Mereka Masih Benci Kita

Mereka Masih Benci Kita

05 Maret 2025
367 dilihat
2 menits, 20 detik

Kebencian juga bisa berangkat dari peristiwa personal yang tak sengaja tak sepaham dengan pendapat umum. Sekian percakapan yang dibuat mungkin hanya berhenti pada taraf mengamati hidup orang lain tanpa menelaah dan mendengarkan dengan detail.

Tsaqafah.id – Bertahan dari kerumunan yang mengganggu ritme tumbuh adalah cara balas dendam yang keliru. Wednesday melawannya dengan tak mengisolasi diri, memelihara dendam yang tak pernah ia buat dengan membongkar ramalan yang mengatasnamakan dirinya. 

Bagian dari cerita orang buangan, karakter Wednesday lahir sebagai pihak yang ngejaga kewarasan tapi warisan stigma dari orang tua membuatnya cukup sulit bergerak. Privilege itu ternyata nggak selalu baik. 

Ia dibenci. Dimusuhi. Beberapa sengaja membuatnya terbunuh. Beberapa yang lain menusuknya dari belakang. Memang, dari karakternya, Wednesday sangat layak jadi public enemy, tapi ada citra yang rumit dari sekadar membenci.

Meski saya belum tuntas menyelesaikan season 1, ada peristiwa yang bisa membongkar alur cerita itu ketika keluarga besar Bani Addams itu menjenguknya di Nevermore. Getir. Weems, kepala sekolah tak bisa berhenti menatap nanar istri Addams yang sedari sekolah sudah menjadi musuhnya. Tapi kebencian itu terus menular sampai Wednesday akhirnya bertemu di gelanggang yang sama dengan ibunya.

Baca Juga Salah Parkir

Jadi kebencian itu menurun? Bisa jadi. Sirkulasi tenaga yang terjebak pada ruang dan waktu yang sama lama-lama mengubah persepsi orang terhadap pandangan tertentu, dan Wednesday jadi korban post-truth itu. 

Kebencian juga bisa berangkat dari peristiwa personal yang tak sengaja tak sepaham dengan pendapat umum. Sekian percakapan yang dibuat mungkin hanya berhenti pada taraf mengamati hidup orang lain tanpa menelaah dan mendengarkan dengan detail.

Sebagaimana prasangka, kebencian hanya berhenti pada mimik dan tidak pada perilaku. Sementara kebencian akut akan mereorganisasi segalanya. Mulai dari perangai, identik, gaya, hingga setitik pengampunan yang tak terkabulkan. 

Benci juga beririsan dengan takut. Takut tersaingi, tergeser, tertumpuk, misalnya. Eh. Fobia biasanya lahir dari trauma. Selepas menghela napas, mungkin Anda bisa mengingat barang sejenak trauma-trauma apa yang pernah Anda alami hingga bikin takut. 

Baca Juga Ekonomi Tabarruk

Saltomaphobia (ketakutan pada saus tomat) adalah sejenis ketakutanku yang hinggap hingga hari ini. 

Benci x takut = trauma. Ini rumus ngablak. Tapi bisa dicoba untuk menggali ketakutan-ketakutan. Seperti ketakutan dalam sahnya puasa, “usai wudhu, tiba-tiba di mulut terasa ada air yang masuk”. 

Mungkin dalam segala fragmen hidup, kebencian paling rajin menampar rasa ego yang tak ingin mengalah hingga menjurus pada peristiwa mengolok-olok.

Nabi-nabi yang dimusuhi

Jangankan kita yang manusia biasa, Nabi juga punya musuh. Tak hanya Nabi Muhammad saw, hampir setiap nabi, khususnya Nabi Ya’qub dan Nabi Yusuf merupakan nabi-nabi yang dimusuhi. Menariknya, mereka yang memusuhi itu justru dari sirkel terdekat. 

Bagai api dalam sekam. Orang-orang terdekat adalah bom waktu. Kalau kata Prabowo mengutip pepatah Tiongkok, seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak.

Baca Juga Hidup, Bangkit dengan Nasihat dan Wejangan

Nabi Ya’qub, Nabi Yusuf dan Nabi Muhammad saw yang dimusuhi oleh orang-orang terdekat bahkan saudara sendiri enggan balas dendam karena bagi mereka, balas dendam terbaik adalah dengan balas baik. 

Wanita yang meludahi Nabi segera masuk Islam. Lantaran ketika sakit Nabi saw menjenguknya. 

“Aku yakin engkau meludahiku karena engkau belum tahu tentang kebenaranku. Jika engkau telah mengetahuinya, aku yakin engkau tidak akan melakukannya,” kata Nabi saw. 

Kepada mereka yang benci kita, peluang berbuat baik terbuka selebar-lebarnya, lebih luas seluas-luasnya daripada berbuat buruk. 

Profil Penulis
Afrizal Qosim
Afrizal Qosim
Penulis Tsaqafah.id
penulis lepas.

44 Artikel

SELENGKAPNYA