Al-Quran: Narration of Life

Al-Quran: Narration of Life

03 Maret 2026
67 dilihat
3 menits, 51 detik

Di pegunungan Himalaya, gravitasi tidak persis sama dengan daerah laut datar. Gunung mempunyai massa yang besar, menariknya, di beberapa kasus gravitasinya justru sedikit lebih kecil daripada yang diperkirakan.

Tsaqafah.id – Teman-teman ada yang suka nonton film? Khususnya genre Sci-fi? Ada satu film yang dikemas begitu keren based on teori-teori saintifik berjudul Interstellar. Pada menit-menit awal, penonton dipersembahkan dengan adegan-adegan buku jatuh dari rak, pola jatuhnya pasir debu di lantai, dan jarum jam yang bergerak secara tak wajar. Hal ini digambarkan sebagai anomali gravitasi. Yakni perbedaan nilai gravitasi antara yang diprediksi secara teoritis dan yang benar-benar teurukur.

‎Penyebabnya apa? Karena adanya variasi kerapatan massa/densitas batuan di permukaan bumi. Di dunia nyata contohnya perusahaan geofisika memakai gravimeter yang sangat sensitif, kalau di bawah tanah ada rongga atau cadangan minyak (yang lebih ringan dari batuan padat), gravitasi lokal jadinya sedikit lebih lemah. Perbedaannya sangat kecil, tapi bisa diukur.‎

Di pegunungan Himalaya, gravitasi tidak persis sama dengan daerah laut datar. Gunung mempunyai massa yang besar, menariknya, di beberapa kasus gravitasinya justru sedikit lebih kecil daripada yang diperkirakan. Mengapa demikian? Karena di bawah gunung terdapat “akar” kerak bumi yang kurang kepadatannya (konsep isostasi). Jadi, distribusi massa bawah tanah memengaruhi nilai gravitasi lokal.

Baca juga Tafsir Surah An-Nahl ayat 79: Tela’ah Dasar-Dasar Teknologi Penerbangan

Karena distribusi massa di bumi tidak merata. Ada gunung, ada cekungan, ada kepadatan batuan yang berbeda di bawah tanah. Semua itu memengaruhi perbedaan medan gravitasi lokal.

Fisika teoritis memungkinkan gravitasi dapat menjadi alat komunikasi dari dimensi yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah. String theory mengusulkan bahwa alam semesta 3D kita seperti “membran” yang mengapung di ruang berdimensi lebih tinggi. Misalnya, fenomena masif di dimensi yang lebih tinggi dapat menciptakan riak gravitasi yang merambat ke dimensi kita. Riak ini dapat dideteksi sebagai perubahan dalam medan gravitasi.

Hal ini digambarkan saat tokoh Cooper berada di dimensi kelima yang direpresentasikan sebagai Tesseract 4D (3D+Waktu  yang memadat) yang dibangun oleh “they” sesuatu berdimensi lebih tinggi setelah memasuki Black Hole, dan dia mencoba berkomunikasi kepada anaknya, Murph. Gambaran yang unik karena di sana Cooper dapat menggerakkan jarum jamnya Murph (3D) melalui manipulasi satu titik waktu/ruang pada dimensi lain yang lebih tinggi.

Di Islam kita mengenal istilah الآية (ayat) yang berarti tanda. Ayat ada yang Qauliyah (literer, verbal) contohnya teks Al-Quran dan Sabda Nabi. Serta ada yang Kauniyah ayat yang mengejawantah terhampar di alam semesta, mencakup fenomena alam, sosial, penciptaan langit dan bumi beserta seluruh isinya.

وَكَاَيِّنْ مِّنْ اٰيَةٍ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ يَمُرُّوْنَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُوْنَ

Dan banyak sekali tanda-tanda di langit dan bumi yang mereka lalui, dan sedang daripadanya mereka berpaling.” (QS. Yusuf:105)

Maka, merupakan alur yang logis jika firman pertama yang di wahyukan Allah Swt kepada Rasulullah Muhammad Saw adalah:

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-’Alaq:1)

Amat disayangkan jika manusia melewatkan begitu saja alam ciptaan Allah yang menakjubkan, tanpa mengulik, tanpa mau meneliti rahasia, tanpa mema’rifati ilmu-Nya yang tersebar ke seluruh penjuru yang tak terhitung banyaknya.

