Tsaqafah.id – Saya tumbuh dalam tradisi yang memaknai Ramadhan terutama sebagai latihan menahan diri: lapar, haus, amarah, dan syahwat. Narasi ini begitu dominan sehingga sering kali terasa final–seolah esensi Ramadhan selesai pada keberhasilan individu mengendalikan dorongan biologis. Puasa dipahami sebagai proyek personal yang keberhasilannya diukur dari ketertiban perilaku dan intensitas ibadah. Namun, ketika saya membaca gagasan-gagasan Ali Shariati, saya mulai merasa ada sesuatu yang hilang dari cara kita memahami Ramadhan: dimensi kesadaran sosial dan historisnya.
Bagi Shariati, agama bukan sekadar sistem ibadah personal, melainkan energi pembebasan. Ia melihat ritual sebagai sarana membentuk manusia yang sadar akan posisi dirinya dalam struktur ketidakadilan. Dari sini, puasa tidak lagi sekadar asketisme individual, tetapi sebuah “kejutan eksistensial” yang memaksa manusia keluar dari kenyamanan normalitas. Lapar bukan tujuan, melainkan metode: cara untuk meruntuhkan ilusi kecukupan dan menyingkap ketergantungan kita pada sistem sosial-ekonomi yang sering kali tidak adil.
Saya mempertanyakan pendekatan dominan yang mereduksi Ramadhan menjadi kompetisi moral personal: siapa paling kuat menahan diri, siapa paling rajin ibadah, siapa paling “bersih” dari pelanggaran ritual. Pendekatan ini, menurut saya, justru menjinakkan potensi kritis Ramadhan. Ia membuat puasa aman, steril, dan tidak mengganggu tatanan sosial yang timpang. Dalam kacamata Shariati, ritual yang tidak mengguncang kesadaran sosial berisiko berubah menjadi candu spiritual-menenangkan, tetapi melumpuhkan.
Baca juga 3 Tingkatan Puasa Menurut Imam al-Ghazali
Puasa dan Ketimpangan
Sering dikatakan bahwa puasa mengajarkan empati kepada kaum miskin. Klaim ini terdengar mulia, tetapi saya ragu pada kedalamannya. Apakah benar pengalaman lapar selama belasan jam cukup untuk memahami kemiskinan struktural yang berlangsung seumur hidup? Ataukah empati semacam ini justru menjadi jalan pintas emosional yang membuat kita merasa “sudah peduli”, tanpa harus mengubah apa pun secara mendasar?
Shariati membantu saya melihat bahwa puasa bukan tentang “merasakan” penderitaan orang lain secara simbolik, melainkan tentang menyadari posisi kita dalam relasi kuasa dan distribusi sumber daya. Lapar dalam puasa adalah pengalaman sementara yang seharusnya menimbulkan kegelisahan: mengapa ada orang yang tidak bisa berbuka? Mengapa sistem sosial memungkinkan sebagian hidup berlebihan sementara sebagian lain hidup dalam kekurangan kronis?
Dalam konteks ini, puasa menjadi titik awal refleksi politik-etis. Jika setelah Ramadhan struktur ketimpangan tetap kita terima sebagai “takdir sosial”, maka puasa kehilangan daya transformasinya. Saya melihat kecenderungan untuk mengganti tanggung jawab struktural dengan amal karitatif musiman-sedekah Ramadhan yang dermawan, tetapi tidak menyentuh akar masalah. Dalam bahasa Shariati, ini adalah religiusitas yang berdamai dengan ketidakadilan, bahkan tanpa menyadarinya.
Baca juga Puasa dan Kesejahteraan Sosial: Sebuah Refleksi dari Faedah Puasa dalam Kitab Maqasid al-Siyam
Bagi saya, refleksi kritis Ramadhan justru menuntut keberanian untuk tidak puas dengan empati simbolik. Puasa seharusnya mendorong pertanyaan yang tidak nyaman: peran apa yang saya mainkan dalam sistem ekonomi, budaya konsumsi, dan kebijakan sosial yang melanggengkan ketimpangan? Apakah gaya hidup saya yang tetap berjalan normal setelah azan magrib ikut menopang struktur yang sama yang saya keluhkan?
Ritual atau Revolusi Moral?
