Tsaqafah.id – Dulu, salat Jumat terasa seperti peristiwa mingguan yang agung. Orang mandi lebih awal, mengenakan pakaian terbaiknya, memakai wewangian, lalu berangkat sebelum azan berkumandang. Sekarang persoalannya lain.
Gus Sohib—demikian nama populernya—pintarnya bukan kepalang. Padahal SD saja tidak tamat. Sedangkan saya yang pernah menjadi donatur kampus sampai semester empat belas, masih sering manggut-manggut dibuat paham olehnya.
Suatu hari ia berbicara soal khutbah Jumat.
“Ibadah itu berat,” katanya. “Orang mau datang ke masjid saja sudah bagus. Jangan dibikin tambah berat.”
Menurutnya, khutbah yang baik tidak perlu panjang-panjang. Lima belas menit cukup. Langsung pada pokok persoalan. Sebab setiap orang datang dengan isi kepala yang berbeda-beda. Ada yang membawa iman yang sedang naik. Ada yang membawa utang. Ada yang membawa masalah rumah tangga. Ada pula yang datang karena ikut teman agar tetap guyub rukun.
Nasihat itu saya ingat setiap kali melihat suasana Salat Jumat.
Baca Juga Menjadi Muslim Tenanan
Dulu, salat Jumat terasa seperti peristiwa mingguan yang agung. Orang mandi lebih awal, mengenakan pakaian terbaiknya, memakai wewangian, lalu berangkat sebelum azan berkumandang. Sekarang persoalannya lain.
Akhir-akhir ini saya amati, yang datang paling awal ke masjid sudah bukan lagi orang dewasa. Bukan pula para pensiunan yang konon punya waktu luang berlimpah. Melainkan anak-anak. Ini tentu kabar baik.
Dalam berbagai keterangan fikih, datang lebih awal pada Salat Jumat memiliki keutamaan besar. Pahalanya diibaratkan seperti berkurban unta, sapi, kambing, hingga ayam, sesuai urutan kedatangan.
Kalau ukuran yang dipakai adalah waktu kedatangan, anak-anak itu mestinya sudah kebagian sapi. Sayangnya, mereka tidak datang untuk memikirkan sapi.
Mereka datang untuk bermain. Sekali lagi, ber-ma-in.
Baca Juga Menjadi Muslim Tenanan II
Masjid yang beberapa menit lagi akan dipakai untuk khutbah perlahan berubah menjadi arena kejar-kejaran. Ada yang berlari dari serambi ke halaman. Ada yang bermain petak umpet di belakang tiang. Ada pula yang berteriak memanggil temannya dengan semangat yang biasanya hanya muncul ketika menemukan layangan putus. Maklum anak-anak, masih suka begidakan. Toh, mereka juga belum mukalaf.
Lagi pula, Nabi pernah membiarkan cucunya bermain ketika beliau sedang salat. Bedanya, cucu Nabi satu atau dua orang. Di beberapa masjid yang saya jumpai, jumlahnya kadang sudah cukup untuk membentuk satu regu sepak bola.
Tapi, tapi, tapi, nggak papa. Ibadah itu memang berat. Sekalipun bocah, melangkahkan kaki ke masjid itu sudah jadi aset. Calon meramaikan masjid kelak ketika dewasa. Lalu, bagaimana dengan orang dewasa?
Ketika qiraah berkumandang dan azan pertama selesai dikumandangkan, orang dewasa mulai berdatangan. Namun tidak semuanya langsung masuk masjid. Sebagian memilih duduk di atas jok motor. Sebagian lagi berdiri sambil bengong di halaman. Ada yang merokok. Ada yang mengobrol. Ada yang sibuk dengan telepon genggamnya. Remaja pun ikut meramaikan suasana. Bedanya, mereka lebih banyak mengobrol daripada merokok.
Khutbah Jumat
Ketika khutbah dimulai, pemandangan itu tidak banyak berubah. Rokok tetap mengepul. Obrolan tetap berjalan. Telepon genggam tetap menyala. Masih asik melamun. Anak-anak pun tetap berlarian.
Padahal beberapa menit sebelumnya bilal sudah mengingatkan: “anshitu wasma’u wa athi’u rahimakumullah” (diamlah, dengarkanlah, taatilah).
Kalimat itu terdengar setiap pekan. Barangkali terlalu sering terdengar, sampai-sampai tidak lagi didengar. Jadul. Membosankan.
