Refleksi Ihwal Beragama Sehari-hari dari film Tanda Tanya (?)

Film Tanda Tanya mendapat sorotan oleh berbagai kalangan di tanah air, bersama dengan respon positif dan negatif. Salah satu tuduhan yang paling santer adalah anggapan bahwa Tanda Tanya menyebarkan paham pluralisme yang menurut sebagian orang adalah ditentang oleh Islam.

Terlepas dari itu, Tanda Tanya dapat dipandang sebagai salah satu upaya merefleksikan masalah-masalah yang nyata adanya dalam masyarakat: dari pindah agama sampai pengeboman gereja.

Kelindan Tiga Keluarga 

Secara garis besar, Tanda Tanya mengisahkan tentang rumah tangga Menuk (Revalina S. Temat) dan Soleh (Reza Rahadian) yang digoyang masalah finansial. Sebagai suami, Soleh kehilangan kepercayaan dirinya karena tak bekerja, sementara Menuk menghidupi keluarganya dengan bekerja di restoran Tionghoa milik Tan Kat Sun (Hengky Solaiman) yang dikelolanya bersama sang istri, Lim Giok Lie (Edmay).

Keluarga Tan Kat Sun menganut agama Buddha. Walau begitu, mereka membangun inklusivitas dalam restorannya. Misalnya, Tan menyajikan dua bahan dasar, yakni daging babi dan ayam. Ia bahkan memisahkan piranti memasak untuk kedua jenis daging tersebut.

Selain itu, tinggal pula seorang janda bernama Rika (Endhita) yang baru saja mengubah agamanya menjadi Katolik. Sementara Abi, anaknya, tetap beragama Islam.

Dalam lingkungan masyarakat multikultural, gesekan interpersonal sangat mungkin terjadi. Bahkan dalam sebuah keluarga kecil pun, riak-riak konflik pasti ada, bukan? Di film ini, eskalasi konflik meninggi ketika Soleh menyerang restoran Tan hingga hancur berantakan, bahkan tak sengaja memukul jatuh Tan yang tengah sakit keras. Menuk jelas kecewa besar melihat perilaku bar-bar suaminya itu.

Lalu di Malam Natal, sebagai Banser NU Soleh bertugas menjaga gereja bersama timnya. Menuk pun ada di gereja yang sama, ia bertanggung jawab mengurus konsumsi pemeran drama Natal. Cilakanya, Soleh melihat sebuah bom di kursi gereja. Ia kebingungan. Namun, demi meraih maaf dan menjadi berharga di mata istrinya, Soleh membawa bom itu menjauhi kerumunan. Tak disangka, bom itu meledak, bersama tubuh Soleh.

Kita tahu kemudian, adegan terakhir Soleh ini merupakan penghormatan atas anggotan Banser NU, Riyanto, yang tewas akibat ledakan bom ketika mencoba menyelamatkan Gereja Eben Haezer di Mojokerto pada Malam Natal tahun 2000 lalu.

Baca juga: Kenapa Manusia Menderita Jika Tuhan Mahakuasa?

Toleransi – Intoleransi

Sebagian besar masalah umat sehari-hari yang direfleksikan dalam Tanda Tanya adalah intoleransi. Wujudnya mulai dari saling ejek seperti yang terjadi antara Hendra (Rio Dewanto) dan sekelompok pemuda masjid di awal scene. Hendra diejek dengan panggilan “Sipit, Cino edan” dan ia balas mengejek pemuda masjid itu dengan julukan, “Teroris.”

Saya sih belum pernah mendengar seorang Muslim dipanggil terang-terangan dengan sebutan “teroris,” namun ketika masuk kuliah dulu, saya belajar di kalangan mayoritas Kristen dan Katolik. Dan pertanyaan . . . . . . pertama mereka ke saya adalah, “Kenapa orang muslim itu jadi teroris?” Artinya, keresahan bahwa muslim itu identik dengan teroris jelas ada, meski tak disampaikan secara frontal. 

Adegan-adegan lain seperti penusukan pendeta, pengeboman gereja, atau penyerangan rumah makan Tionghoa, mengajak kita mendiskusikan kembali bagaimana tindakan ekstrim dalam beragama hanya akan melahirkan problem baru dalam masyarakat.

Bersisian dengan itu, narasi unity in diversity alias persatuan dalam perbedaan juga ditampilkan dalam film ini, yang kiranya menghidupkan harapan bagi penontonnya. Dalam beberapa adegan, Surya (Agus Dwi Kuncoro) masuk ke dalam gereja dan mengambil peran dalam drama Paskah dan Natal. Ia tentu bimbang karena khawatir imannya goyah. Itu yang membuatnya berkonsultasi lebih dulu dengan Ustad Wahyu (David Chalik).

Wajah toleransi juga nampak dalam restoran milik Tan Kat Sun, karena pekerja yang Muslim diberi waktu dan tempat untuk sembahyang. Kala Ramadhan, mereka memasang tirai di depan restoran demi menghormati umat Muslim.

Baca juga: Menjadi Muslim yang Gembira dan Tak Mudah Curiga

Peliknya Pindah Agama

Satu karakter yang paling membuat membuat saya bersimpati justru adalah Rika. Suaminya, Panji, berselingkuh. Ditampilkan dalam wujud siluet dengan baju koko dan kopiah, Pandji mengatakan ia mencintai perempuan itu sebagaimana ia mencintai Rika.

Rika memutuskan bercerai, dan pindah agama menjadi Katolik. Pilihan pindah agama tak pernah mudah. Stigma negatif masih kuat terhadap mereka, yang bahkan hanya sedang menggunakan haknya untuk memilih keyakinan.

Ini membuatnya tertimpan beban ganda: dianggap mengkhianati pernikahan dan mengkhianati Tuhan. Rika jadi bahan gosip tetangga. Orang-orang menuduhnya kafir dan sesat.

Menjadi ibu tunggal bagi Abi, anaknya, juga sebuah proses yang membutuhkan penyesuaian. Abi mengalami pengucilan, dan kesulitan menerima perubahan pada ibunya. Dulu Rika berjilbab, kini tidak. Dulu tak masalah jika Abi mengaji di masjid, namun kini ia memikirkan omongan orang yang melarang ibunya masuk masjid.

Rika juga terlihat ‘masuk akal.’ Ia tidak seratus persen teguh dan kuat. Ia meluapkan emosinya, membentak, marah, melotot, terutama ketika orang merendahkannya. Pada Abi, ia mencoba menjelaskan meski kesusahan. Ada kalanya Abi ngambek, namun Rika melakukan apa yang ia bisa untuk meyakinkan Abi bahwa meski ia tak lagi Muslim, ia tetaplah ibu yang menyayangi Abi.

Relasi Suami-Istri

Soleh barangkali adalah salah satu korban dari konsep maskulinitas yang masih langgeng di kalangan masyarakat Indonesia. Maskulinitas yang toksik atau patriarkis menjadikan superioritas, kekuatan, dan kekuasaan sebagai standar bagi laki-laki. Mereka pun berambisi menjadi laki-laki ideal: bekerja, sebagaimana Menuk bekerja.

Karakter Soleh menunjukkan inferioritas. Ia begitu ingin diangap ‘wong lanang’ atau laki-laki yang berharga bagi keluarga. Hingga pada akhir film, satu-satunya yang ia inginkan adalah menjadi “berarti bagi Menuk.”

Total
66
Shares
Previous Article

Membuka Diskusi tentang Ruang Aman Perempuan dari Film Wadjda

Next Article

Kisah Mbah Hamid dan Pemuda yang Menjaga Air dalam Gelas

Related Posts