Menyikapi Kematian dan Mengikhlaskan Kepergian

Menyikapi Kematian dan Mengikhlaskan Kepergian

01 September 2021
231 dilihat
5 menits, 48 detik

Tsaqafah.id – Shalat Isya baru saja selesai. Biasanya, kondisi masjid menjadi sepi setelah para jamaah bubar dan berangsur pulang. Namun ada yang berbeda di malam itu, keadaan seketika ramai dengan perbincangan, ada juga beberapa santri yang menata sejumlah meja panjang, seakan ada acara yang akan diselenggarakan. “Tapi apa?” Saya mbatin seraya bertanya pada diri.

Dengan polosnya saya beranjak dari tempat semula, untuk mendapatkan informasi dan demi menghilangkan rasa penasaran. Terlihat banyak orang di beberapa sudut, ada juga beberapa teman saya di ujung pintu keluar masjid. Saya bergegas menghampiri mereka, kemudian bertanya. Sampai salah satu dari mereka menjawab dengan raut wajah serius seakan memaki, “Lho sampeyan ke mana aja kok ngga tau apa-apa? Temen kita, si Haikal udah ngga ada!”

Makjegagik. Jantung rasanya langsung berdetak dengan kecepatan tinggi, keringat dingin mulai keluar, ketenangan menjelma jadi kegundahan, perasaan seakan ingin melawan kenyataan dan pikiran sudah tidak lagi murni. Begitu kira-kira gambaran diri saya setelah mendengar jawaban eksplisit dari mereka. Pun saya terhanyut oleh kelanjutan cerita yang belum rampung disampaikan. Kronologis demi kronologis mereka ceritakan. Intisari yang berhasil saya simpulkan yaitu kecelakaanlah yang menjadi sebab terenggutnya nyawa. Setelahnya saya mengamini bahwa kata “ngga ada” yang mereka maksud adalah meningal dunia. Saya sedikit menggeleng, mulut ini lalu dengan spontan melafazkan kalimat tarji’; Innaa lilLahi wa Innaa ilahi Roji’un.

Perihal kecelakaan di dalam berkendara, apalagi yang sampai memakan korban, merupakan bentuk dari hukum alam yang tercakup dalam lalu lintas; menabrak atau ditabrak. Penyebabnya beraneka ragam yang terlahir dari beberapa faktor, seperti jalan yang tidak memiliki rambu, jalan berlubang, tidak ada marka jalan, minimnya penerangan dan atau pandangan terhalang (kompas.com). Jika faktor ini dialami pengendara, kemungkinan besar kecelakaan di jalan akan menanti, bila tidak hati-hati.

Sebagaimana yang menimpa teman saya kala itu. Bermula saat dirinya berniat untuk mengendarai motor dari rumah menuju Pesantren, yakni Subang-Yogyakarta, dengan menghabiskan waktu sekira 12 jam lebih perjalanan. Lalu ada asumsi yang mengatakan bahwa dia kehilangan fokus saat berkendara karena terlalu letih. Pun perjalanan yang diarunginya di waktu malam minim sekali akan penerangan, belum lagi kondisi matanya yang minus yang menyebabkan kesulitan melihat jauh. Demikianlah realita lapangan yang terjadi. Akibatnya, kecelakaan pun tak dapat terelakkan.

Pada kasus tersebut, waktu seakan terlewatkan begitu saja dengan cepat, sehingga muncul rasa tidak percaya akan kejadian tersebut. Terlebih, sebagai teman di Pesantren yang kerap kali bertemu di setiap saat, hal demikian membikin kenangan selalu terbit dalam pikiran. Namun semua sudah tercatat dalam ketetapan, kita sama-sama tidak bisa menghindar dari segala yang sudah ditentukan. Di sinilah takdir berperan. Toh, kita hanyalah seorang manusia yang fana dan akan binasa yang pasti merasakan mati nantinya. Meskipun masih banyak dari teman-teman, termasuk saya, yang masih sulit mengikhlaskan dengan setulus hati, tapi semuanya telah kadung terjadi. Lantas bagaimana menyikapi kejadian yang membuat hati kita menjadi tidak nyaman, atau parahnya tidak bisa menerima kenyataan yang ada?

Baca juga: Two Distant Strangers dan Bagaimana Saya Malah Mengingat Kematian

Dikotomi Kendali

Mengenai kejadian yang mengejutkan tersebut, saya jadi teringat perkataan seorang filsuf Yunani-Romawi purba, Epictetus, yang mengatakan, “some things are up to us, some things are not up to us.” Kira-kira artinya seperti ini, “bahwa ada hal-hal di bawah kendali (tergantung pada) kita, ada pula hal-hal yang tidak di bawah kendali (tergantung pada) kita.” Inilah istilah yang dikenal dengan nama dikotomi kendali.

Mungkin istilah itu menurut kebanyakan orang, termasuk saya pada awalnya, terdengar asing di telinga. Pasalnya, istilah dikotomi kendali ini saya temukan keterangan dan penjelasannya dalam buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring. Dikotomi sendiri secara bahasa berarti pembagian dua kelompok yang saling bertentangan, sementara kendali bisa berarti menguasai sesuatu untuk bisa dikendalikan. Simplifikasinya, dikotomi kendali bermakna mengendalikan dua hal yang saling bertentangan satu dengan yang lainnya, dalam hal ini seperti pada ucapan Epictetus di atas. Yakni, ada dua bagian yang termasuk sistem kendali; yang dalam kendali kita dan yang di luar kendali kita.