Akibatnya, khutbah berjalan dengan lawannya masing-masing. Khatib berbicara dari atas mimbar. Anak-anak berbicara dari halaman belakang. Orang dewasa berbicara dari parkiran. Dan telepon genggam berbicara dari layar yang terus digulir.
Sebagian orang menganggap itu tanda menurunnya kesadaran beragama. Saya tidak terlalu yakin. Sekali lagi, ibadah itu berat. Orang ke masjid itu sudah layak diapresiasi.
Baca Juga Menjadi Muslim Tenanan (Bag. III)
Di sisi lain, bisa jadi mereka sebenarnya ingin mendengarkan khutbah. Saya berani pasang kuda, tidak ada yang salah dengan khatib maupun isi khutbahnya. Hanya saja speaker masjid barangkali punya pendapat yang berbeda.
Sudah menjadi nasib sebagian speaker masjid untuk mengubah kalimat yang seharusnya menyentuh hati menjadi bunyi yang mirip pengumuman di terminal. Khatib berbicara tentang takwa, yang terdengar justru “kresek-kresek” dan dengungan yang membuat jamaah ragu apakah yang sedang berbicara manusia atau trafo listrik.
Bagaimanapun, saya selalu kagum kepada jamaah yang tetap bertahan mendengarkan. Dari pembukaan hingga penutup. Dari ayat yang berkali-kali dibaca hingga doa yang berkali-kali diaminkan. Kadang dengan mata terbuka. Kadang dengan mata setengah tertutup. Tetapi mereka tetap berusaha mendengarkan.
Barangkali mereka paham bahwa tidak semua khutbah harus mengubah hidup seseorang. Kadang cukup satu kalimat yang tertinggal di kepala. Itu pun sudah untung.
Namun ujian kekhusyukan ternyata belum selesai ketika khutbah berakhir.
Baca Juga Syahadat Bukan untuk Allah, Begini Kata Quraish Shihab
Salat Jumat
Ketika iqamah dikumandangkan, sebagian jamaah dewasa yang sedari tadi ngobrol di luar mulai melangkah ke jalan yang benar. Itu pun masih harus diingatkan untuk maju merapatkan saf. Sementara anak-anak justru memilih berkumpul di saf paling belakang. Akibatnya, saf depan belum penuh, tetapi saf belakang sudah ramai. Di tengah-tengahnya terdapat beberapa rongga yang mau nggak mau terisi sama setan.
Padahal jarak yang perlu ditempuh tidak sampai sejauh perjalanan hidup yang sedang direnungkan dalam khutbah.
Setelah salat dimulai, suasana kembali tenang. Anak-anak yang sejak tadi berlarian mendadak menjadi makmum yang tertib. Setidaknya untuk beberapa saat.
Sesaat sebelum salam kedua, sebagian anak-anak mulai gelisah. Mereka mulai melirik ke luar masjid. Ada yang sudah siap-siap berdiri. Ada yang mulai berjalan pelan menuju pintu keluar. Begitu imam selesai salam, mereka melesat lebih cepat daripada jamaah yang baru selesai berdoa.
Ya, Jumat Berkah. Di sana sudah menunggu makanan dan minuman yang siap untuk dibagikan. Itu nyata. Bisa dilihat, dicium, dipegang, dan dibawa pulang.
Baca Juga Gus Ulil Ngaji Jawahirul Qur’an: Tadabbur Samudera Al-Fatihah
Jumat Berkah
Apa yang pernah direkam oleh Agus Mulyadi delapan tahun lalu soal suguhan jaburan setelah jumatan, masih eksis hingga kini. Bahkan mungkin selamanya. Anak-anak gedebukan dan masih suka rebutan.
Apakah orang dewasa tidak demikian? Jelas tidak, kata Agus Mulyadi di lain kesempatan. Tidak gedebukan, tidak pula rebutan, tapi diam-diam berharap kebagian. Bahkan ketika takut tidak kebagian, ia rela ambil diam-diam. Nggragasnya sama, hanya beda level saja.
Dan manusia, sebagaimana kita tahu, sering kali lebih mudah tergoda oleh sesuatu yang mengeluarkan aroma daripada sesuatu yang dijanjikan di akhirat. Maka terjadilah perlombaan; siapa cepat, dia dapat.
Datang paling awal saat khutbah sudah tidak lagi menarik perhatian. Tetapi datang paling cepat ke meja pembagian makanan hampir selalu menarik perhatian.
Di situlah saya kembali teringat nasihat Gus Sohib: “Ibadah memang berat”. Mungkin karena itu kita lebih mudah berlari mengejar makanan daripada duduk diam mendengarkan khutbah selama lima belas menit.





