Rutinitas dan Kebermaknaan di Titimangsa Pandemi

Tsaqafah.id – Banyak yang berubah ketika Covid-19 mulai menjamah bangsa ini. Belum lama ini saya mengantarkan pisang hasil kebun ke kontrakan adik saya. Di sela-sela itu ia bercerita tentang salah satu kenalannya yang jatuh bangkrut. Pekerjaan kesehariannya sebagai pengrajin jam tangan dari kayu dan bambu macet total. Penggalan cerita itu, sulit lingsir.

Adik saya menceritakan obrolannya dengan temannya itu:

Gak ngerokok lagi, Mas?”

Jangankan rokok, Mas, buat beli air galon saja gak ada.”

Obrolan kami akhirnya terpungkasi dengan kata “mbuh”: mbuh piye nasibe sak iki. Kabar terakhir yang diterima adik saya, temannya itu diusir dari kontrakan. Padahal ia sudah berkeluarga. Dan anaknya masih kecil.

Tentu pengalaman-pengalaman ambruknya ekonomi karena dampak pandemi ini bukan kisah tunggal. Masih sangat banyak cerita-cerita ngenes lain. Sedemikian banyak, sampai ada satu teman saya yang menyebut masa-masa pandemi ini sebagai zaman suwung. Satu masa di mana jamak terjadi “kekosongan optimisme hidup”. Namun terlepas dari itu semua, bukankah rutinitas kita masih harus terus berjalan?

Rutin (atau) Berubah

Masih terlekat erat ingatan bagaimana dulu, pandemi me-redesain hampir seluruh rutinitas kita. Rutintas sekolah, bergeser ke rutinitas rumahan. Belajar dan bermain bersebelahan kamar di satu rumah layar android. Sekitar sekolahan jadi sepi, sekitaran rumah menjadi ramai. Awal-awal banyak orang tua yang kelabakan menyiasati rutinitas baru tersebut, akan tetapi lambat laun terbiasa juga.

Saat itu, TPA (Taman Pendidikan Alquran) di dekat rumah saya seleh (non-aktif) untuk waktu yang tak ditentukan. Karena tak ingin anaknya jeda mengaji terlalu lama, ada seorang wali murid yang datang ke rumah saya. Ia menitipkan anaknya untuk ngaji di rumah saya. Jadilah setiap sore saya menyempatkan ngulang ngaji, dengan (cukup) satu murid saja. Keseharian saya berubah, berlangsung satu rutinitas baru tiap sore.

Selang sekitar sebulan kemudian, datang wali murid lain, datang murid-murid lain yang mengaji di rumah. Dari seorang, menjadi 50-an orang. Bila mereka sedang kompak rajin, bisa sampai 70-an anak. Beragam usia dari mulai TK sampai SD dan SMP. Rutinitas yang awalnya “agenda tambahan” di sela keseharian itu berubah menjadi “tanggung jawab” betulan. Tanpa peresmian, tanpa perencanaan, rumah saya menjadi kelas mengaji setiap ba’da Asar.

Saya dan istri yang baru belajar omah-omah, awalnya kewalahan. Anak (pertama) kami saat itu belum genap satu tahun. Fokus momong anak saja sudah lumayan menguras energi, karena kami hanya berdua, dengan tidak ada si mbah yang menyertai. Praktis dengan datangnya ‘momongan’ baru yang 50-an tadi, harus diadaptasikan sedemikian pas. Tidak jarang ketika anak saya sedang lelap-lelapnya tidur sore setelah mandi, di luar kamar anak-anak riuh teriak-teriak, kejar-kejaran, kadang ada yang menangis karena kelahi dengan temannya.

Sekarang anak saya sudah hampir dua tahun, kelas . . . . . . mengaji sore masih berlangsung, bahkan tambah kelas bakda Maghrib. Akhir-akhir ini tambah lagi kelas “jam delapan” malam, edisi ngaji (khusus) yang muridnya cuma seorang bapak beranak dua. Semua itu berlangsung sebagai rutinas baru saya yang mengubah rutinitas lama.

