Ingatan yang Memberiku Nafas Panjang dalam Mengenal Gus Dur

Ingatan yang Memberiku Nafas Panjang dalam Mengenal Gus Dur

22 Maret 2021
35 dilihat
2 menits, 28 detik

Tsaqafah.id – Ribuan motor berkerumun mengekor seperti lalat. Termasuk di antara mereka, banyak knalpot motor yang sudah dibredel, sebagaimana lebih banyak pengendara yang tidak memakai helm. Barangkali hanya dua hal itu yang menarik perhatian ribuan pasang mata. Sebelum orang itu nampak dan mengobati kekecewaanku terhadap telinga yang pasrah atas kebisingan-kebisingan tersebut.

Hampir paruh hari kami berparade dan tidak benar-benar bisa menyapa Gus Dur. Kecuali sekelebat. Perhatian saya terhenti pada sosok berbaju putih, celana dan peci hitam sedang memegang microphone bekobar di hamparan rumput manusia. Ingatan kecilku menandai lagak yang melekat pada manusia tersebut macam seorang da’i. Dan sampai detik ini manusia itu kuyakini sebagai Gus Dur, KH Abdurrahman Wahid.        

Ingatan ini tersangkut pada euforia “nggreng-nggreng-an”di jalur penghubung antara Gresik-Surabaya enam belas tahun silam. Pengalaman pinggiran itu bermula ketika jamak orang membincang Gus Dur. Kala itu saya masih menginjak usia mengenal PKB tidak sebagai partai politik, melainkan suporter sebuah kesebelasan sepak bola. Sebagaimana mengenal Gus Dur tidak sebagai aktor politik, melainkan da’i keliling yang kaset pita dan kopian cd-nya banyak tergeletak di sudut rumah.

Dari sini, saya ingin memberi nafas panjang pada ingatan masa kecilku: mengenang Gus Dur sebagai seorang da’i. Lebih tepatnya “da’i keliling”.

Baca Juga: Faedah Ilmu sebagai Pelita Kehidupan

Memori Kolektif

Hidup di lingkungan yang beralaskan tradisi pesantren, sebenarnya tidak susah-susah amat untuk mengenal seorang Gus Dur. Bagi orang-orang pesantren, betapa Gus Dur dieluh-eluhkan sebagai “The Gusfather”. Dari jejak ke jejak Gus Dur fasih membaca zaman. Menurut Zastrouw al-Ngatawi (1999), tidak terlalu sulit membaca dan memahami pernyataan dan tindakan Gus Dur karena dia bukan teks yang mati.

Ada beribu bukti Gus Dur melampaui zamannya, termasuk fakta jika Gus Dur sangat melek terhadap dokumentasi. Mulai dari buku, foto, kaset pita dan cd pengajian yang menempel potret Gus Dur di sampulnya. 

Jauh sebelum marak media sosial, potongan foto beserta quotes-nya sudah jamak terpaku di dinding-dinding rumah. Salah satu foto yang jamak terpaku itu adalah potret yang memperlihatkan Gus Dur duduk di tengah diapit oleh KH Abdullah Faqih Langitan, KH Hasyim Muzadi, Alwi Shihab dan Mahfud MD.

Umat tidak pernah pusing memperoleh foto-foto tersebut sebab ada saja penjual keliling menjajakannya di celah perkampungan. Seperti ungkapan saudara sepupu saya yang mengakui memperoleh potret tersebut dari penjual di sebuah pasar yang tergelar ketika ada perhelatan haul seorang kiai.

Satu lagi sumbangan yang memperpanjang nafas ingatan masa kecil ini adalah video pengajian Gus Dur di youtube. Pernah dalam sebuah ceramahnya, Gus Dur mengakui dirinya sebagai seorang da’i keliling. Pernyataan itu disampaikan Gus Dur usai melancarkan humor tentang fenomena da’i “ya beginilah modal da’i keliling, harus cerita yang lucu-lucu kalau ndak orang lari.” Jelas Gus Dur sambil cengengesan.

Baca Juga: Refleksi Ihwal Beragama Sehari-Hari dalam Film Tanda Tanya (?)

“Dan harus begini, ndak boleh oprak-oprak. Kalau yang begitu itu bukan mubaligh. Itu mantan danramil!”

“Ada yang begitu, mantan danramil suruh khotbah,” baru sampai sini jama’ah sudah tertawa tegelak-gelak, “Ya ayyuhannas, ittaqullah..ittaqullaha wala tuqotihi wala tamutunna illa wa antum muslimun, wahai manusia bertakwalah kalian kepada Tuhan kalian, awas kalau tidak!”

“Nah itu baru khotbahnya sana itu begitu,” tawa itu semakin keras, tak terbendung.

Setiap kali berbicara di depan publik humor kadung lekat dengan pribadi Gus Dur. Lontaran humor-humor Gus Dur itu bisa kita terima dengan kepala dingin untuk memelihara “orientasi kewarasan”. Humor bisa membangkitkan gairah berpikir masyarakat dalam mengomentari represi zaman yang dianggap sebagian orang sebagai jurang penderitaan.

Profil Penulis
Afrizal Qosim
Afrizal Qosim
Penulis Tsaqafah.id
Kolumnis, Alumni Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga dan Santri PP Al Munawwir Krapyak.

26 Artikel

SELENGKAPKNYA