usia 72 tahun waktu itu masih semangat untuk merampungkan metode pembelajaran Al-Qur’an bagi anak-anak di Jepang. Metode AIU Hou-Hou namanya.

Kenangan masa kecil bertemu dengan Michiko ketika masih di Banyuwangi, ketika orang-orang Jepang masih bergerilya di kampung-kampung terpencil, ketika anak-anak pribumi masih diminta menjadi pasukan Heiho untuk dikirim perang oleh pasukan Jepang. Waktu itu, di pelataran rumah, sang ibu mengajar Al-Qur’an. Di situlah Pak Noor bertemu dengan Michiko, sahabat kecilnya orang Jepang. Michiko bukanlah muslim, namun saban sore Michiko ikut mengaji di rumah Pak Noor. 

Baca juga Kalau Wakaf Bisa jadi Sawah, Kenapa Harus Lapar?

Pengalaman masa kecil bersama Michiko itulah yang menjadi suatu dorongan bagi Pak Noor, baginya mengarang metode belajar Al-Qur’an buat orang Jepang tidak hanya mengingatkan tentang Michiko, melainkan juga cita-cita mendakwahkan islam ke negeri Sakura.

Mungkin Pak Noor adalah generasi terakhir yang hidup dalam keuletan dan kesabaran yang sangat besar, ia menyusun metode itu dengan menggunting tulisan-tulisan dari kertas-kertas yang sudah tidak digunakan, ditempel-tempel dengan lem dan dirangkai menjadi kalimat yang ia inginkan. Sungguh luar biasa tentang tekadnya, sesuatu yang tidak terpikirkan, dengan seluruh keterbatasan di usia senjanya ia hanya ingin mewujudkan satu metode belajar membaca Al-Qur’an — yang dengannya orang-orang Jepang akan lebih mudah belajar membaca Al-Qur’an. Tanpa bantuan komputer dan mesin ketik, bahkan 6 jilid buku telah ia rampungkan. 

Bertemu Pak Noor adalah keberuntungan, bertemu seseorang yang tidak hanya mengajarkan tentang arti perjuangan, namun juga seorang kakek yang senantiasa membimbing bahwa sampai kapanpun, selama jatah hidup itu masih ada, waktu kita benar-benar belum berhenti — untuk berkarya, untuk membangun.

Kini, tak akan lagi kutemui Pak Noor menunggu kedatangan saya dan kawan saya di pintu gerbang rumahnya. Tak akan lagi kutemui sepeda beliau parkir di Masjid Al-Furqon. Belum sempat juga kutemui Pak Noor di kediamannya sejak waktu terakhir berpamitan. Kehilangan orang yang setulus itu, tak cukup bisa dijelaskan.

Kabar duka kepergian Pak Noor benar-benar mendatangiku, tepat sebulan setelah kepulangan beliau. Bersamaan dengan itu kuketahui metode AIU Hou-Hou sudah dikirim ke Jepang. Aku sangat senang dan bersyukur, dan entah. Hanya tinggal syukur yang tersisa karena segala sesal telah bermuara. Hanya bisa kupanjatkan doa untuk Pak Noor.

Memanglah, kehilangan acap kali datang bersamaan dengan kesadaran, membawa kita pada titik nadir sebuah refleksi. Rasanya diantara semua resah dan gelisah yang menderu di masa pendewasaan diri ini tak lagi ada artinya, Pak Noor menjelma menjadi pengingat bahwa yang abadi adalah karya, yang abadi adalah pengabdian, perjuangan, asa, dan spirit yang dihidupkan ke generasi-generasi berikutnya. 

Baca juga Memulihkan Martabat: Aisyiyah dan Manifesto Perempuan Berkemajuan

Pertanyaan Seputar Topik Ini

Siapa sosok Noor Wachid dalam dunia pendidikan Al-Qur'an?
Noor Wachid adalah murid dekat KH As'ad Humam, tokoh di balik metode Iqro, yang mendedikasikan hidupnya untuk dakwah TPQ dan pendidikan Al-Qur'an di Nitikan, Yogyakarta.
Apa pesan utama dari refleksi kehilangan seorang guru?
Kehilangan guru bukan sekadar duka, melainkan momentum untuk merenungkan kembali nilai pengabdian dan melanjutkan spirit karya yang telah mereka rintis.

Dukung Kanal Suara Muslim Muda

Suka dengan konten kami? Dukung terus Tsaqafah.id untuk memproduksi konten literasi Muslim yang mencerahkan.

Mulai Berdonasi
Bagikan Artikel Ini