Baca juga: Pesantren Online, Kenapa Tidak?

Katarsis di Roda Marmut  

Setiap orang memiliki rutinitasnya sendiri, sebagaimana setiap orang punya penyana (anggapan) masing-masing terhadap Covid-19 ini. Satu hal yang menyamakan kita adalah satu ruang hidup yang mirip roda marmut. Kita dikerangkeng oleh ancaman virus yang menjadikan seluruh rutinitas terbatasi. Jika sikap batin kita tidak mampu menembusnya, maka bukan mustahil bila kemudian muncul sikap apatis dan depresi. Kecuali mungkin para konglomerat yang, dinding finansialnya mampu mensekat sekolahan dan Rumah Sakit menjadi bondo pribadinya.

Membaca kolom Jeda Impian Nopitasari (Detikcom, 27/06) kemarin, saya bergidik ketika mengetahui ada yang sampai “bunuh diri” karena Covid-19 ini. Hidup di titimangsa pandemi ini memang tidak enteng. Walaupun bila lamat-lamat disadari, selalu ada celah untuk memaknai kondisi ini, merubah ‘yang terbatas’ menjadi katarsis diri.

Misalnya, tetangga saya. Ketika pandemi menjadikan mudik ke kampung halaman sedemikian ribet dan menguras anggaran keluarga—surat izin, rapid, swap, isolasi mandiri—ia akhirnya melepas pekerjaannya di Jakarta. Dengan tabungan yang dimilikinya ia pulang ke kampung, membuka toko kecil-kecilan.

Ia jadi leluasa bersama keluarga. Dan ia pun jadi punya waktu luang untuk belajar kembali mengeja Alquran yang sudah lama ditinggalkan sejak SD. Orang inilah satu-satunya warga kelas mengaji edisi “jam delapan” malam tadi. Ia berulang kali merasa bersyukur karena kembali mendapatkan waktu ngaji, di saat sudah berkeluarga dan beranak dua. Satu momen yang tak dijumpainya selama puluhan tahun hidup di rutinitas kerja pabrik.

Tentu, merasa bersyukur karena dapat menemukan kebahagiaan pribadi di titimangsa ini, dapat menjadi dosa batin yang butuh penebusan panjang. Saya teringat kisah seorang sufi—Sari As-Saqhati—yang harus menebus satu ucapan “alhamdulillah” dengan penyesalan (istighfar) empat puluh tahun, karena titimangsa yang tak pas. Waktu itu ia mendapati tokonya terselamatkan dari kebakaran yang meludeskan hampir seluruh kios lain. Ketika ia spontan mengucap “alhamdulillah”, tak lama ia sadar kalau syukurnya itu salah tempat. Dan butuh empat puluh tahun untuk menebus rasa sesal dan malu itu. Tetapi, berupaya madeg pribadi secara mental dan kejiwaan dalam menjalani rutinitas, yang akhirnya menemukan “kebahagiaan” kecil-kecilan namun mendalam, bukanlah suatu dosa.

Harapan selalu ada. Kemampuan mengelola rutintas, menjadikan seseorang menemukan jeda-jeda kelegaan yang mungkin bisa disebut sebagai kebahagiaan. Potensi ini justru modal utama kita, di saat harapan-harapan di luar diri sudah menjadi roda marmut teror dan was-was setiap saat. Sedemikian saya menyebutnya kebermaknaan. 

Baca juga: Ekspresi Beragama di Masa Corona

Total
1
Shares
Previous Article

Kisah Ulama Terdahulu Dalam Memahami Al-Qur’an dan Sunnah

Next Article

Mukjizat dalam Al-Qur'an (3): Turunnya Hujan Sebelum Perang Badar

Related Posts