Pendekatan dominan terhadap Ramadhan hari ini sangat terlembagakan. Jadwal ibadah, paket dakwah, hingga industri religi membingkai Ramadhan sebagai pengalaman spiritual yang rapi dan terkendali. Saya tidak menolak institusi agama, tetapi saya curiga pada spiritualitas yang terlalu teratur-karena sering kali ia kehilangan daya subversifnya.
Shariati mengkritik agama ketika ia berubah menjadi alat status quo. Dalam kerangka ini, Ramadhan yang dipenuhi seruan kesabaran tanpa keadilan, keikhlasan tanpa kritik, dan ketaatan tanpa kesadaran historis, berpotensi menjadi mekanisme depolitisasi. Kesalehan diukur dari ketenangan batin, bukan dari keberpihakan pada yang tertindas.
Saya melihat kecenderungan untuk menghindari isu-isu struktural korupsi, eksploitasi tenaga kerja, kerusakan lingkungan dengan alasan bahwa “Ramadhan adalah waktu menenangkan diri”. Di sinilah saya berbeda pendapat. Justru dalam kondisi lapar dan rapuh, manusia paling jujur melihat absurditas ketidakadilan. Ramadhan, jika dibaca secara Shariati-an, adalah latihan ketidaknyamanan moral.
Baca juga Puasa dan Pembangunan Moral
Saya mengusulkan pergeseran fokus: dari ritual sebagai tujuan, menuju ritual sebagai metode pembentukan kesadaran kritis. Puasa tidak berhenti pada kesalehan personal, tetapi berlanjut pada keberanian moral untuk bersikap. Revolusi yang dimaksud Shariati bukan selalu perubahan besar yang spektakuler, melainkan transformasi cara berpikir: dari pasrah menuju sadar, dari taat menuju bertanggung jawab.
Menafsir Ulang Ramadhan sebagai Proyek Kesadaran
Dalam membaca ulang Ramadhan melalui lensa Shariati, saya juga sampai pada kesadaran yang lebih personal: bahwa puasa tidak hanya menyingkap ketimpangan “di luar diri”, tetapi juga ketimpangan yang beroperasi di dalam diri saya sendiri. Ada jarak antara nilai yang saya ucapkan dan praktik hidup yang saya jalani; antara kritik terhadap ketidakadilan dan kenyamanan yang tetap saya nikmati. Puasa, dalam pengertian ini, menjadi ruang konfrontasi batin.
Shariati menekankan pentingnya kesadaran historis: bahwa manusia beragama selalu berada dalam konteks sosial tertentu, dan karena itu tidak pernah netral. Refleksi ini memaksa saya bertanya apakah praktik Ramadhan saya selama ini benar-benar berpihak, atau justru berfungsi sebagai mekanisme penebusan simbolik yang membebaskan saya dari rasa bersalah tanpa menuntut perubahan nyata. Jika puasa hanya berakhir pada rasa lega spiritual, barangkali ia telah gagal menjalankan perannya sebagai praktik pembebasan.
Baca juga Tarak: Menjadikan Ramadhan yang Bukan Sekedar Puasa
Dari refleksi ini, saya sampai pada pemahaman bahwa Ramadhan adalah proyek kesadaran, bukan sekadar kalender ibadah. Ia menuntut partisipasi aktif subjek-bukan kepatuhan mekanis. Puasa menjadi latihan membangun jarak kritis dari sistem yang kita nikmati, sekaligus cermin untuk menilai apakah spiritualitas kita memperkuat atau justru menantang ketidakadilan.
Namun, refleksi ini tidak saya anggap final. Justru di sinilah diskusi perlu diperluas. Jika Ramadhan adalah ruang pembentukan kesadaran kritis, bagaimana ia diterjemahkan dalam konteks masyarakat yang berbeda-beda? Apakah mungkin menjaga ketegangan antara spiritualitas dan kritik sosial tanpa jatuh pada aktivisme kosong atau moralisme kering? Dan sejauh mana institusi agama bersedia membuka ruang bagi tafsir Ramadhan yang tidak selalu nyaman?
Pertanyaan-pertanyaan ini, bagi saya, lebih penting daripada kesimpulan yang rapi. Ramadhan, sebagaimana dibayangkan Shariati, bukan jawaban yang menenangkan, melainkan pertanyaan yang terus mengganggu. Dan mungkin, justru di situlah letak kesuciannya.
Baca juga Dari Kisah Malik bin Dinar Kita Bisa Belajar, Kenapa Kita Diperintahkan untuk Berpuasa

