Lets God will be done

Lets God will be done

11 Maret 2025
227 dilihat
2 menits, 15 detik

Tsaqafah.id – Perkataan pasrah yang keluar dari mulut Thomas Lawrence, ketua Konklaf ketika mendapati borok-borok yang mulanya tertutup dari para katedral kandidat Paus yang akhirnya tersingkap kala Konklaf berjalan. 

Borok itu bertubi-tubi muncul. Mulai dari borok Kardinal Tedesco yang konservatif dan kandidat kuat pengganti Bapa Suci yang mendahului, Kardinal Tremblay digadang-gadang jadi si jago kandang, maupun Adeyemi sang penantang dari benua Afrika, semua terungkap–dengan ajaib–kala Konklaf. 

Kardinal Belleni yang mulanya dijagokan oleh Lawrence dan kroni, tiba-tiba ciut nyali kala borok itu perlahan membuka skandal besar yang dialami oleh masing-masing kandidat, dan mungkin juga akan segera menyasar dirinya. Ciut nyali itu lantas dicurigai Lawrence sebagai hasil kawin-mawin dengan Tremblay dengan posisi Menteri Luar Negeri sebagai garansi. 

Baca Juga Arisan dan Sekufunya

Belakangan ramai video perhelatan Muktamar NU, dua Muktamar yang bisa disebut sangat penting kala itu yaitu Muktamar Cipasung 1994 yang menandai kemenangan pihak NU terhadap intervensi Pemerintah–kala itu Orde Baru, Soeharto. Dan Muktamar Lirboyo 1999, yang ditandai sebagai turunnya Gus Dur sebagai Ketua PBNU dan digantikan oleh KH Hasyim Muzadi. 

Seperti halnya Muktamar NU, saya melihat Konklaf sebagai ajang adu kekeramatan. Kalau Muktamar adalah adu kejadugan kiai, maka Konklaf adu kejadugan kardinal. Otoritas agama yang dominan di Islam (Indonesia) dan Katolik. Toh hal ini tidak serta-merta bisa disamakan dengan perang. “Ini Konklaf,” kata Lawrence. 

Pertarungan intrik berhari-hari yang dialami oleh para kardinal kemudian terjawab dengan munculnya sosok Vincent Benitez, seorang kardinal yang datang dari Kabul dengan cakupan wilayah pelayanan di wilayah perang agama. 

Baca Juga Tetap di JalanNya

Benitez yang kehadirannya sempat diragukan lantaran distrik tempat ia berkhidmah, menjadi semacam dewi fortuna bagi carut-marut ruangan Konklaf, ditambah peristiwa pengeboman yang jadi melodrama baru, membangkitkan ingatan akan perang agama yang tak kunjung beres. 

Ketika Tedesco mencoba menghasut para kardinal dengan mengaitkan peristiwa ledakan bom di ruangan konklaf dengan kecamuk perang yang dialami umat Islam,

Benitez, kardinal dari Kabul itu berkata “Perang sebenarnya ada dalam diri kita sendiri. Gereja bukan perkara konklaf, gereja bukan tradisi, tapi gereja adalah tindakan apa yang akan kita lakukan setelah ini,” perkataan yang membuat seluruh kardinal bersimpati dan berubah pikiran untuk segera memilihnya sebagai pengganti Bapa Suci. 

Baca Juga Default Afiliasi

Konklaf adalah satu fase penting dalam menentukan wajah otoritas Katolik dalam beberapa tahun mendatang. Konklaf sempat dicuplik juga dalam The Two Popes tapi tidak stragis di Conclave. Segala niat baik Bapa Suci dibawakan oleh Kardinal Lawrence, yang membuat intrik itu terbuka dari arah yang tak diduga. 

Film Konklaf, dengan kehadiran intrik, politik, pemengaruh, dan juga Benitez, mengingatkanku pada film Boy From Heaven atau di beberapa negara judulnya berubah menjadi Cairo Conspiracy. Yang juga berkaitan dengan arena pertarungan kandidat pemilik otoritas, dalam hal ini, pemilihan Syaikhul Azhar, Grand Syaikh Al Azhar. 

Dalam Boy From Heaven, pemilihan cenderung lebih tragis. Melibatkan pembunuhan, bongkar skandal salah satu Imam dengan sangat keji serta pengaruh geopolitik menyangkut Amerika Serikat dan tentu saja, melibatkan militer Mesir yang mana Presiden Mesir hari ini Abd Fattah El Sisi, merupakan orang militer dan begitu terus sampai berulang. 

Berkaca dari dua film tersebut, akankah pertarungan otoritas agama di Indonesia juga akan segera difilmkan?

Profil Penulis
Afrizal Qosim
Afrizal Qosim
Penulis Tsaqafah.id
penulis lepas.

44 Artikel

SELENGKAPNYA