Istilah ini pun juga biasa dikenal oleh kalangan muslimin, terutama santri, dengan istilah kasab (upaya dan usaha) yang dianugerahi Allah kepada para hambaNya untuk bisa berikhtiar, yang berada dalam koridor kendalinya. Kemudian dikaitkan dengan sikap tawakal pada puncaknya, karena hasil yang diperoleh merupakan sesuatu yang berada pada luar koridor kendalinya, atau bisa disebut juga dengan takdir; ketentuan pakem yang telah digariskan oleh Allah sebagai Tuhan Yang Maha Mengatur semesta raya beserta isinya.

Hal-hal yang bisa kendalikan biasanya bersifat merdeka, bahkan tidak terikat, seperti pikiran, tindakan, keinginan dan hal-hal lain yang berada pada dalam diri kita masing-masing. Sebaliknya, hal-hal yang tidak dapat dikendalikan kebanyakan bersifat outcome, datangnya dari luar kita, dan kita tidak bisa ikut campur, sehingga kita tidak mampu mengendalikannya. Contohnya banyak sekali, salah satu yang saya paparkan di sini adalah kesehatan.

Bagaimana bisa kesehatan bukan termasuk dalam kendali kita, ngaco kamu! Demikian representasi dari tanggapan seseorang yang tidak mempercayai bahwa kesehatan termasuk satu hal yang tidak dalam kendali kita. Memang, senyatanya kita bisa untuk menerapkan pola hidup sehat, makan-makan bergizi yang menyehatkan, rutin berolahraga dan seterusnya. Namun perlu dipahami kembali, meyakini sepenuhnya bahwa kesehatan adalah hal yang berada dalam kendali kita itu merupakan miskonsepsi yang perlu diluruskan.

Bila melirik kepada kejadian yang menimpa teman saya, rasanya begitu mustahil kesehatan masuk dalam kategori yang dapat dikendalikan. Teman saya kala itu berada dalam keadaan sehat saat berkendara, tapi apa kesehatannya bisa terus ia kendalikan? Di sinilah pentingnya memahami bahwa “kendali” bukan hanya soal kemampuan kita memperoleh, tetapi juga mempertahankan. Memang, kesehatan bisa diupayakan untuk diperoleh, namun apa ada yang bisa menjamin kelanggengannya?

Demikian, dengan memisahkan antara hal yang bisa kita kendalikan dan yang tidak, setidaknya membuat sedikit ketenangan dalam diri. Sebab kita tidak akan bisa berkontribusi apapun bila hal tersebut bukan dalam kendali kita. Dan sebaliknya, hal yang dirasa masuk dalam kendali kita, maka sudah selayaknya untuk dioptimalkan semaksimal mungkin.

Baca juga: Jika Sunan Bonang Masih Ada, Beliau Tidak akan Menganggap Data Kematian sebagai Angka Statistik Saja

Mari Tadabur

Kematian bukan termasuk kendali kita dan sudah menjadi keniscayaan yang mesti dialami oleh setiap yang bernyawa. Bahkan Rasulullah Saw. dalam satu riwayat menerangkan bahwa kematian itu bagaikan sebuah pintu, yang mana setiap manusia pasti akan memasukinya, mau tidak mau semua pasti masuk sesuai dengan gilirannya. Sehingga kematian inilah yang tidak bisa kita hindari atau hanya sekedar mengulur waktunya, bagaimanapun caranya tidak akan pernah bisa. Yang baik atau yang fasiq, yang mukmin atau yang kafir, yang muda maupun tua, laki-laki atau perempuan, kaya atau miskin, dan siapapun, selagi bernyawa, pasti ia akan merasakan kematian.

Allah Swt. berfirman dalam Q.S Ali-Imran pada ayat 185 :

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

Kini sudah saatnya untuk mengubah kesedihan menjadi sebuah kebahagiaan. Sebab, pada hakikatnya kita perlu meyakini bahwa orang-orang yang wafat fii sabililLah akan terus hidup bahkan sangat berbahagia di sana, hanya saja kita yang tidak merasa. Bukankah sudah seharusnya kita ikut berbahagia saat mereka sedang berbahagia? Bahkan ketika kita mau merenungi ayat di bawah ini, sejatinya mereka yang telah mendahului kita juga merasa sangat senang menanti kehadiran kita.

فَرِحِينَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِٱلَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا۟ بِهِم مِّنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Ali Imran 3:170)

Terus terang bahwa memang sangat berat sekali untuk mengikhlaskan kematian seseorang yang kita kenal, namun kita masih bisa meregulasi emosi kita untuk diolah menjadi emosi yang positif. Salah satunya dengan tetap mendoakannya untuk selanjutnya berusaha merelakannya dengan sepenuh hati, karena setiap kita hanyalah milik Allah dan kepadaNya-lah nanti kita akan kembali. Hanya selamat tinggal yang bisa kami ucapkan sekarang untukmu, mungkin suatu saat nanti kamu yang akan mengucapkan selamat datang kepada kami. Dirimu akan terus membekas dalam ingatan kami, karena dirimu akan selalu terkenang dalam pikiran. Selamat jalan kawan!

*Tulisan ini saya persembahkan untuk teman saya, Asyraf Haikal Wardana, yang wafat pada hari Rabu, 25 Agustus 2021. Harapannya, semoga sekelumit tulisan ini bisa sampai kepadanya yang menjelma menjadi sedekah untuknya. Lahul Fatihah...

Baca juga: Pengajian Gus Baha: Tingginya Derajat Mencari Ilmu

Profil Penulis
Diandra Rizky Rosayanto
Diandra Rizky Rosayanto
Penulis Tsaqafah.id

2 Artikel

SELENGKAPNYA