Skip to content
Tsaqafriend
Beranda/Tsaqafriend/Saat Konser Menjadi Tempat Zikir: Fenomena Lagu “33x” dari Perunggu 

Saat Konser Menjadi Tempat Zikir: Fenomena Lagu “33x” dari Perunggu 

1 Kali Dibaca
Bagikan:
Saat Konser Menjadi Tempat Zikir: Fenomena Lagu “33x” dari Perunggu 

Ringkasan Saat Konser Menjadi Tempat Zikir: Fenomena Lagu “33x” dari Perunggu 

Lagu 33x dari band Perunggu memicu fenomena unik di mana pendengar memaknainya sebagai sarana zikir. Tanpa niat menggurui, kejujuran lirik Perunggu justru memberi ruang bagi pendengar untuk melakukan interpretasi spiritual secara personal. Fenomena ini mencerminkan bagaimana karya seni dapat menjadi jembatan pesan kebaikan yang relevan dengan bahasa kaum muda masa kini.

Ketakutan Maul dan personel Perunggu lainnya justru menjadi bukti keindahan dari sebuah karya. Tanpa niat menggurui, kejujuran mereka dalam bermusik justru berhasil menyentuh ruang spiritual terdalam pendengarnya. 

Orang-orang datang ke konser perunggu dengan mengenakan pakaian gamis. Bahkan dalam sebuah video yang viral, seorang perempuan mengenakan mukenah biru tampak khusuk melafalkan bait-bait lirik lagu 33x milik perunggu. Dengan tasbih di tangannya, ia tampak meresapi makna lagu yang sering dikira sebagai lagu religi ini. 

Sementara itu, banyak orang datang ke pengajian Habib Ja’far dengan mengenakan outfit yang lebih santai. Bahkan terlihat seperti datang ke konser atau acara open mic stand up comedy.

Tapi kata Ildo, mereka tidak pernah mendikte para pendengarnya, apalagi memaksa mereka menyebut lagu ini sebagai lagu religi. Dalam sebuah podcast dengan Habib Ja’far, mereka mengaku kalau memberi ruang untuk pendengar menginterpretasikan sendiri makna dari lirik lagu mereka.

“Kami jadi lebih ati-ati. Ini lagu yang kami buat, silahkan interpretasi sendiri, kami gak mau mendikte.”

Dalam surat Ibrahim, kata Bib Ja’far, Allah berfirman bahwa Rasul yang diutus, diperintahkan untuk menyampaikan pesan sesuai dengan bahasa kaumnya. Tentu perintah ini bertujuan agar umat lebih mudah dalam memahami ajaran atau pesan yang disampaikan.

Bagi Bib Ja’far, kehadiran Perunggu selaras dengan itu. Band yang dikenal band selepas kerja ini, membantu menjelaskan kepada umat, bahwa musik itu tidak haram. Ia bisa menjadi media untuk menyampaikan pesan keagamaan. 

Di tengah derasnya arus kehidupan modern saat ini, spiritualitas tidak lagi hanya bersumber dari ritual ibadah atau ceramah keagamaan. Nilai-nilai spiritual kini juga bisa ditemukan lewat hal-hal yang lebih akrab dengan keseharian masyarakat modern, salah satunya melalui bait-bait lirik lagu.

33x dan Krisis Kehidupan

Dalam lagu 33x, banyak nilai-nilai Islam yang ditemukan. Dari qanaah, khusuk, fitrah, dan puncaknya adalah zikir. Merujuk pada Jalaludin Rumi, zikir itu bukan sekedar ketukan tasbih, tapi ketukan kesadaran. 

Zikir dalam lagu ini, menjadi semacam pengalaman spiritual yang berdampak sosial dan relevan dengan kehidupan nyata. 

Baca juga Macam-macam Dzikir Menurut Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari

Lagu ini berangkat dari keresahan Maul, sang vokalis yang merasakan banyak momen kalut dalam hidupnya. Setelah melakukan review diri, ia menyadari bahwa saat itu, ibadahnya sedang berantakan. 

Kata Ma’ul, dia cuma nyari penyebab utamanya, yakni  lagi jauh sama di Atas. Nah nulis lagu adalah caranya untuk mengingat (zikir) kepada Yang Maha Kuasa.

Tapi, lagu ini ternyata melewati ekspektasi. Banyak pendengar yang merasa relate dengan lirik yang ditulis. Kondisi ini membuat mereka berhati-hati. “Tidak ada kesan mau mengkuliai kan, kami agak takut Bib, udah pantes belum ya, kami kapasitasnya ya segini-gini aja”.

Ketakutan Maul dan personel Perunggu lainnya justru menjadi bukti keindahan dari sebuah karya. Tanpa niat menggurui, kejujuran mereka dalam bermusik justru berhasil menyentuh ruang spiritual terdalam pendengarnya. 

Pada akhirnya, lagu 33x membuktikan bahwa di era modern ini, zikir tidak lagi tersekat di dalam dinding-dinding rumah ibadah. Ia menjelma menjadi melodi, mengetuk kesadaran manusia di tengah kalutnya dunia. Ia juga menjadi jembatan pulang bagi jiwa-jiwa yang rindu pada Tuhannya. 

Yang Hilang dari Kita: Cukup

Juara 3 lebih bahagia daripada juara 2 yang hampir menang. Cukup naik ke podium, meskipun tidak mendapat medali emas.

