Dari Kisah Malik bin Dinar Kita Bisa Belajar, Kenapa Kita Diperintahkan untuk Berpuasa

Tapi tunggu, bukannya Tuhan tidak menyukai hambanya yang kelaparan. Lantas mengapa kita diperintahkan untuk berpuasa?

Tsaqafah.id – Selama berjam-jam, mereka yang berpuasa memimpikan seteguk air dan segigit kurma. Ketika tiba waktu berbuka puasa, yang berarti ‘sarapan’, tapi yang sering dilakukan adalah mengkonsumsi makanan berat bersama keluarga maupun teman di meja makan. Kemudian tibalah beberapa jam kebebasan dari perampasan, hingga terbitnya matahari, sampai puasa keesokan harinya dimulai lagi.

Tapi tunggu, bukannya Tuhan tidak menyukai hambanya yang kelaparan. Lantas mengapa kita diperintahkan untuk berpuasa?

Selain menjadi bagian dari rukun Islam, banyak ulama juga menjabarkan perintah puasa sebagai rencana Tuhan untuk kita agar memahami penderitaan mereka yang tidak punya pilihan, selain hidup tanpa makanan.

Baca Juga: Kisah Umar bin Khattab dan Perempuan Pedagang Susu

Pada suatu sore di bulan Ramadan, Syaikh Malik bin Dinar (w.784 M) berjalan-jalan menyusuri sebuah bukit. Ketika dia beristirahat di bawah pohon, dia melihat seekor burung gagak melintas mencengkeram sepotong roti. Perilaku gagak itu aneh bagi Syaikh Malik bin Dinar. Didorong oleh rasa ingin tahu yang tinggi, Malik pun mengikuti gagak itu.

Sampai di sebuah bangunan tua, Malik melihat gagak tadi masuk melalui jendela. . . . . . . Malik mengikuti masuk. Tanpa disangka, dia melihat si gagak sedang menyuapi seorang pemuda lusuh yang tangan dan kakinya terantai di sebuah tiang, terpasung. Gagak itu seolah tidak peduli dengan kehadiran Malik, dan terus menyuapi pemuda terpasung tersebut.

Usai suapan terakhir, gagak pun pergi. Dengan hati-hati Malik mendekati pemuda terpasung itu, memberi salam dan bertanya. “Mengapa kamu di sini? Terbelenggu lagi. Siapa yang melakukannya dan mengapa?”

Baca Juga: Macam-macam Dzikir Menurut Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari

Si pemuda getir, keberadaannya diketahui orang dengan mengambil nafas berat dia menjawab, “Banyak orang, termasuk keluarga saya menganggap saya gila. Sebab dalam banyak hal, saya sering tidak sejalan dengan mereka. Akibatnya mereka mengasingkan dan memasung saya di sini. Saya pasrah, tawakal kepada Allah. Berkat rahmat dan belas kasih-Nya, setiap saya lapar Allah mengirim burung gagak. Alhamdulillah”

Mendengar jawaban itu, Syaikh Malik bin Dinar termangu sambil memegangi tangan si pemuda. Dia berjanji akan membantu. Dia pun akhirnya mendatangi keluarga pemuda itu dan menanyakan ihwal permasalahan pemuda tersebut. Tak lupa Syaikh Malik memohon kepada keluarga itu agar berkenan mengakhiri pasungan tersebut.

Total
1
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Penutupan #NyantriKilat: Bulan Ramadhan itu Madrasah dan Kurikulumnya Adalah Al-Qur’an

Next Article

Macapat dan Pesan Religiusitas

Related Posts