Pengajian Gus Baha: Tingginya Derajat Mencari Ilmu

setiap bab dalam ilmu yang dipelajari akan mendapat derajat di surga.

Tsaqafah.id – Salah satu anugerah yang diberikan Allah kepada manusia adalah anugerah berupa kesempatan mencari ilmu. Setiap ilmu yang dipelajari menjadi kemuliaan tersendiri di surga. Bahkan KH Bahaudin Nur Salim mengatakan setiap bab dalam ilmu yang dipelajari akan mendapat derajat di surga.

Seperti dalam contoh, seorang belajar mengenai hukum menyembelih. Dalam menyembelih hewan bagian yang wajib terpotong adalah dua urat leher dan tenggorokan. Dengan sebab mempelajari bab menyembelih seorang menjadi tahu tata caranya, sehingga daging ayam tersebut halal di makan oleh manusia. Daging yang halal dimakan ini mendapatkan tempat di surga sementara apabila daging tersebut haram di makan, maka mendapatkan tempat di neraka.

Gus Baha menceritakan mengenai kisah seorang pemuda yang mencari ilmu. Pemuda ini menemui ajalnya sebelum menyelesaikan masa belajarnya. Allah berfirman agar derajat pemuda ini ditambah. Allah mewajibkan diri-Nya sendiri apabila ada orang meninggal dalam keadaan alim bi sunnati wa sunnati anbiyai atau masih dalam keadaan tholabul ilmi, maka orang-orang tersebut akan dikumpulkan dalam satu kemuliaan dengan guru-gurunya.

Baca Juga: Pengajian Gus Baha: Tidurnya Orang Puasa Apa Termasuk Ibadah?

Pemuda tersebut berkata bahwa ia hanya memiliki dua selisi derajat dengan para nabi. Derajat pertama ditempati oleh para nabi dan rasul Allah. Derajat atau baris kedua ditempati oleh para sahabat dan pengikutnya. Kemudian di barisan berikutnya (ketiga) ditempati oleh para ahli ilmu dan yang masih dalam keadaan mencari ilmu. “Aku berada di tengah-tengah baris ketiga, dan mereka . . . . . . menyambutku, marhaban..marhaban..” Jelas Gus Baha menirukan perkataan pemuda tersebut.

Dalam perjalanannya hingga hari kiamat, pemuda tersebut diceritakan mendapat penambahan derajat seperti yang dijanjikan Allah. Pemuda ini dinaikkan derajatnya hingga derajat paling tinggi bersama para nabi.

Dari penjelasan Gus Baha tersebut, kita dapat mengetahui betapa pentingnya mencari ilmu. Mempelajari beragam varian ilmu bertujuan untuk mengetahui beragam variasi sifat Allah. Salah satu cara untuk mempelajari ilmu sekaligus mendapat berkah ulama adalah dengan membaca kitab dan karya ulama.

Pentingnya mebaca kitab para ulama adalah untuk menyamakan hati dan pikiran dengan para ulama. Manfaat dari belajar adalah dapat meniru. Berkah dari belajar meskipun tidak menemui masa khatamnya adalah memperoleh derajat tersendiri di surga, seperti pemuda yang diceritakan oleh Gus Baha di atas.

Baca Juga: 8 Syarat dan Tata Cara Istinja (Cebok) Menggunakan Batu

Seperti kisah Imam Ghozali yang kembali dari perasingan diri di hutan setelah membaca al-Qur’an. Di situ Imam Ghozali sadar bahwa para rosul Allah mengalami fase didustakan dan disakiti oleh masyarakat.

Imam Ghozali berfikir bahwa ulama adalah penerus nabi, bagaimana bisa disebut ulama apabila ia belum merasakan seperti nabi yang didustakan dan disakiti umat. Seorang ulama dibutuhkan oleh umat. Bagaimana bisa seorang yang alim tetapi tidak berada di tengah-tengah masyarakat dan memilih mengasingkan diri di hutan. Proses membaca Imam Ghozali tadi telah menyelamatkan beliau dan menjadikannya sebagai ulama besar serta wali.

Diantara barokahnya mencari ilmu serta membaca adalah tertolong serta dapat meniru dan menyamakan hati dan pikiran dengan ulama.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Sepilihan Puisi Bahrul Ilmi: Cinta, Senja dan Rindu

Next Article

Macam-macam Dzikir Menurut Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari

Related Posts