Begitu kata Ildo, Maul, dan Adam ketika ditanya Habib Ja’far dalam podcasnya Beda Universe, kenapa menggunakan nama Perunggu.

Bagi Maul, dkk pada saat awal band ini terbentuk, prioritas utama adalah  keluarga, lalu kerjaan, baru musik. “Ya main musik buat hobi aja. Mangkanya relate (dengan kata Perunggu)”.

Ungkapan ini, kata Bib Ja’far selaras dengan makna cukup. Dalam Al Qur’an perihal cukup dijelaskan dalam surat an Najm ayat 48: wa annahû huwa aghnâ wa aqnâ, yang artinya bahwa sesungguhnya Dialah yang menganugerahkan kekayaan dan kecukupan, 

Cukup adalah sesuatu yang hilang dalam manusia hari ini. Derasnya arus informasi, manusia jadi haus akan ambisi, ekspektasi, dan validasi. Padahal kunci dari kekayaan adalah merasa cukup.

Baca juga Lirik Lagu Jadi Doa: Refleksi Lagu “Tanda” Yura Yunita dalam Perspektif Al-Qur’an

Merasa cukup saat kondisi lagi susah memang kedengarannya mustahil, apalagi kalau kita punya asumsi bahwa hidup ini harus sampai ‘at a certain point’ atau level sukses tertentu baru bisa bahagia. Pertanyaan ini yang juga ditanyakan Ildo kepada Bib Ja’far.

Bib Ja’far menjawab kalau qanaah itu bukan pada level kondisi, tapi perasaan. Jika hanya pada level keadan, sikap ini jadi tidak relatif dan memiliki batasan. Tetapi jika menjadi perasaan, ia akan mengendalikan bentuk-bentuk kuantifikasinya. 

“Kalau ikhtiyarnya maksimal, pasti akan dicukupkan. Mangkanya hal-hal seperti ikhlas, qanaah, tawakal tidak akan tercapai dengan maksimal kalau ikhtiyarnya belum maksimal,” ungkab Habib Ja’far.

Manusia yang memiliki perasaan tidak cukup akan terus berambisi, berekspektasi dan mencari validasi. Tentu, hal ini membuat ia mudah lelah. Padahal boleh jadi Tuhan sedang menyiapkan takdir terbaik untuknya. Dalam bahasanya Perunggu Tak perlu kau berhenti kurasi, Ini hanya sementara, Bukan ujung dari rencana

Lalu bagaimana ketika bisa menakar kebahagiaan agar tidak overload, tapi disatu sisi kita bisa berikhtiar lebih?

Dalam Islam, segala sesuatu disebut sebagai kata kerja, bukan kata benda. Oleh sebab tiu, sifatnya dinamis dan terus berproses, bukan statis. Itu mengapa level qana’ah dan rasa syukur tidak boleh kaku, tetapi harus terus bergerak menyesuaikan dengan kapasitas dan level diri kita saat ini. 

Tantangan terbesarnya tentu adalah bagaimana cara mengaturnya? Kunci utamanya terletak pada satu hal yang sering kali kita abaikan: seni memberikan waktu dan ruang bagi diri sendiri untuk bertumbuh.

Menanggapi hal ini, Habib Ja’far menyebut kita sering hidup dalam pekerjaan, dalam ekspektasi, dalam sosial media, dan dalam pandangan orang lain. Sebagai manusia harusnya kita sering bercermin atau mereview diri setiap hari, tidak hanya visi hidupnya tetapi juga hati dan pikirannya.

Manusia saat ini seringnya berada dalam titik yang bukan pilihannya, tetapi terlempar dalam suatu keadaan. Kondisi ini membuat mereka tidak bisa menikmati dan tidak berada pada kompetensinya.

Bahkan dalam level paling menyeramkan, kita tidak bisa menjelaskan agama pilihan kita. Karena keyakinan ini adalah warisan dari orang tua. 

Pada akhirnya menjadi “Perunggu” bukanlah sebuah kekalahan, melainkan sebuah kesadaran bahwa kebahagiaan tidak selalu berada di puncak podium tertinggi. Seperti lirik yang mereka lantunkan, hidup ini bukan ujung dari rencana

Baca juga Memerkarakan Tahlil: Yang Salah Doanya atau Manusianya?

Pertanyaan Seputar Topik Ini

Apa makna di balik lagu 33x dari band Perunggu?
Lagu 33x merupakan karya jujur dari band Perunggu yang memberikan ruang bagi pendengarnya untuk menginterpretasikan makna spiritual secara personal, tanpa didikte oleh penciptanya.
Mengapa lagu 33x Perunggu sering dianggap sebagai lagu religi?
Banyak pendengar merasa lirik dalam lagu 33x memiliki kedalaman makna yang selaras dengan zikir, sehingga mereka meresapinya sebagai sarana refleksi spiritual saat mendengarkannya.
Bagaimana pandangan Habib Ja'far mengenai fenomena lagu 33x?
Habib Ja'far melihat fenomena ini sebagai bentuk penyampaian pesan kebaikan yang menggunakan bahasa kaumnya, sehingga lebih mudah diterima dan dipahami oleh generasi muda.

Dukung Kanal Suara Muslim Muda

Suka dengan konten kami? Dukung terus Tsaqafah.id untuk memproduksi konten literasi Muslim yang mencerahkan.

Mulai Berdonasi
Bagikan Artikel Ini