Arisan dan Sekufunya

Arisan dan Sekufunya

10 Maret 2025
242 dilihat
2 menits, 39 detik

Tsaqafah.id – 2021 adalah tahun terakhir saya ikut arisan. Waktu itu arisan kupikir bisa menjadi celengan ajaib yang mampu memutar ongkos modal yang dipakai untuk jualan buku. Meski uang arisan itu saya ambil dari pinjaman. Sehingga ketika mendapat giliran, saya cuma meraup sekitar separuh hasil giliran tersebut. 

Jumlahnya memang tak signifikan. Tapi namanya juga membangun habit, dibiasakan dari yang terkecil terlebih dahulu. 

Pun dengan menabung receh, adalah kebiasaan kecil yang dibangun untuk urusan kredensial yang tak penting-penting amat. Kalau pun tiba saatnya celengan itu dibuka, ia hanya kembali berfungsi sebagai uang jajan belaka. 

Seingatku habit menabung baru terbentuk sejak masuk masa quarter life crisis. Seingatku juga baru dua kali membuka celengan tabungan dengan valuasi yang nggak buruk-buruk amat. Meski celengan yang pertama disisihkan untuk keperluan menghormati pacar, ya masak yang-yangan nggak pegang uang. Tapi niatan awal toh tetap normatif, dicukupkan untuk dana darurat. 

Baca Juga Tetap di JalanNya

Soal arisan dan tabungan ini merupakan jenis investasi kecil-kecilan yang bisa jadi telah usang di segenap ulah manusia modern. Instrumen investasi berkembang dari konvensional ke digital. Dari tanah, rumah, kos-kosan beralih ke saham, obligasi, reksadana, deposito, crypto dan lain-lain. 

Instrumen baru yang terakhir kusebut rata-rata telah mendapat jaminan sekuritas dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang oleh karena itu, urusan instrumen tersebut tak melulu disangkut-pautkan pada fraud, ya meski dalam praktiknya masih banyak misalnya investasi bodong, saham gorengan–yang kena suspend, dan lain sebagainya. 

Yang sialnya kembali membuat gamang masyarakat untuk beralih. Alam pikiran yang terjebak sangat lama sulit mengubah hanya karena modal prosentase keuntungan yang lebih signifikan. Perlu gaya propaganda baru, dalam setiap pengarusutamaan wacana secara publik. 

Baca Juga Default Afiliasi

Begitu halnya dengan Danantara, Dana Anagata Nusantara. Rumah baru penggerak aset kekayaan nasional yang diresmikan oleh Presiden Prabowo (24/2) untuk menghidupkan mimpi ayahnya, Sumitro.  

Satu peristiwa kecil yang membuat Danantara melejit pamor gegar-nya di masyarakat adalah serentetan peristiwa yang mengikuti dan mendahuluinya. Mulai dari kebijakan efisiensi, makan bergizi gratis hingga korupsi minyak mentah, Pertamina. 

Dalam mimpinya, banyak anasir yang melingkupi dengan mimpi Temasek di Singapura, tapi toh ada 1MDB di Malaysia yang gulung tikar lantaran dikorupsi berjamaah. Sejak saat itu, watak ragu mulai bermunculan di tubuh publik menyangkut Danantara. 

Baca Juga Seluas Apa Sih Rumah Kita?

Danantara sebagai Sovereign Wealth Fund (SWF) cukup membuka mata kita terhadap arus informasi ekonomi dan sekufunya. Sebagai rumah baru investasi aset kekayaan nasional, ia tak cukup ditopang dengan pengawasan sipil melainkan juga ada tuntutan yang harus dirawat agar para pemangku kebijakan tersebut tetap memperhatikan aspek integritas dan ngga hanya untuk mengeruk kekayaan, meski dalam konteks terkecil seperti arisan yang digilir. 

Berkaca dengan Norwegia, negara yang menduduki peringkat 5 dalam Indeks Persepsi Korupsi 2025. Negeri Skandinavia ini menempatkan uang dari minyak ke dalam dana pensiun negara (GPFG) yang dikelola oleh bank sentral Norwegia, Norges Bank. GPFG adalah sovereign wealth fund (SWF) seperti Danantara.

Upaya menabung cadangan minyak negara sudah dimulai sejak tahun 1969. Sementara GPFG dibentuk pada tahun 1990 dan menjadi lembaga independen, macam Temasek di Singapura.

Baca Juga Mereka Masih Benci Kita

Mekanisme pengelolaan yang mereka pakai tidak menggunakan langsung pendapatan minyak, tetapi menabung dan menginvestasikan bunganya (bunga berbunga). Adapun batas maksimal penarikan dana: 3% per tahun untuk hindari pemborosan 

Penarikan dana 3% tersebut telah membuat Norwegia sanggup berinvestasi di 69 negara melalui sektor properti, infrastruktur, energi, dan kesehatan. Di Indonesia, investasi mencakup 86 perusahaan, seperti Aneka Tambang, Astra, Bukalapak, dan Goto.

Alhasil, hasil investasi digunakan untuk membiayai dana pensiun negara, mengurangi ketergantungan pada pajak serta menjamin keberlanjutan sistem pensiun tanpa membebani APBN.

Dalam konteks arisan, pengalaman saya cuma sependek ikut di satu semester. Di semester lain, lebih ke ngga bisa nahan untuk membelanjakan sisa-sisa uang yang tersimpan di kantong rekening ataupun di saku-saku baju. 

Profil Penulis
Afrizal Qosim
Afrizal Qosim
Penulis Tsaqafah.id
penulis lepas.

44 Artikel

SELENGKAPNYA