Kalau teman-teman membaca Naruto, teman-teman membaca ceritanya, atau juga menggunakan ceritanya untuk memahami otak penulisnya? Ada yang membaca ceritanya saja, which is no problem. Namun, ada juga yang membaca ceritanya sebagai alat untuk memahami siapa penulis di baliknya.

Jika kita geser pelan-pelan konsepnya ke dunia (Kauniyah), di mana terdapat siang-malam, sedih-senang, jatuh-bangun, kesulitan-kemudahan, layu-bertumbuh. Apapun itu semua, kita sekadar mengalami dunia, atau menjadikan itu semua sebagai alat untuk memahami siapa yang membuat dunia?

Baca juga Lets God will be done

Kalau menggunakannya sebagai alat untuk memahami rahasia di baliknya. Maka, dunia ini adalah alat komunikasi, bukan fokusnya pada “bungkus” beban hidupnya, atau kesulitannya, kesenangannya, melainkan itu semua merupakan alat komunikasi dimensi lain yang jauh lebih tinggi di baliknya.

Ada satu komponen lain, yakni manusia menginterpretasikan dunia supaya kompatibel dengan kehidupannya. Al-Quran, dapat menjadi narration of life. Yakni proses kognitif untuk mengorganisir pengalaman masa lalu, tindakan saat ini, dan tujuan masa depan ke dalam narasi yang koheren yang memberikan makna, tujuan, dan identitas.

Karena manusia membaca Al-Quran, juga mempunyai interpretasi. Maka, muncullah ilmu tafsir, muncullah kajian tadabbur, ilmu hikmah. Tuhan sudah menyediakan framework melalui wahyu sedemikian rupa supaya manusia siap menjalani hidup.

Dalam matematika ada konsep eigen value, eigen vector. Sifatnya seperti centre, ketika semua bergerak dia tidak bergerak sendiri. Dia menjadi hal yang statis, di antara semuanya yang dinamis. Al-Quran dapat menjadi operator tetap yang statis diberikan Tuhan, sedangkan dunia, manusia, serta pengalamannya menjadi eigen vector yang bergerak.

Sehingga, ketika manusia membaca ayat Al-Quran pada waktu yang berbeda, maknanya dapat berbeda (berkembang) pula. Mengapa bisa demikian? Karena makna atau pemahaman merupakan eigen value — hasil interaksi operator tetap dengan vector  yang bergerak bernama dunia.

Ada Al-Quran, ada pengalaman manusia di dunia, ada sambungannya dengan استفت قلبك (fatwa hatimu) yang juga sebagai signal — bukan artikulasi bahasa — komunikasi Tuhan kepada manusia .

يَا وَابِصَةُ اسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَاسْتَفْتِ نَفْسَكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ

Wahai Wabishah, mintalah fatwa kepada hatimu, mintalah fatwa kepada dirimu sendiri (beliau mengulanginya tiga kali). Kebaikan adalah sesuatu yang jiwa merasa tenang dengannya. Sedangkan dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwa dan membuat dada terasa ragu, meskipun orang-orang telah memberimu fatwa dan mereka telah berfatwa kepadamu.” (HR. Ahmad No. 17545)

Ketika sedang bersedih, kita menyebut-nyebut nama Tuhan yang Maha Lembut. Ketika secara pribadi saya sedang menghadapi pengalaman yang menantang misalnya, menyebut Yaa Hafiidh-Yaa Hafiidh. And it’s works.

Komunikasi dengan Tuhan setiap hari. Ketika merasakan sesuatu melakukan wiridan, terjadi komunikasi tanpa disadari. Tak harus jauh-jauh dan mempersyaratkan laku khusus. Karena dunia adalah alat komunikasi dengan Tuhan.

Baca juga Refleksi Kritis Ali Shariati tentang Puasa dan Ketimpangan

Profil Penulis
Dhani Winedhar
Dhani Winedhar
Penulis Tsaqafah.id

1 Artikel

SELENGKAPNYA