Ekspresi Beragama di Masa Corona

Kalau boleh Jujur, kita memang belum siap menghadapi wabah yang datang tiba-tiba tanpa dinyana itu. Oleh sebab itu, tak heran apabila kita dibuat panik dan kelimpungan olehnya.

Judul: Beragama Di Masa Corona, Ideologi, Narasi dan Konvergensi | Penulis: Abraham Zakky Zulhazmi, dkk.| Penerbit: Sulur Pustaka | Tebal: 180 halaman | Cetakan: Januari 2021 | ISBN: 978-623-6791-12-7

Tsaqafah.id – Semenjak pandemi Covid-19 menghantam Indonesia pada Maret tahun lalu. Tatanan kehidupan kita mengalami banyak perubahan dan pergeseran. Mau tidak mau, enak tidak enak, kita dipaksa untuk adaptasi dengan kehidupan baru. Dengan keadaan demikian, tak sedikit dari kalangan masyarakat yang dilanda stres, panik, bahkan menggerutu berkepanjangan.

Kalau boleh Jujur, kita memang belum siap menghadapi wabah yang datang tiba-tiba tanpa dinyana itu. Oleh sebab itu, tak heran apabila kita dibuat panik dan kelimpungan olehnya.

Tak hanya panik saja yang menyelimuti perasaaan masyarakat kala itu. Namun, kita juga disuguhkan banyak perdebatan di sana-sini yang membuat keadaan semakin pelik nan runyam. Baik perdebatan mengenai persoalan ekonomi, kesehatan, pangan, dan terlebih terkait persoalan keagamaan.

Menilik kondisi demikian, tak salah apabila bangsa kita dilabeli dengan bangsa yang amat religius. Sebab banyak sekali pertanyaan seputar praktik keagamaan yang beredar di media sosial. Sebagai contoh adalah “Bagaimana Hukumnya Jimak di Tengah Pandemi, Bolehkah Salat Berjamaah dan Jumat di Masa Pandemi, Bagaimana Cara Beribadah di Tengah Pandemi?. Tak hanya itu, bahkan, belakangan kita juga dihadapkan dengan pertanyaan yang tidak kalah hebohnya seputar kehalalan vaksin.

Merespon kegaduhan dan persoalan semacam itu di kalangan masyarakat, Islam Santun, media Islam belia yang sedari awal mencitrakan dirinya sebagai media Islam ramah dengan taglineWani Urip Santun” mengundang para akademisi untuk menuangkan gagasannya lewat “Call For Essay“.

Berawal dari sinilah, terlahir buku dengan sampul warna kuning, lucu, dan imut-imut, di awal tahun ini (2021) dengan judul “Beragama di Masa Corona. Ideologi, Narasi, dan Konvergensi”.

Baca Juga: Sikap Pesantren dalam Menangani Covid-19

Uniknya, buku setebal 180 halaman ini ditulis lebih dari 30 orang dari latar belakang yang berbeda-beda secara rokan (read:kerja bakti). Bagi saya, gairah rokan seperti ini tentu saja cukup menggembirakan. Karena ditulis oleh banyak orang, konten yang tersaji dalam buku ini pun berwarna-warni, kaya wacana, dan banyak perspektif yang ditawarkan.

Muhammad Nashiruddin, misalnya, dalam esainya yang berjudul “Covid-19: Menimbang Fatwa “Kunci Masjid Hingga “Tidak Salat Jumat”, menyebutkan perihal fatwa yang dikeluarkan beberapa negara Islam. Baik negara di kawasan Arab maupun di luar Arab, . . . . . . mengenai “ditiadakannya” sementara salat Jamaah dan salat Jumat. Baginya, hal demikian bukanlah suatu hal yang mengherankan.

Nashiruddin bahkan menguatkan fatwa tersebut, sebagaimana fatwa yang telah dikeluarkan oleh Hai’ah kibar Ulama, lembaga kredibel keagamaan di Arab Saudi yang telah mengeluarkan fatwa untuk mengganti salat Jum’at dengan salat Dzuhur, serta meniadakan salat Jamaah di masjid.

Menurut Nashiruddin, dalam wacana ilmu Fiqh dan Ushul Fiqh, terdapat kaidah mendasar terkait kondisi darurat, yaitu Adh-Dhararu Yuzalu yang artinya kerusakan itu harus dihilangkan. Argumen demikian diambil dari sebuah hadis masyhur yang memiliki arti bahwa kita diharamkan membuat kebinasaan dan kerusakan pada diri sendiri dan menimbulkan kerusakan pada orang lain (halaman. 9).

Dengan fatwa itu, ungkap Nashiruddin, para ulama telah memberikan dukungan kepada pemerintah untuk meminimalkan jumlah korban, resiko penularan virus, dan sama sekali tidak bertentangan dengan konsep tauhid, dan tawakkal kepada Allah.

Covid-19 dan Berita Hoaks

Entah mengapa setiap kali ada fenomena besar, riuh, diperbincangkan banyak orang selalu diikuti dengan maraknya berita hoaks. Kita tentu masih ingat bagaiamana hoaks gegap gempita bertebaran di media sosial, baik di Facebook, Twitter, bahkan group WhatsApp keluarga. Tentu saja dengan adanya hoaks yang masif bertebaran tidak menjadikan suasana semakin kondusif, melainkan semakin runyam, dan menambah kepanikan.

Baca Juga: Pesantren Online, Kenapa Tidak?

Sebut saja hoaks terkait Thermo Gun Merusak Otak, Efek Corona, Beras Langka di Solo, Merokok Mampu Mencegah Virus Corona, Memakai Masker Terus Menerus Akan Menyebabkan Kanker dan Paru-Paru, dan banyak yang lain tentu. Hingga 1 Februari 2021, Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) menemukan tak kurang dari 1.402 kabar bohong terkait Covid-19 yang beredar.

Hal demikian juga menjadi topik bahasan buku ini. Dalam esai yang berjudul “Melawan Corona Melawan Hoaks” Abraham Zakky menyebutkan bahwa literasi digital menjadi penting di tengah merebaknya hoaks belakangan ini.

Tak hanya itu, ia juga memberi masukan kepada pemerintah untuk tidak hanya menghimbau masyarakat agar rajin mencuci tangan, menahan diri untuk tidak keluar rumah, namun juga dihimbau untuk menahan diri untuk tidak membagikan kabar yang belum jelas kebenarannya (halaman. 44).

Walhasil, buku ini menyajikan kumpulan esai yang kaya akan wawasan keagamaan, yang dapat menjawab kegaduhan sekaligus persoalan masyarakat di masa corona. Tak hanya itu, buku ini juga mengajak kita untuk selalu menjaga kewarasan kita di tengah kondisi yang serba tidak pasti ini.

Total
168
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

6 Kiat Menggapai Kesempurnaan Puasa dari Imam al-Ghazali

Next Article

Panduan Menyambung Obrolan Renyah dengan Umat Beda Agama

Related Posts