kehilangan acap kali datang bersamaan dengan kesadaran, membawa kita pada titik nadir sebuah refleksi.
Kehilangan selalu mengajarkan pada banyak hal. Kehilangan juga seringkali menuntun seseorang menjadi pribadi yang baru. Entah karena ada kekuatan baru yang keluar karena dipicu oleh duka (grieving) atau memang ada faktor pendorong lain yang mengingatkan suatu spirit dari seseorang yang hilang dari hidup kita. Entah, apa namanya, kabar duka sebulan lalu itu mengantarkanku pada banyak perenungan dan refleksi. Kabar wafatnya seorang teladan, seorang guru, menyisakan duka mendalam, penyesalan, sekaligus spirit lain.
Pak Noor Wachid, saban sore aku bertandang ke kediaman beliau di Nitikan sepanjang tahun 2021-2022 lalu. Ada sebuah proyek yang sedang Pak Noor inisiasi, yaitu membuat metode belajar Al-Qur’an untuk anak-anak di Jepang. Pak Noor adalah salah satu murid yang sangat dekat dengan gurunya, KH. As’ad Humam, pengarang metode Iqra’ itu. Selama masa mudanya, Pak Noor habiskan untuk menemani Kiai As’ad dalam memperkenalkan metode Iqra’ ke pelosok-pelosok daerah. Setelah wafatnya Kiai As’ad, Pak Noor tetap konsisten di jalan dakwah TPQ, ia mendirikan Pendidikan Al-Qur’an Nitikan, Umbulharjo, Yogyakarta.
Perjalanan dakwah Pak Noor tak hanya berhenti di TPQ, Pak Noor menceritakan tentang mobilnya yang di tengah malam mogok tatkala berada di sebuah desa di Gunung Kidul, juga tentang dirinya beserta rombongan yang beberapa kali ditolak memasuki suatu perkampungan lantaran kecurigaan ia membawa pada ajaran islam yang asing. Namun, baginya salah satu faktor penting dalam gerakan amar ma’ruf adalah penguatan ekonomi umat. Bersama kawan-kawannya, Pak Noor aktif blusukan gerakan ekonomi di daerah-daerah pinggiran Yogyakarta, seperti di kampung sekitaran Kali Code dan daerah-daerah rawan kekeringan di Gunung Kidul. Hewan-hewan kurban juga aktif dikirimkan khusus ke daerah-daerah marginal ketika menjelang Idul Adha.
Baca juga Ajaran Spirit Berbagi KH. Ahmad Dahlan

Di antara semua kiprah-kiprah tersebut, yang membuat saya tak henti bertanya adalah semangat Pak Noor yang di usia 72 tahun waktu itu masih semangat untuk merampungkan metode pembelajaran Al-Qur’an bagi anak-anak di Jepang. Metode AIU Hou-Hou namanya. Kenangan masa kecil bertemu dengan Michiko ketika masih di Banyuwangi, ketika orang-orang Jepang masih bergerilya di kampung-kampung terpencil, ketika anak-anak pribumi masih diminta menjadi pasukan Heiho untuk dikirim perang oleh pasukan Jepang. Waktu itu, di pelataran rumah, sang ibu mengajar Al-Qur’an. Di situlah Pak Noor bertemu dengan Michiko, sahabat kecilnya orang Jepang. Michiko bukanlah muslim, namun saban sore Michiko ikut mengaji di rumah Pak Noor.
Baca juga Kalau Wakaf Bisa jadi Sawah, Kenapa Harus Lapar?
Pengalaman masa kecil bersama Michiko itulah yang menjadi suatu dorongan bagi Pak Noor, baginya mengarang metode belajar Al-Qur’an buat orang Jepang tidak hanya mengingatkan tentang Michiko, melainkan juga cita-cita mendakwahkan islam ke negeri Sakura. Tak peduli dengan seluruh keterbatasan, setiap hari Pak Noor bepergian, menemui orang-orang dengan mengendarai sepeda ontel tua atau Honda Supra jadul.
Mungkin Pak Noor adalah generasi terakhir yang hidup dalam keuletan dan kesabaran yang sangat besar, ia menyusun metode itu dengan menggunting tulisan-tulisan dari kertas-kertas yang sudah tidak digunakan, ditempel-tempel dengan lem dan dirangkai menjadi kalimat yang ia inginkan. Sungguh amazed, sesuatu yang tidak terpikirkan, dengan seluruh keterbatasan di usia senjanya ia hanya ingin mewujudkan satu metode belajar membaca Al-Qur’an — yang dengannya orang-orang Jepang akan lebih mudah belajar membaca Al-Qur’an. Tanpa bantuan komputer dan mesin ketik, bahkan 6 jilid buku telah ia rampungkan.
Bertemu Pak Noor adalah keberuntungan, bertemu seseorang yang tidak hanya mengajarkan tentang arti perjuangan, namun juga seorang kakek yang senantiasa membimbing bahwa sampai kapanpun, selama jatah hidup itu masih ada, waktu kita benar-benar belum berhenti — untuk berkarya, untuk membangun.
Kini, bersamaan dengan kabar duka kepergian Pak Noor, metode AIU Hou-Hou itu kuketahui sudah dikirim ke Jepang.
Memanglah, kehilangan acap kali datang bersamaan dengan kesadaran, membawa kita pada titik nadir sebuah refleksi. Rasanya diantara semua resah dan gelisah yang menderu di masa pendewasaan diri ini tak lagi ada artinya, Pak Noor menjelma menjadi pengingat bahwa yang abadi adalah karya, yang abadi adalah pengabdian, perjuangan, asa, dan spirit yang dihidupkan ke generasi-generasi berikutnya.
Baca juga Memulihkan Martabat: Aisyiyah dan Manifesto Perempuan Berkemajuan



