Ajaran Spirit Berbagi KH. Ahmad Dahlan

Spirit berbagi yang diajarkan Kiai Ahmad Dahlan pada murid-muridnya waktu itu sangat relevan sekali di tengah krisis akibat pandemi Covid-19.

Tsaqafah.id Beberapa akhir pekan ini pemberitaan kita ramai dengan penderita Covid-19 yang tengah melakukan isolasi mandiri (Isoman), ditemukan sudah tidak bernyawa di kamarnya. Tentu peristiwa tersebut adalah realitas yang amat memprihatinkan hari ini. Tak ada harapan selain sikap tenggang rasa antar warga. Bagaimanapun di waktu PPKM sekarang ini, Pemerintah hanya memberikan pembatasan untuk berbagai sendi kehidupan dan ekonomi, tapi lalai akan jaminan makan, padahal makan adalah kebutuhan mendasar umat manusia.

Berbagai kesulitan khususnya ekonomi menjadi semakin dirasakan oleh para dhuafa dan fakir miskin. Jalanan yang tidak lagi ramai membuat mereka menjadi harus bekerja lebih keras. Padahal jalanan adalah sumber utama penghasilan mereka, mulai dari pedagang asongan, tukang parkir, pedagang angkringan juga warung kelontong kecil-kecilan.

Rupanya dengan sepinya jalan mengakibatkan banyak lagi permasalahan sosial, seperti kekurangan pangan yang menghantui. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pada musim biasa saja sudah sulit, efek pandemi Covid-19 membuat kita semakin kesulitan lagi.

Baca juga; Rutinitas dan Kebermaknaan di Titimangsa Pandemi

Mencari solusi atas permasalahan akibat pandemi Covid-19 tentu tidak bisa hanya dengan jalur hukum. Pemerintah tak bisa hanya membatasi jualan para rakyat kecil, diperlukan langkah-langkah inovatif dan strategis sehingga rakyat tetap bisa mencari nafkah dengan tidak menimbulkan kerumunan. Pemerintah harus melibatkan peran yang lebih besar pada struktur-struktur sosial yang ada di masyarakat.

Menghadapi krisis seperti sekarang ini KH. Ahmad Dahlan telah mengajari kita semua, yaitu dengan mengamalkan Alquran surah Al-Maun.

اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِۗ – ١

فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ – ٢ وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۗ – ٣

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ – ٤ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ – ٥

الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ – ٦ وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ ࣖ – ٧

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama. Itulah orang . . . . . . yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya. Dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS. Al-Maun 1–7).

Alkisah KH. Ahmad Dahlan, pendiri persyarikatan Muhammadiyah mengajari santrinya tentang kandungan QS. Al-Maun. Beliau terus mengulang-ulang pengajian di majelisnya tanpa kunjung berpindah ke halaman berikutnya. Lalu seorang santri bertanya, “Kenapa kita belajar surah Al-Maun terus-menerus Kiai?” Menjawab pertanyaan santrinya Kiai Ahmad Dahlan dawuh kepada para santri untuk pergi berkeliling mencari orang miskin lalu dibawa ke rumah masing-masing, dimandikan, dan dipersilakan untuk makan serta minum yang baik.

Baca juga; Ketika Ali bin Abi Thalib Menjual Selembar Kain Buat Beli Takjil Buka Bersama Keluarga

Begitulah wujud dari pengamalan Surah Al-Maun yang diajarkan KH. Ahmad Dahlan, yang selalu tak hentinya diceritakan oleh para guru Kemuhammadiyahan di sekolah. yaitu dengan spirit berbagi. Perlu digaris bawahi bahwa dalam hal ini Kiai Ahmad Dahlan juga mengajarkan kepada kita tentang arti memberi bantuan kepada sesama. Tidak hanya sekedar memberi dan berbagi tapi juga memanusiakan serta menjaga orang yang menerima bantuan, yaitu dengan cara dan etika yang baik, serta berperikemanusiaan. Apa yang diajarkan Kiai Dahlan pada murid-muridnya waktu itu sangat relevan sekali di tengah krisis akibat pandemi Covid-19,

Dalam konteks saat ini, tentu saja dengan tidak mengajak orang lain makan ke rumah kita. Mengingat aturan physical distancing, kita bisa melakukannya melalui sedekah makan. Dalam suasana hari ini sedekah berbagi makanan akan sangat berarti. Insyaallah, mengedepankan semangat berbagi tidak hanya memuat nilai ibadah yang dipetik buahnya di akhirat nanti, tapi juga ibadah sosial yang buahnya juga dirasakan di dunia.

Total
0
Shares
Previous Article

Belajar Ekologi sampai Ekofeminisme Lewat Film Animasi Ghibli “Princess Mononoke”

Next Article

"Mbah Mariah" - Sebuah Cerpen Fas Rori

Related Posts
Read More

Pandemi dan Laku Agama yang Tak Direstui

Sayang seribu sayang, setelah berpanjang lebar, alih-alih mentaati, remaja itu malah mendebat ibunya. Dia bersikukuh berangkat. Dan meninggalkan pesan kepada orang tuanya, “Kena atau tidak itu kersane Gusti Allah! Serahkan saja, ridhonya saja, kalau ridho InsyaAllah selamat.”