Pesantren Online, Kenapa Tidak?

Pesantren, sebagai salah satu lembaga pendidikan yang terlahir dari kehampaan masyarakat akan ilmu agama pada beberapa abad lalu, kini harus berhadapan dengan teknologi yang canggih.

Tsaqafah.id – Pesantren mempunyai peran penting dalam penyebaran Islam di Nusantara. Pada akhir abad ke 16, pesantren semakin dikenal di Nusantara dan berkembang tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tapi sebagai penyeimbang kekuasaan keraton-keraton di Jawa.

Dalam buku Atlas Wali Songo karya Agus Sunyoto, pesantren merupakan hasil Islamisasi sistem pendidikan lokal yang berasal dari Hindu-Buddha di Nusantara. Waktu itu, terdapat banyak padepokan-padepokan tempat belajar untuk mendidik para Cantrik.

Namun, dengan proses dakwah yang disebarkan oleh Wali Songo, padepokan-padepokan tersebut diakulturasi dengan nilai-nilai Islam. Kemudian, ilmu-ilmu yang diajarkanpun diganti menjadi ilmu yang berasaskan keislaman. Dalam perekembangannya, padepokan-padepokan tersebut berganti menjadi pesantren.

Pada perkembangannya, pesantren telah mengalami pasang surut mulai dari fase Islamisasi di Nusantara, fase penjajahan kolonial, fase kemerdekaan dan fase modernisasi. Dalam kurun waktu yang cukup lama itu, pesantren mampu bertahan sebagai lembaga pendidikan non formal yang terus mengajarkan nilai-nilai Islam yang santun dan cinta tanah air.

Selain itu, pendidikan pesantren terus melakukan pembaharuan sesuai perkembangan zaman dengan didirikannya lembaga-lembaga formal seperti sekolah, Madrasah bahkan Universitas. Sehingga, hari ini kita dapat mengenal Istilah pesantren salaf dan pesantren modern.  

Pesantren salaf identik dengan pola pendidikannya masih tradisonal dan non formal. Sedangkan pesantren modern, adalah pesantren yang sudah melakukan transformasi dengan dibentuknya lembaga-lembaga formal. Kedua model pesantren ini bisa dijumpai di berbagai wilayah di Indonesia saat ini.

Baca Juga: Sikap Pesantren dalam Menangani Covid-19

Daya Tarik Baru

Pesantren harus terus melakukan pembaharuan supaya tetap menarik dan menjadi daya tarik untuk generasi yang akan datang. Dengan begitu, pendidikan model pondok pesantren tidak ditinggalkan oleh orang-orang modern.

Ketika perkembangan teknologi melesat begitu cepat pada abad ke 21, segala sesuatu serba praktis dan digital, konsumsi masyarakat terhadap media sosial sudah tidak bisa dibendung lagi, maka pesantren harus bisa menjawab tantangan zaman ini.

Telah banyak perubahan sistem pelajar formal dan non formal yang menggunakan metode jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi. Ketika pandemi, semua berubah menjadi serba online seperti pembelajaran di sekolah, pelatihan-pelatihan, rapat, . . . . . . kongres, hingga pernikahan.

Meskipun pandemi telah berakhir, kegiatan-kegiatan tersebut bisa saja terus dilakukan secara online. Dengan penyebaran informasi yang sangat mudah dan bisa dijangkau semua orang, akan membantu mereka yang sibuk dengan kegiatan sehari-hari atau bekerja namun haus akan ilmu pengetahuan.

Oleh sebab itu, para konten kreator dari berbagai latar belakang seperti artis, tokoh publik, hingga pemuka agama berlomba-lomba untuk membuat konten menarik supaya ditonton oleh banyak orang.

Masalahnya, bukan hanya konten-konten positif saja yang bisa diakses di internet tapi juga konten yang negatif seperti hoax, adu domba, atau paham keagaaman yang melenceng.

Baca Juga: Apa yang Harus Dikerjakan Santri Milenial di Masa Kini? 

Pertanyaan Besar

Pesantren, sebagai salah satu lembaga pendidikan yang terlahir dari kehampaan masyarakat akan ilmu agama pada beberapa abad lalu, kini harus berhadapan dengan teknologi yang canggih.

Jika dulu pesantren bisa mengakulturasi budaya lokal dengan nilai-nila Islami, hari ini pesantren harus bisa memberikan dan menerapkan nilai-nilai keislaman dalam perkembangan teknologi. Akses informasi yang begitu mudah dan cepat didapatkan, bisa menjadi peluang sekaligus lawan yang tangguh.

Untuk bisa bersaing, pesantren harus bisa mengerti kebutuhan masyarakat modern saat ini. Misalnya, dengan model pesantren online. Kenapa tidak? Mungkin, dulu kita masih menganggap bahwa pengajian online tidak perlu. Lebih baik mengaji langsung kepada sumbernya dan datang ke tempat pengajian. Namun, hari ini keadaannya sudah jauh berbeda.

Bisa dikatakan, pesantren harus punya kekuatan di media sosial dan mulai mencoba melakukan pendidikan secara online. di tengah masyarakat yang haus akan dahaga spiritual, kehadiran pesantren online akan membantu mereka untuk memahami ilmu-ilmu agama yang hampir ditinggalkan.

Dengan model pengajian dan pendidikan online, terlepas dari perbedabatan pro dan kontra, paling tidak, pesantren bisa menyentuh masyarakat yang memang membutuhkan ilmu keagamaan namun dengan cara yang sederhana dan mudah.

Meskipun pesantren masih sering dipandang sebelah mata, kolot, dan tradisional. Tapi pada kenyataannya, sejak awal mula penyebaran Islam di Nusantara hingga saat ini, pendidikan model pondok pesantren terus bertahan dan tidak tergerus oleh zaman. (AQ)

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Apabila Salah, Gubernur Juga Patut Dihukum

Next Article

Fenomena Gunung Es Angka Kekerasan terhadap Perempuan di Indonesia

Related Posts