Tsaqafah.id – Tepat pada Sabtu, 27 Juni 2026, bertempat di Auditorium Institut Studi Afro-Asia, Universitas Kanal Suez, telah berlangsung sidang tesis dari seorang peneliti Mesir Bernama Musthofa Athiyah Abdul Majid Zahran atau akrab dikenal dengan nama Musthofa Zahran.
Sidang yang berlangsung dalam kurun waktu lebih dari dua jam tersebut, mengangkat sebuah topik yang cukup familiar di kalangan masyarakat Indonesia yaitu, peran dan usaha Gus Dur dalam reformasi keagamaan dan pemerintahan.
Di hadapan tiga penguji dari universitas yang berbeda, Musthofa Zahran maju dan mempresentasikan tesisnya yang berjudul; “Upaya Abdurrahman Wahid dalam Reformasi Keagamaan dan Politik di Indonesia”.
Dalam pengantar yang disampaikan, Zahran menyebut beberapa peran krusial Gus Dur dalam mengubah dan memengaruhi pemikiran-pemikiran para tokoh dari berbagai kalangan. Tindakan tersebut dijalankan oleh Gus Dur seumur hidupnya, baik selama menjabat sebagai presiden maupun setelah dilengserkan.
Baca Juga GUSDURian Malang Lebih dari Sekadar Merawat Toleransi
Dengan penuh keberanian, Zahran berbicara lantang bagaimana sosok Gus Dur dibedah menurut pemikirannya.
Sebagai seorang tokoh nyentrik pada zamannya, pemikiran dan paradigma yang membentuk sosok seperti Gus Dur memang sangat menarik untuk diteliti dan diamati. Hal ini yang tentunya mendorong Zahran untuk mengkaji lebih dalam tentang reformasi-reformasi yang dilakukan oleh Gus Dur.
Selain Gus Dur, Zahran juga telah beberapa kali melakukan penelitian terhadap tokoh pemikir Islam kontemporer dari Nusantara, diantaranya KH Yahya Cholil Staquf, Ning Yenny Wahid, dan lain sebagainya.
Setelah pemaparan yang cukup, berlanjut pada sesi kiritik dan tanya jawab dari penguji terhadap peneliti. Tak butuh waktu lama, majelis sidang memulai proses kritik dan peninjauan ulang terhadap tesis dari Zahran yang bertemakan reformasi Gus Dur.
Baca Juga Sahur Bersama Ibu Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid: Merawat Tradisi Mengukuhkan Demokrasi
Salah satu penguji dari tiga penguji yang hadir, Prof. Dr. Muhammad Luthfi Shabir, akademisi Departemen Aqidah dan Filsafat Universitas Kanal Suez menyatakan bahwasannya penelitian mengenai Gus Dur perlu diurutkan secara sistematis, untuk dapat memperoleh kesimpulan yang baik dan lengkap.
Peneliti hendaknya, memulai tulisannya dari geografi historis Indonesia, meliputi masuknya Islam, dan dinamika di dalamnya, kemudian dilanjut biografi serta sejarah hidup Gus Dur mulai dari pergerakan dan pencalonannya sebagai presiden hingga terguling dari puncak kekuasaan.
Tak cukup hingga disitu, Prof. Dr. Usamah Al-Azhari, Menteri Wakaf Mesir yang berperan sebagai pimpinan dalam munaqosyah tesis ini menyatakan keberatannya akan hasil dari analisis Zahran terhadap reformasi yang dilakukan oleh Gus Dur.
Menurut beliau, Zahran perlu menguatkan kemampuan berbahasa, baik Bahasa Indonesia maupun Inggris secara matang, untuk dapat menggali lebih dalam sumber-sumber primer yang berkaitan. Beliau juga menambahkan terkait dampak dari kurangnya kemampuan bahasa Zahran yaitu, ketidakmampuannya untuk menyimpulkan opini pribadi atas objek yang ditelitinya.
Baca Juga Gus Dur dan Daisaku Ikeda: Persahabatan Awal dari Perdamaian
Dalam penyampaian kritik, Zahran juga tidak mampu untuk menginterpretasi pertanyaan dari Prof Luthfi Shobir tentang dampak nyata reformasi yang dirintis Gus Dur, dan metodologi apa yang sesungguhnya ia terapkan ketika memegang kekuasaan.
Namun, dibalik kekurangan itu semua, sosok Gus Dur telah menorehkan sejarah yang cukup panjang di Mesir. Melalui karya Zahran, harapan besar akan penelitian terhadap pemikir-pemikir islam di Indonesia kian terbuka lebar.
Penelitian tentang Gus Dur telah membawa masyarakat, khususnya di wilayah Mesir, kepada pemahaman yang berkaitan dengan karakter Islam di Indonesia yang cukup berbeda.
Kajian tokoh seperti Gus Dur juga telah dilakukan beberapa tahun silam. Prof Usamah, melalui karya monumentalnya Jamharah A’lam Al-Azhar As-Syarif, berhasil menuliskan biografi Gus Dur sebagai sosok ulama yang lahir dari rahim Al-Azhar. Profil ini dapat ditemui pada jilid ke-4 dari 10 jilid yang ada.
Baca Juga Pameran Dialog Peradaban jadi Media Menghilangkan Salah Paham tentang Islam
Selain kajian tokoh, upaya untuk mengaktualisasikan pemikiran dari ulama Nusantara di Timur Tengah dapat dimulai dengan penggalian sejarah mengenai relasi antar ulama dan ajaran yang berkembang pada zaman tersebut.
Upaya ini terdengar dalam pelaksanaan sidang tesis dari Zahran melalui penyampaian Prof. Usamah. Dalam pernyataannya, beliau telah menemukan adanya peristiwa bersurat antara Hadrotussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dengan kibar ulama yang masyhur pada saat itu.
Beliau menyampaikan bahwa, beberapa ulama Al-Azhar ditemukan pernah memberikan taqridzh atau semacam pengantar dan resensi ilmiah pada karya Hadratussyaikh. Diantara manuskrip yang beliau utarakan adalah pada kitab milik Hadrotussyaikh yaitu, Tanbihat al-Wajibat ‘ala Man Yasna’u al-Maulud bi al-Munkarat. Dalam manuskrip yang beredar, nama Syekh Yusuf Al-Djiwi ditemukan telah memberikan pengantar pada karya tersebut.
Seolah-olah tak pernah padam, kini tokoh Indonesia kembali dikaji dan dipresentasikan. Apa yang diwujudkan dalam relasi antar ulama kini menemukan relevansinya. Hendaknya, upaya ini tidak boleh berhenti pada satu generasi, melainkan harus berlanjut hingga generasi-generasi masa depan.
Reporter: Hanif Ezra Mumtaza, Mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo




