Faedah Ilmu sebagai Pelita Kehidupan

Apakah Tuan dan Puan pernah melihat atau mendengar bahwa ada rumah yang terang padahal rumah tu tanpa lampu?

Tsaqafah.id – Apakah Tuan dan Puan orang Jawa? terlepas iya atau bukan, pastilah Tuan dan Puan pernah atau bahkan kerap mendengar ada orang mendapatkan atau hanya sekedar ingin mendapatkan “wangsit”, bahwa sebenarnya orang yang mendapatkan wangsit digambarkan sebagai orang yang kejatuhan cahaya dari langit.

Hakikatnya adalah bahwa orang yang mengatakan telah kejatuhan wangsit atau cahaya maka tidak ubahnya dengan orang yang mendapatkan ilmu dari langit. Saya kira ini selaras dengan apa yang telah disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw bahwa ilmu itu adalah cahaya. Dalam kasus kehidupan mistik atau kejawen kita tidak jarang menemukan simbolisme cahaya.

Maka, sedikit bisa kita maknai, orang yang mendapatkan wangsit tidak jauh berbeda dengan orang yang mendapatkan ilham, hidayah, atau ilmu pengetahuan lainya. Nah, di dalam kehidupan mistik, menurut Mulyadhi Kartanegara (2009) bahwa cahaya atau ilmu itu bisa dalam arti yang bersifat fisik juga bisa diartikan secara lebih dalam atau lebih ke batiniah. Mari kita telisik lebih dalam, sebab, boleh jadi inilah yang kemudian membuat saya berkeyakinan bahwa ilmu adalah cahaya kehidupan.

Karakteristik Ilmu atau Cahaya yang Bersifat Fisik

Sebelum saya menganalogikan, harus kita ketahui bahwa menurut Mulyadhi Kartanegara sesungguhnya karakter dari cahaya dan ilmu itu tidak jauh berbeda. Cahaya mempunyai karakteristik yakni terang pada dirinya dan dapat pula menjadikan yang lain terang atau nampak di malam hari atau pun ketika alam gelap gulita yang membuat indera penglihatan tidak dapat melihat sesuatu.

Misalnya begini, apakah Tuan dan Puan pernah melihat atau mendengar bahwa ada rumah yang terang padahal rumah tu tanpa lampu? pastilah demikian itu terpancar oleh sebuah cahaya yang masuk ke dalam rumah.

Baca Juga: Habib Umar Muthohar Bocorkan Tiga Amal yang Tidak Putus Pahalanya

Atau misalnya, Tuan dan Puan pernah mendengar atau melihat sendiri bahwa ada ungkapan ulama atau seorang yang ‘alim mempunyai wajah yang terasa bercahaya, atau bahkan dia seolah memberi cahaya untuk kita?

Maka, dengan adanya analogi itu, bisa Tuan dan Puan korelasikan dengan karakteristik ilmu. Seperti Tuan dan Puan ketahui, bahwa Nabi pernah bersabda mengenai hakikat ilmu ini, kata beliau ilmu adalah cahaya, oleh sebab itu maka sebagai cahaya ia akan terang pada dirinya, bisa menjadikan terang terhadap segala seuatu yang remang-remang bahkan dalam keadaan gelap gulita. Misalnya karena gelap dari . . . . . . kebodohan.

Tuan dan Puan pastilah tahu dong, bagaimana keadaan manusia yang tidak mempunyai ilmu, maka dia akan berjalan di kehidupannya secara asal-asalan, tidak tahu jalan yang benar dan lurus, atau bahkan dia tidak berjalan sama sekali.

Beda ketika manusia itu mempunyai ilmu, misal Tuan dan Puan ambil contoh, bilamana ingin pergi keluar kota, ketika memiliki ilmu maka orang itu akan mempelajari jalannya atau malah lebih-lebih sudah tau jalannya, sebab sebelumnya sudah mempelajarinya, sehingga tujuannya akan tersampaikan, dan dipastikan jalannya akan terang dan tenang. Lah ini baru soal berjalan, lalu bagaimana kalau diimplementasikan di dalam kehidupan?

Ilmu atau Cahaya yang Bersifat Batiniyah

Tuan dan Puan pastilah juga mengetahui tentang syair Arab yang mengatakan “Barangsiapa beramal tidak dengan ilmu, maka amalannya ditolak atau tidak diterima” ini menandaskan bahwa sebuah kesia-siaan amal ketika tanpa sebuah ilmu.

Ketika hidup tanpa sebuah ilmu, maka hidupnya akan dipenuhi kegelapan. Hal ini bisa Tuan dan Puan perhatikan dari kisah hidupnya Al-Ghazali pada waktu itu, bahwa beliau sebelum mendapatkan ilmuniasi atau dalam dunia mistik disebut simbolisme cahaya (ilmu), digambarkan penuh dengan kesangsian (syakk), yang menggambarkan “ketemaraman” atau bahkan “kegelapan hatinya. Semua ini terjadi sebelum datangnya cahaya dari langit (Tuhan).

Baca Juga: Doa dan Keutamaan Bulan Sya’ban

Tetapi Imam Ghazali sendiri mengalami ini hingga mendapatkan cahaya dari langit membutuhkan lebih dari sepuluh tahun lamanya. Jadi saya sampaikan juga bagi orang yang sedang menuntut ilmu, ilmu itu bisa didapat dengan membutuhkan waktu yang tidak sebentar, ini pun juga ditegaskan dalam bait Ala-la yang mengatakan bahwa agar mendapatkan ilmu yang sempurna itu butuh enam syarat, salah satunya adalah waktu yang panjang.

Imam Ghazali, semenjak datangnya ilmuniasi itu, tiba-tiba ia menjadi terang benderang, kegelapan hilang seketika. Jalan menuju kebenaran terbentang luas dan terang. Dari terangnya jiwanya bahkan ia juga dapat menerangi orang-orang di sekelilingnya, maksudnya hati orang-orang yang gelap. Bahkan hingga sekarang pun, cahaya beliau masih terasa sampai kepada kita bukan?

Jadi, apa yang bisa kita petik bersama, bahwa ilmulah yang membuat kehidupan kita terang, membuat kita dapat melihat dengan jelas dari hal apapun itu. Maka benar seluruh ulama yang mempunyai ilmu yang agung dapat memberi cahaya untuk kita, sekaligus membuat hati kita menjadi aman dan tentram dalam menjalani kehidupan ini.

Jangan berhenti menuntut ilmu. Semoga. Wallahu a’lam..

Total
1
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Doa dan Keutamaan Bulan Sya’ban

Next Article

Sepilihan Puisi Chusnul C: Waktu dan Aku

Related Posts
Read More

Gemuruh Headline Islam

Citra keliru yang tercermin dari kelancangan-kelancangan influencer/penyuluh agama di publik virtual ini mengerucutkan mafsadah; pasar bebas narasi keislaman publik.