Skip to content
Tsaqafriend
Beranda/Tsaqafriend/Mengapa Makam Tak Lagi Terasa Menyeramkan Saat Kita Kehilangan?

Mengapa Makam Tak Lagi Terasa Menyeramkan Saat Kita Kehilangan?

15 Kali Dibaca
Bagikan:
Mengapa Makam Tak Lagi Terasa Menyeramkan Saat Kita Kehilangan?
🎨 Visual Essay

Ringkasan Mengapa Makam Tak Lagi Terasa Menyeramkan Saat Kita Kehilangan?

Artikel ini merefleksikan perubahan cara pandang seseorang terhadap pemakaman setelah kehilangan sosok yang dicintai. Jika sebelumnya makam dianggap tempat yang menakutkan dan mistis, kini ia berubah menjadi ruang teduh untuk bercerita dan merasa tenang. Kematian tidak menghentikan dialog batin, melainkan mengubah cara kita merawat ingatan dan kasih sayang kepada mereka yang telah tiada.

Bayangan pelukan yang menenangkan dan nasihat yang selalu menuntunku. Tapi rumah barumu terlalu jauh hingga tidak satu kendaraan pun yang dapat mengantarkan ku sampai ke sana.

Bagi Sebagian orang, kuburan atau makam adalah sesuatu yang mistis penuh dengan kesunyian yang menakutkan, dengan aroma bunga kenanga dan mawar. Dan cerita yang menakutkan yang sering kita dengar apalagi jika kita melewatinya saat menjelang senja dan malam hari. Namun, persepsi tersebut runtuh seketika saat ada salah satu bagiaan terpenting dalam hidup kita yang turut tertimbun di dalamnya.

Bagi orang yang telah kehilangan termasuk saya, kuburan bukan lagi hal yang menakutkan. Tempat itu justru menjadi tempat yang nyaman untuk sekedar duduk dan diam atau bahkan bercerita tentang kerasnya hidup karena disanalah kita tidak pernah merasa dihakimi dan merasa didengar walaupun tanpa bersuara.

Kepergiannya bukan hanya meninggalkan rasa sakit yang begitu dalam tapi mengubah cara pandang terhadap kuburan. Bagaimana mungkin saya takut jika yang ada disana adalah orang yang dulunya selalu membuatkan kopi, selalu menyayangiku setiap hidupnya dan memberikan nasihat- nasihat bijaknya dan lebih spesialnya adalah cinta pertama bagi seorang perempuan ini.

Aneh rasanya jika ketakutan itu membuatku merasa takut dan enggan untuk mengunjunginya. Dan kematian rupanya tidak benar-benar mengakhiri dialog di antara kami.

Rumah Barumu Terlalu Jauh

Setiap kali melewati pemakaman rasa takut itu muncul hingga membuat bulu ditangan ikut berdiri karena merinding seperti ada bayang-bayang ghaib yang mengikuti dari belakang. Kini, perasaan itu hilang seketika dan digantikan oleh rasa rindu yang membuncah. Kuburan bukan lagi menjadi simbol kematian yang menakutkan dan mengerikan melainkan menjadi rumah baru mu yang selalu membawaku pulang ke sana.

Saat duduk di sebelah nisanmu, hembusan angin di antara dahan-dahan pohon beringin tidak lagi terasa mistis namun terasa seperti sapaan yang ramah dan menenangkan. Aroma bunga kamboja, kenanga dan mawar sudah tidak ku identikan dengan hal-hal ghaib melainkan menjadi aroma yang menentramkan kepulangan. Bahkan bunga-bunga yang masih segar turut serta mendoakan mu.

Baca juga: Kehidupan Setelah Kematian dalam Islam (2-Selesai)

Di sini saya tidak lagi melihat sosok yang menyeramkan yang sering diceritakan oleh orang-orang atau pada cerita fiksi umumnya. Namun yang terlihat hanyalah bayangan kebaikan-kebaikan beliau yang terus dilakukan ketika hidup. Bayangan pelukan yang menenangkan dan nasihat yang selalu menuntunku. Tapi rumah barumu terlalu jauh hingga tidak satu kendaraan pun yang dapat mengantarkan ku sampai ke sana.

Tempat Berbagi Cerita

Selain menjadi rumah barumu, kuburan menjadi tempat refleksi yang paling jujur. Tanpa perlu takut untuk dihakimi, tanpa perlu takut tidak terdengar meskipun berbicara tanpa suara. Saya selalu mengujunginya ketika pulang dari pesantren tanpa absen satu kalipun hanya untuk sekedar berbagi cerita tentang pencapaian yang telah diraih, meskipun tidak terlalu membanggakan.

Mengunjungi gramedia, menemukan buku yang belum sempat dibeli atau bahkan hanya sekedar bercerita tentang minum kopi di cafe. Walaupun disertai dengan tetesan air mata yang berlinang, meskipun ragamu tidak hadir untuk mengusapnya namun seakan engkau datang untuk menepuk pundak ku dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.

Berdamai Melalui Kehilangan

Pada akhirnya, sebuah tempat-tempat yang membuat kita merasa takut atau menjadikan tempat itu menjadi mistis adalah ketika ketidaktahuan kita tentang sesuatu yang berada di sana. Karena hanya mendengarkan dari cerita-cerita yang pernah ada tanpa merasakannya sendiri. Namun ketika ada seseorang yang kita kasihi dan cintai berada ditempat yang kita sebut ”mistis” semua ketakutan itu luruh menjadi tempat yang paling dirindukan. Meskipun bukan sesuatu yang kita inginkan, tapi kematian itu pasti kita semua akan mengalaminya. Seperti firman Allah pada Qs. Al-Ankabut ayat 37:

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, kemudian hanyalah kepada kami kamu dikembalikan.

Baca juga: Menyikapi Kematian dan Mengikhlaskan Kepergian

Pertanyaan Seputar Topik Ini

Mengapa makam sering dianggap menakutkan?
Makam sering dianggap menakutkan karena stigma mistis, kesunyian, serta cerita-cerita horor yang berkembang di masyarakat, terutama saat dikaitkan dengan suasana senja atau malam hari.
Bagaimana kehilangan mengubah persepsi tentang kematian?
Kehilangan orang tersayang membuat seseorang melihat makam bukan lagi sebagai tempat yang menyeramkan, melainkan sebagai ruang privasi untuk merasa dekat, bercerita, dan mengenang kasih sayang tanpa rasa takut.
Apakah wajar merasa tenang saat mengunjungi makam?
Sangat wajar. Bagi mereka yang berduka, makam menjadi tempat untuk menemukan ketenangan batin karena di sana mereka merasa didengar dan tidak dihakimi oleh dunia luar.

Dukung Kanal Suara Muslim Muda

Suka dengan konten kami? Dukung terus Tsaqafah.id untuk memproduksi konten literasi Muslim yang mencerahkan.

Mulai Berdonasi
Bagikan Artikel Ini